Karya : SH Mintardja

Demikianlah mereka akhirnya terlibat dalam perkelahian yang sengit. Meskipun kaki Empu Pedek itu timpang namun tandangnya bukan main. Keras dan kasar. Serangan-serangannya datang beruntun seperti ombak yang menghentak-hentak pantai. Tak henti-hentinya memukul-mukul dengan dahsyatnya. Namun Mahisa Agni pun mampu mengimbanginya dengan kelincahan dan ketangkasan yang mengagumkan. Seperti seekor burung yang bermain-main di atas ombak lautan. Sekali menukik menyentuh gelombang lautan dengan sayap-sayapnya, namun kemudian dengan tangkasnya menghindarkan diri apabila gelombang yang deras melandanya.

Mahisa Agni pernah bertempur melawan hantu padang rumput Karautan yang dengan kasar menyerangnya. Namun kekuatan mereka berbeda. Hantu padang Karautan itu sama sekali bukan seorang yang tangkas dan mampu menghindari serangan-serangan lawannya, namun tubuhnyalah yang seakan-akan menjadi kebal. Tetapi hantu kaki Gunung Semeru ini benar-benar memiliki ketangkasan dan kecepatan bergerak. Namun kekuatannya tidak sebesar hantu Karautan. Sekali-sekali apabila kekuatan mereka berbenturan, maka Empu Pedek itu pun terdorong surut meskipun Mahisa Agni pun tergetar pula. Tetapi sekali-kali Mahisa Agni mendengar orang timpang itu berdesis menahan sakit seperti dirinya yang kadang-kadang harus menyeringai oleh sengatan-sengatan tangan orang timpang itu.

Perkelahian itu semakin lama menjadi semakin dahsyat. Dalam malam yang kelam itu, keduanya seolah-olah telah menjelma menjadi bayangan-bayangan kabut yang berputar-putar karena angin pusaran. Masing-masing melihat lawannya dari arah yang membingungkan, meskipun mereka berdua kadang-kadang terpelanting pula, terbanting di atas tanah yang lembab itu.

Meskipun mereka masing-masing telah berkelahi dengan segenap tenaga, namun tak seorang pun di antara mereka yang mengalahkan lawannya. Orang timpang itu ternyata bertenaga sekuat tenaga seekor harimau belang, namun Mahisa Agni pun mampu bertempur setangguh banteng jantan.

Namun betapa pun mereka berdua memiliki tenaga yang melampaui tenaga orang kebanyakan, serta betapa mereka mampu mengungkit tenaga-tenaga cadangan yang tak dapat dilakukan oleh orang lain, namun karena mereka telah memeras diri dalam perkelahian itu, maka tenaga mereka pun semakin lama menjadi semakin susut. Tidak saja karena mereka kehilangan banyak tenaga, namun tubuh mereka pun telah menjadi merah biru dan perasaan nyeri hampir membakar segenap tulang daging mereka.

Demikianlah, maka perkelahian yang dahsyat, yang seolah-olah benturan dari dua angin pusaran yang berlawanan arah itu, semakin lama menjadi surut. Dengan sisa-sisa tenaga mereka yang terakhir mereka mencoba untuk menenangkan perkelahian itu.

“Gila!” terdengar Empu Pedek mengumpat, “kau mampu bertahan melampaui orang dari Gunung Merapi itu?”

Mahisa Agni tidak menjawab. Namun ia pun menggeram, “Bukan main. Tetapi jangan coba halangi aku.”

“Kembalilah sebelum tulang-tulangmu remuk.”

“Tulangku tak selunak lempung,” sahut Mahisa Agni.

Orang itu menggeram pula. Sekali-kali ia masih menyerang dengan gerak yang berbahaya. Namun kecepatan telah jauh berkurang, sehingga meskipun Mahisa Agni pun telah kelelahan, namun ia masih mampu untuk setiap kali menghindarinya. Bahkan Agni pun masih juga sempat membalasnya dengan serangan-serangan yang tidak kalah berbahayanya. Malahan kemudian dengan sisa-sisa tenaganya yang terakhir, Mahisa Agni masih mampu untuk mengenainya beberapa kali. Dengan sebuah sambaran kaki mendatar, Mahisa Agni berhasil menghantam lambung orang timpang itu. Empu Pedek tidak menyangka bahwa hal demikian masih bisa terjadi. Karena itu, tiba-tiba ia terdorong beberapa langkah surut.

Mahisa Agni tidak melepaskan kesempatan itu. Betapa pun kakinya terasa berat, namun dipaksanya juga ia meloncat dua loncatan, kemudian tangan kanannya terayun deras sekali mengenai dagu Empu Pedek. Terdengarlah sebuah rintihan yang patah, dan wajah itu pun terangkat dan sekali lagi sebuah sentakan tangan Agni mengenai perutnya. Kini Empu Pedek sekali lagi terdorong surut, dan kepalanya tertarik ke depan. Namun orang timpang itu tidak mau mukanya jadi hancur sama sekali. Ketika ia melihat tangan Mahisa Agni menyambar sekali lagi, orang itu sempat memiringkan kepalanya, sehingga tangan itu meluncur di samping telinganya. Demikian kerasnya Agni mengayunkan tangannya dengan sisa-sisa tenaganya maka kini ia terhuyung-huyung oleh tarikan tenaganya sendiri. Empu Pedek pun tak membiarkannya memperbaiki keseimbangannya. Sebuah pukulan menyentuh tengkuk Mahisa Agni. Tidak terlalu keras, karena tenaga orang timpang itu telah hampir habis pula, namun sentuhan itu telah cukup mendorongnya, sehingga Mahisa Agni jatuh terjerembab. Mahisa Agni yang telah kehilangan sebagian besar dari tenaganya itu, tidak mampu lagi untuk segera melenting berdiri, sehingga karena itu, maka segera ia berguling dan melihat apa yang akan dilakukan oleh Empu Pedek itu.

Empu Pedek yang melihat Agni terjerembab, dan kemudian berguling menengadah, tiba-tiba menyeringai mengerikan sambil tertawa liar. Katanya hampir berteriak, “Akhirnya aku pun berhasil membunuhmu.”

Mahisa Agni masih menyadari keadaannya sepenuhnya. Ia mendengar orang timpang itu berkata demikian. Karena itu, maka segera Agni pun mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya, dan menanti apakah yang akan dilakukan oleh Empu Pedek itu.

Ternyata Empu Pedek itu segera bersikap, kedua tangannya terjulur ke depan dengan jari-jari mengembang. Dengan dahsyatnya ia berteriak. Kemudian dengan satu loncatan panjang ia menerka m Mahisa Agni. Tetapi loncatannya telah tidak sedemikian garang. Namun Agni pun tidak setangkas semula, sehingga ia tidak mampu menghindari terkaman itu. Dengan jari-jari tangannya Empu Pedek berusaha untuk mencekik leher Mahisa Agni. Namun Mahisa Agni tidak membiarkannya kuku-kuku orang timpang itu menembus kulit lehernya. Dengan secepat yang dapat d lakukan, Agni memasukkan kedua tangannya di antara tangan-tangan Empu Pedek. Dengan satu gerak yang menyentak ia mengembangkan tangannya.

“Setan!” teriak Empu Pedek. Dengan serta-merta tangannya itu pun terlepas, sehingga hampir saja wajahnya terjerembab menghantam wajah Mahisa Agni.

Meskipun demikian, Empu Pedek tak mau melepaskan Mahisa Agni. Dengan serta-merta pula, orang timpang itu melingkarkan tangannya ke leher Agni, sehingga dengan sebuah tekanan yang kuat, leher anak muda itu terjepit di antara kedua bagian tangan lawannya. Dengan kedua tangannya Agni mencoba melepaskan jepitan itu. Namun sia-sia Bahkan terasa tangannya seakan-akan telah lenyap.

Karena itu, maka kemudian Agni pun berbuat serupa. Dilingkarkannya tangannya ke leher Empu Pedek, dan dengan sisa-sisa tenaganya, ia pun menjepit leher itu dengan kedua bagian tangannya.

Kini mereka berdua ber-guling-guling di tanah yang lembab becek itu. Tangan mereka masing-masing seakan-akan telah terkunci di leher lawan. Dengan segenap tenaga-tenaga yang dikenal sehari-hari, tenaga ungkapan dari ilmu-ilmu mereka, serta tenaga-tenaga cadangan telah mereka kerahkan. Seandainya peristiwa itu terjadi pada saat-saat mereka baru mulai, mungkin kedua-duanya tak akan mampu untuk meneruskan perkelahian itu, sebab nafas-nafas mereka akan terputus karenanya. Tetapi kini mereka telah kelelahan, sehingga tenaga mereka pun telah jauh berkurang.

Dalam keadaan yang demikian itu, dalam keadaan yang seakan-akan tak berakhir itu, Agni sempat menyentakkan tangannya. Terdengar lawannya berdesah, namun tiba-tiba lawannya itu memekik keras, dan dengan sebuah sentakan ia menggeliat, dan melepaskan diri dari jepitan tangan Agni setelah tangannya sendiri dilepaskannya.

Mahisa Agni terkejut. Ia berusaha menangkap kembali orang timpang itu, namun Empu Pedek segera berguling-guling. Mahisa Agni pun segera menggulingkan dirinya pula. Tetapi ia terlambat beberapa saat. Dengan terhuyung-huyung Empu Pedek berdiri dan dengan serta-merta ia berlari tertatih-tatih masuk ke dalam semak-semak yang rimbun.

Mahisa Agni pun segera berdiri pula. Tetapi kakinya serasa seberat timpah. Beberapa langkah ia maju mengejar Empu Pedek, tetapi ketika kakinya terperosok sebuah lekukan tanah yang kecil, ia kehilangan keseimbangan dan hampir saja ia jatuh kembali.

Namun ia masih mendengar Empu Pedek itu berkata dari balik rimbunnya daun-daun belukar, “Sekarang kau memenangkan perkelahian ini anak muda. Namun jangan mengharap kau dapat kembali. Aku akan menunggumu sampai kau turun dari gua itu.”

“Kenapa kau licik?” teriak Agni yang marah, “marilah kita selesaikan persoalan kita sekarang. Jangan besok atau lusa atau kapan pun.”

Tetapi Empu Pedek tidak menyahut. Yang terdengar kemudian adalah nafas Mahisa Agni sendiri. Terengah-engah dan serasa hampir putus di dadanya. Bahkan kembali terasa Mahisa Agni kehilangan keseimbangan. Kepalanya menjadi pening dan dunia ini seakan-akan berputar. Ternyata anak muda itu telah memeras habis segenap tenaganya, sehingga ia hampir-hampir menjadi pingsan karenanya.

Mahisa Agni menyadari keadaannya. Segera ia duduk di atas tanah yang becek di samping bungkusannya. Dipejamkannya matanya, dan dipusatkannya kekuatan batinnya untuk menemukan kembali setiap tenaga yang ada di dalam tubuhnya. Perlahan-lahan Mahisa Agni mencoba mengatur pernafasannya. Ditenangkannya getaran-getaran di dalam dadanya yang bergelora

Akhirnya, meskipun lambat sekali, namun Mahisa Agni berhasil menguasai kesadarannya sepenuhnya. Nafasnya perlahan-lahan menjadi teratur kembali dan getaran-getaran di dadanya pun menjadi berkurang. Darahnya kini telah tersalur sewajarnya. Namun betapa lemahnya ia setelah dengan matian-matian ia mengerahkan segenap kemampuannya.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ia bersyukur atas karunia Yang Maha Agung. Ternyata ia telah dapat membebaskan dirinya dari orang yang menamakan dirinya Empu Pedek itu. Seandainya, ya seandainya Empu Pedek mampu bertahan untuk sesaat saja, maka keadaannya pasti akan sangat berbeda. Sesaat lagi, apabila ia masih harus memeras tenaganya, mungkin ia akan menjadi benar-benar pingsan. Apabila demikian, betapa pun lemahnya Empu Pedek, tetapi ia akan dapat membunuhnya tanpa perlawanan. Namun agaknya orang timpang itu pun telah kehabisan tenaga seperti dirinya. Karena itu, nasibnya menjadi lebih baik dari nasib orang dari Gunung Merapi yang datang tiga hari sebelumnya.

Ketika getar di dadanya telah benar-benar menjadi tenang, Mahisa Agni menggeliat. Digerak-gerakkannya tangan dan kakinya perlahan-lahan untuk menyalurkan darahnya secara wajar. Dengan hati-hati ia berjongkok, kemudian dijulurkannya kaki-kakinya berganti-ganti.

Apabila tubuhnya terasa sudah wajar kembali, meskipun kekuatannya sama sekali belum pulih, maka kembali Mahisa Agni duduk di samping bungkusannya. Di dalam bungkusan itu masih ditemukannya beberapa buah-buahan segar. Dengan buah-buahan itu Mahisa Agni berusaha untuk menyegarkan tubuhnya kembali. Tubuhnya yang seakan-akan telah dilolosi segala tulang belulangnya.

“Hem,” Mahisa Agni menarik nafas. Buah-buahan itu terasa betapa segarnya dan tubuhnya pun terasa semakin segar pula. Namun demikian keringatnya masih saja mengalir tanpa henti-hentinya. Dari dahi dan keningnya, menitik di pangkuannya. Dari punggungnya, dari seluruh wajah kulitnya. Belum pernah Mahisa Agni bertempur seperti apa yang baru saja dilakukannya. Bahkan ia menjadi heran atas tenaganya sendiri. Dengan tekad yang menyala-nyala, serta taruhan yang sangat berharga, ia telah berjuang seakan-akan melampaui kemampuan yang wajar. Seakan-akan dorongan tekadnya telah menambah kemampuannya bahkan berlipat-lipat. Kini Mahisa Agni sempat mengenangkan orang timpang itu kembali sambil beristirahat. Orang itu bertempur kasar dengannya. Untunglah ia mampu bertahan, meskipun ia tidak dapat mengalahkan lawannya dengan mudah. Dan kini lawannya itu sempat melarikan dirinya.

“Ke manakah larinya?” ia bertanya kepada diri sendiri. Ia menyesal bahwa orang itu tidak dikejarnya. Namun ketika disadarinya keadaannya, maka hal itu tak akan mungkin dilakukannya. Apalagi mengejarnya, bahkan berdiri pun ia hampir tidak mampu lagi.

Tetapi kemudian timbullah beberapa pertanyaan lain di dalam benaknya. Orang timpang itu mungkin pergi mendahuluinya ke gua tempat penyimpanan akar wregu putih itu.

“Orang itu adalah orang ketiga setelah gurunya dan aku sendiri yang mengetahui persoalan akar wregu putih itu. Mungkin orang dari Gunung Merapi itu pun mengetahuinya pula, namun orang itu kini telah tidak ada lagi,” gumamnya seorang diri. Tetapi tiba-tiba ia menjadi cemas.

“Apakah akar wregu itu benar-benar masih berada di dalam gua itu? Mungkin orang yang bernama Empu Pedek itu telah mengambil lebih dahulu.”

“Hem,” Mahisa Agni menggeram. Kalau demikian maka perjalanannya yang panjang, serta segala macam kesulitan-kesulitan yang pernah dilampauinya itu akan menjadi tanpa arti.

“Aku harus membuktikannya dahulu,” gumamnya, “apabila di dalam gua itu telah tidak dapat aku temukan akar wregu putih itu, maka pekerjaanku akan berganti. Aku harus menemukan orang timpang yang bernama Empu Pedek itu. Dan bernama Empu Pedek itu. Dan akan kembali ke Panawijen tanpa akar wregu putih itu. Biar pun puluhan tahun, bahkan sepanjang umurku sekali pun.”

Tiba-tiba saja dada Mahisa Agni bergelora kembali. Meskipun tubuhnya masih lemah sekali, serta persendian tulang-tulangnya masih terasa sakit, dan bahkan pedih-pedih di hampir segenap tubuhnya, namun dengan susah payah ia berdiri. Diikatkannya bungkusan kecilnya pada pundaknya, serta dengan tongkat di tangannya. Mahisa Agni melangkah meneruskan perjalanannya. Tertatih-tatih, bertelekan tongkat dalam malam yang gelap.

Namun Mahisa Agni sama sekali tidak menyesal, bahwa ia telah menempuh perjalanannya yang berat itu. Apapun yang akan terjadi adalah satu akibat yang wajar dari perjuangannya. Karena itu, maka betapa pun beratnya, betapa perasaan sakit dan nyeri menjalar hampir di seluruh tubuhnya, betapa penat dan lelahnya, bahkan betapa jiwanya dipertaruhkan, namun hatinya telah bulat. Akar wregu putih itu harus ditemukan.

Kini ia berjalan setapak demi setapak maju. Dalam kelamnya daun-daunan hutan. Dengan tongkatnya Mahisa Agni meraba-raba jalan, dan dengan pandangan matanya yang tajam ia mencari arah. Untunglah, meskipun belum sempurna, namun Mahisa Agni telah cukup terlatih, sehingga ia dapat membedakan, tanah yang gembur berlumpur, tanah yang rapuh dan tanah yang cukup keras.

Dalam perjalanannya yang sangat lambat itu, Mahisa Agni selalu mencoba untuk menduga-duga, apakah akar wregu putih itu masih berada di tempatnya, atau telah hilang diambil oleh orang timpang yang menamakan dirinya Empu Pedek itu.

Demikianlah, setiap kegelisahannya melonjak di dadanya, maka kakinya pun seakan-akan ingin meloncat berlari. Namun Agni tak dapat melakukannya. Kakinya masih lemah, selemah tangkai bunga yang kehabisan air. Lesu. Sedang jalan yang terbentang di hadapannya sangat gelapnya. Batang-batang pohon liar. Perdu berduri den segala macam tumbuh-tumbuhan yang buahnya dapat dimakan, sampai tumbuh-tumbuhan beracun dan buah-buahan makanan ular.

Tetapi Mahisa Agni pantang mundur. Ia berjalan terus dalam gelapnya malam. Di selatan ia masih melihat bintang Gubug Penceng yang dapat menuntunnya mencari arah. Ia harus berjalan lurus ke barat apabila ia tidak ingin tersesat. Apa pun yang ada di jalan yang akan dilampauinya. Binatang buas, orang-orang jahat atau apa pun, meskipun seandainya hantu-hantu yang menghadangnya, maka ia pun tak akan dapat digentarkan.

Jalan itu pun semakin lama menjadi semakin sulit. Setelah lapangan yang sempit. Mahisa Agni sampai ke daerah yang berlereng curam. Dengan demikian ia harus lebih berhati-hati. Kadang-kadang Mahisa Agni merangkak, kadang-kadang bahkan berjalan sambil berjongkok. Dan bahkan kadang-kadang ia terduduk dengan nafas terengah-engah.

Di kejauhan masih terdengar auman harimau berebut mangsa, dan sekali-kali salak anjing-anjing hutan menyobek sepi malam. Dan setiap suara yang terdengar, rasa-rasanya menyentuh sampai ke ulu hati. Tetapi semuanya itu sama sekali tidak menarik perhatian Mahisa Agni. Pikirannya bulat-bulat ditelan oleh gua, akar wregu putih dan orang timpang.

Meskipun sangat lambat namun Mahisa Agni semakin lama menjadi semakin dekat pula dengan lereng gundul yang ditujunya. Ketika embun malam menitik setetes di tubuhnya, terasa betapa segarnya.

Ketika Mahisa Agni menengadahkan wajahnya, dilihatnya cahaya semburat merah membayang di timur. Bintang Gubug Penceng kini telah berguling ke barat dan hampir hilang dibalik cakrawala.

“Hampir fajar,” desis Mahisa Agni. Namun kemudian ia menjadi ragu-ragu. Apakah ia dapat meneruskan perjalanannya di siang hari? Gurunya berpesan mewanti-wanti kepadanya, supaya ia berjalan di malam hari sejak batu padas di tengah rawa-rawa itu. Baru setelah sampai di lereng gundul ia boleh mendakinya di siang hari. Karena itu, sebelum hari menjadi terang, Mahisa Agni berusaha mempercepat langkahnya. Tetapi kecepatan yang dapat dicapainya sangat terbatas. Dengan demikian Mahisa Agni menjadi cemas, seakan-akan takut dikejar oleh matahari yang segera akan timbul di timur. Tetapi Mahisa Agni tidak dapat mencegah matahari itu. Bahkan ternyata bahwa matahari itu datang terlampau cepat dari yang diharapkan.

Ketika cahayanya yang pertama terlempar di atas daun-daun pepohonan dan menyangkut di atas ujung-ujung batang-batang raksasa, Mahisa Agni menarik nafas. Sekali ia menggeliat dan kemudian ia menguap. Lelah dan sakit-sakit di punggungnya masih terasa. Namun kesegaran fajar telah menyegarkannya pula.

Ketika ia memandang ke selatan, ia masih melihat di antara pepohonan yang tidak begitu pekat dan dari atas ujung-ujung pepohonan yang tumbuh di lereng-lereng, jurang-jurang yang dalam. Kemudian tampaklah sebuah dataran hutan yang lebat.

Mahisa Agni menarik nafas. Alam di sekitarnya adalah alam yang dipenuhi oleh warna-warna hijau segar. Daun yang hijau, rumput-rumput yang hijau dan batang-batang perdu yang hijau. Tetapi ketika kemudian ia berpaling ke barat, ke arah yang akan ditujunya, Mahisa Agni terkejut bukan kepalang. Dari balik kabut pagi, Mahisa Agni melihat seakan-akan muncul di hadapannya sebuah dinding raksasa yang berwarna kemerah-merahan. Dinding batu padas dan tanah liat yang terbentang sedemikian luas. Mahisa Agni tegak seperti tonggak. Dilihatnya dinding itu dengan dada yang bergelora. Ternyata dinding yang dicarinya itu seolah-olah tiba-tiba saja muncul tidak jauh lagi di hadapannya.

Karena itulah, maka tiba-tiba Mahisa Agni menjadi sangat gembira. Ia tidak usah menunggu sampai besok. Tidak usah menunggu malam datang. Apakah jarak yang sudah tinggal beberapa langkah lagi itu harus ditempuhnya malam nanti dan membiarkannya hari ini lewat? Tidak. Jarak yang pendek itu akan segera dicapainya.

Mahisa Agni pun kemudian melangkah pula. Semakin cepat yang dapat dilakukan. Kini ia dapat melihat jalur-jalur yang dapat dilewatinya, sehingga dengan demikian perjalanannya pun benar-benar menjadi semakin cepat. Kakinya yang luka-luka oleh ber-macam-macam duri dan batu-batu yang runcing sama sekali tak terasa. Yang ada di dalam hatinya adalah gua itu. Selebihnya tak dihiraukannya. Karena itu maka apapun yang terjadi padi tubuhnya seakan-akan tak terjadi padanya.

Ketika matahari telah menjadi semakin tinggi, dan ketika hari menjadi semakin terang, Mahisa Agni kini dapat melihat, sebuah lubang yang hitam pada dinding raksasa itu.

Kini dada Mahisa Agni menjadi semakin berdebar-debar. Gua di lereng yang gundul itulah yang harus didaki.

Mahisa Agni itu pun berhenti sejenak. Sekali lagi ditatapnya seluruh permukaan dinding raksasa itu. Alangkah besar kekuasaan yang mampu membangunkannya. Ketika kemudian Mahisa Agni memandang kepada dirinya sendiri, maka ia tidak lebih dari sebuah anak-anakan yang sangat kecil dibanding dengan kebesaran alam yang dihadapinya. Apalagi dengan Maha Penciptanya.

Tetapi tiba-tiba disadarinya pula, bahwa dirinya adalah sebagian dari alam itu, justru merupakan ciptaan yang paling berharga di antara segenap isi alam ini. Ia adalah manusia. Dan Maha Pencipta telah menciptakan manusia untuk memelihara dan memanfaatkan alam yang diciptakannya pula. Bahkan sebagai wadah dan sekaligus dikuasainya. Maka sebenarnyalah Maha Pencipta menciptakan alam dan manusia di dalamnya dengan sifat Maha Cintanya seolah-olah menempatkan seorang juru taman dalam pertamanan yang indah. Namun bukan pertamanan sendiri. Apa yang dilakukan seharusnya berdasarkan atas kehendak pemilik taman itu, bukan atas kehendak juru taman itu sendiri, meskipun juru taman itu wenang melakukan apa pun atas pertamanan yang diserahkan kepadanya. Ia dapat melakukan pekerjaan yang bermanfaat, namun ia dapat juga mengkhianati dan merusak taman yang diserahkan kepadanya. Ia dapat mempergunakan hasil taman itu untuk melakukan hal-hal yang menggembirakan pemiliknya, namun ia dapat juga berbuat sebaliknya. Akibatnya, pemilik taman itu dapat berterima kasih dan bersenang hati kepadanya, atau sebaliknya pula.

Dan kini Mahisa Agni tegak di hadapan dinding raksasa itu seperti seorang juru taman tegak di antara tanaman-tanaman yang maha luas. Ialah yang wenang melakukan apa pun atas tanaman-tanaman itu, bukan sebaliknya. Dan kini Mahisa Agni pun merasakan dirinya sebagai manusia yang berhadapan dengan alam. Alam itu harus ditundukkannya.

Demikianlah, maka kini Mahisa Agni memandang lereng yang curam gundul dan berbatu-batu itu sebagai suatu tantangan yang harus diatasinya. Betapa pun sulitnya, ia tidak boleh menyerah melawan kesulitan-kesulitan, namun kesulitan itu harus ditundukkannya.

Tiba-tiba terasa sesuatu bergetar di dada Mahisa Agni. Tekadnya yang bulat kini menjadi semakin mantap. Dengan dada tengadah ia berdoa di dalam hatinya, semoga Yang Maha Agung memberkahinya.

Karena itu, maka seakan-akan menjalarlah suatu kekuatan baru di dalam tubuhnya. Kekuatan yang mengalir dari pusat kehendaknya. Dari pusat kehendaknya, dari pusat tekad yang menyala di dalam dadanya. Sehingga dengan demikian segera Mahisa Agni melangkahkan kakinya kembali. Kini lebih mantap dan lebih cepat. Apa pun yang akan dihadapinya kelak, Empu Pedek, atau apa saja. Meskipun seandainya Empu Pedek itu datang bersama seorang kawannya, dua orang, sepuluh atau berapa pun.

Mahisa Agni kini seolah-olah berlari-lari mengejar tantangan yang dihadapinya. Lereng yang terjal itu akan didakinya. Sekarang.

Mahisa Agni tidak memerlukan waktu terlalu lama untuk mencapai lereng yang curam itu. Sebelum matahari sampai ke pusat langit, Mahisa Agni telah sampai di bawah tebing gundul itu. Sekali lagi ia mengagumi dinding raksasa itu. Ditengadahkannya wajahnya, memandang jauh ke atas. Tinggi, tinggi sekali. Demikian tingginya seakan-akan dinding itu akan roboh menimpanya.

Ketika tangan Mahisa Agni meraba dinding itu, terasa di tangannya betapa dinding itu sekeras batu. Tetapi beberapa ujung yang runcing menjorok seperti tonggak kayu yang aus.

Sekali-kali Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Beberapa tahun lampau ia pernah mengagumi dinding itu pula. Bahkan saat itu ia lebih kagum lagi. Kini ia sudah semakin dewasa. Dan kini ia telah berkeyakinan, bahwa betapapun curam dan terjalnya, namun dinding harus ditaklukkannya.

Sekali lagi Mahisa Agni meraba-raba lereng yang gundul itu. Kemudian dilepasnya bungkusan yang tersangkut di pundaknya. Disangkutkannya pada batang-batang perdu beserta tongkat kayunya.

Mahisa Agni kemudian tegak seperti seseorang yang siap menunggu seorang lawan yang akan menerkamnya. Kedua kakinya merenggang dan tangannya tergantung lurus di samping tubuhnya. berpegangan pada pahanya, seakan-akan takut kakinya akan terlepas. Ditatapnya batu-batu padas, batu-batu yang hitam kemerah-merahan serta sebuah lubang yang hitam hampir di tengah-tengahnya. Kemudian dipandangnya matahari yang kini telah tegak di atas kepalanya.

“Hem,” bergumam Agni seorang diri, “aku akan menjadi silau karenanya. Biarlah aku menunggu sampai matahari itu lewat di balik dinding ini.”

Namun Mahisa Agni masih tegak di tempatnya. Ia menunggu matahari condong sedikit, sehingga matanya tidak menjadi silau pada saat ia mendakinya.

Tetapi tiba-tiba saja Mahisa Agni itu terloncat seperti didorong hantu. Langsung ia berjongkok di bawah tebing yang curam dan tinggi itu. Dengan mata terbelalak ia mengamati sesuatu yang sangat menggetarkan hatinya. Telapak kaki manusia.

“Apakah artinya ini?” geramnya. Dan sekali lagi ia mengamati telapak kaki itu. Satu, dua dan beberapa lagi dapat ditemukannya di sekitar tempat itu. Apalagi akhirnya Mahisa Agni melihat, telapak kaki itu hilang timbul di kaki lereng gundul itu. Pada tanah yang agak liat ia melihat telapak itu condong ke atas. Dan sekali lagi Mahisa Agni menggeram. Dari sini seseorang pasti pernah naik ke gua ini.

“Pasti bukan telapak guru beberapa tahun yang lalu,” katanya di dalam hati.

“Pasti,” ulangnya. Dan Mahisa Agni pun memang pasti seperti apa yang sebenarnya, telapak itu masih agak baru.

Dada Mahisa Agni menjadi semakin berguncang karenanya. Kini ia pasti bahwa seseorang telah naik ke gua itu. Dugaannya yang pertama adalah Empu Pedek.

“Kalau orang itu memanjat setelah kami bertempur, maka orang itu pasti masih berada di dalam gua ini,” pikirnya, “karena itu aku harus mendaki sekarang juga.”

Mahisa Agni kini tidak mau menunggu apapun lagi. Kegelisahannya telah mendorongnya untuk segera mendaki tebing itu. Dengan tergesa-gesa ia meloncat meraih bungkusannya. Diambilnya keris pusaka peninggalan ayahnya, yang kemudian diselipkannya di pinggangnya. Dengan keris itu ia sudah siap menghadapi setiap kemungkinan yang bakal terjadi. Mungkin ia harus membunuh, meskipun karena terpaksa apabila ia tidak mau dibunuh. Mungkin ia harus berbuat hal-hal yang belum pernah dilakukannya. Dan kemungkinan yang paling pahit, ia tidak akan keluar lagi dari gua itu.

Bungkusan dan tongkat kayu Mahisa Agni itu pun ditinggalkannya. Selain keris dan tubuhnya, tidak ada lagi yang perlu dalam perjalanannya yang berbahaya itu.

Ketika tubuh dan jiwanya telah siap benar-benar, maka mulailah Mahisa Agni dengan pendakian itu. Kini ia telah sampai pada taraf terakhir dari ujiannya. Mendaki tebing, menghadapi orang yang telapak kakinya telah ditemukannya. Namun mungkin belum yang sebenarnya terakhir. Di perjalanan pulang pun masih mungkin pula ditemuinya berbagai kesulitan-kesulitan.

Kini Mahisa Agni telah mulai dengan pendakian itu. Seperti seekor semut ia merayap-rayap berpegangan dari satu batu yang menjorong ke batu yang lain. Dengan hati-hati kakinya setiap kali mencari pancadan yang kuat. Setapak demi setapak. Untunglah bahwa matahari segera melampaui titik tertinggi di pusat langit, sehingga kini Mahisa Agni telah tidak sedemikian silaunya. Dengan pemusatan tenaga lahir batin, Mahisa Agni merambat terus di tebing yang hampir tegak itu. Beberapa kali kakinya telah menganjak batu yang salah, sehingga batu-batu itu berguguran jatuh ke bawah. Namun Mahisa Agni cukup ber-hati-hati, sehingga ia sendiri selalu dapat menghindarkan kakinya sebelum terlambat.

Tetapi batu-batu itu ada yang terlalu runcing dan tajam, sehingga kaki-kaki Mahisa Agni pun kemudian menjadi sakit dan pedih Tangannya telah luka di beberapa tempat. Meskipun demikian Mahisa Agni masih tetap mendaki terus. Ia harus mencapai mulut gua itu sebelum malam menjadi terlalu kelam.

Mahisa Agni yang muda itu ternyata memiliki kekuatan melampaui manusia kebanyakan. Meskipun tenaganya hampir terperas habis setelah ia bertempur melawan orang timpang yang menamakan dirinya Empu Pedek, namun dengan waktu istirahat yang pendek itu, ia telah mampu membawa dirinya pada suatu pendakian yang berbahaya. Bahkan di sana sini batu-batu padas yang menjorok itu menjadi basah oleh tetesan-tetesan mata-mata air yang kecil di dinding terjal itu. Dengan demikian maka pekerjaan Mahisa Agni menjadi semakin berbahaya.

Sekali-kali Mahisa Agni pun melihat pula, batu-batu padas yang patah di atas kepalanya. Dengan melihat bekas-bekasnya, Mahisa Agni mengetahui, bahwa bekas-bekas itu masih sangat baru. Dengan demikian maka ia menjadi semakin pasti, bahwa seseorang telah mendaki tebing ini sampai ke gua di atas itu.

Mahisa Agni menjadi semakin gelisah karenanya. Tetapi kegelisahannya itu mendorongnya untuk merayap semakin cepat. Tetapi Mahisa Agni tidak membiarkan dirinya kehilangan pengamatan atas alam yang sedang dihadapinya.

Tubuh Mahisa Agni itu pun semakin lama menjadi semakin tinggi melekat padat tebing yang curam itu. Apabila ia sekali-kali menengok ke bawah, dilihatnya pohon-pohon sudah berada di bawah kakinya. Sekali-kali ia terpaksa berhenti merapatkan tubuhnya pada lereng yang terjal itu untuk sekedar beristirahat. Betapapun besar hasratnya untuk segera sampai ke mulut gua itu, namun tenaganya pun terbatas. Dan Mahisa Agni tidak bisa mengingkarinya apabila ia ingin selamat sampai ke mulut gua itu.

Demikianlah perjalanan Mahisa Agni itu menjadi lambat, tetapi ia tetap maju menuju sasaran.

Matahari di langit semakin lama menjadi semakin condong juga. Sinarnya yang putih tampak berkilat-kilat menampar wajah mega-mega yang putih pula. Di kejauhan tampak berbagai warna bertebaran di permukaan bumi. Warna-warna hijau segar, padang rumput yang kekuning-kuningan dan hutan belantara yang menyeramkan. Beberapa batang sungai tampak seperti ular-ular raksasa yang menjalar ke pegunungan.

Mahisa Agni masih merambat terus. Perlahan-lahan namun pasti. Betapa lelahnya dan betapa sulit perjalanan itu. Seluruh tubuhnya telah basah oleh keringat. Dan tangan dan kakinya pun berkeringat pula. Sekali-kali ia merasakan pula kaki dan tangannya menjadi pedih. Namun hanya sesaat, kemudian apabila teringat olehnya akar wregu putih dan telapak- telapak kaki di bawah lereng ini serta beberapa bekas batu-batu yang berguguran, maka perasaan pedih dan lelahnya itu seperti lenyap disapu angin dari selatan yang bertiup perlahan-lahan.

Semakin dekat Mahisa Agni dengan mulut gua itu, hatinya menjadi semakin berdebar-debar. Kalau orang itu masih di dalam gua, dan menunggunya di mulut gua itu, maka keadaan itu akan sangat berbahaya baginya. Apalagi kalau orang itu, orang timpang yang baru saja bertempur melawannya. Dengan satu sentuhan kecil, maka ia sudah akan terpelanting jatuh ke bawah yang tingginya beberapa puluh depa itu.

Dengan demikian, dengan kemungkinan-kemungkinan yang tak menyenangkan itu, maka Mahisa Agni tidak langsung menuju ke mulut gua itu. Ia menuju beberapa depa di sampingnya,untuk kemudian mendekati gua itu dari arah samping. Dengan demikian ia dapat menghindari atau setidak-tidaknya mengurangi kemungkinan yang dapat sangat menyulitkannya.

Sebelum Mahisa Agni mendekati gua itu, ia berhenti pula untuk beristirahat. Ketika didapatinya bongkahan batu yang baik, maka ia pun berdiri di atas batu itu untuk beberapa saat sambil bersandar lereng itu. Dicobanya untuk mengumpulkan kembali sisa-sisa tenaganya. Mungkin masih akan dihadapinya bahaya yang lebih besar lagi justru di mulut gua itu. Mungkin seseorang menunggunya dan menyentuhnya, supaya ia terlempar jatuh.

Kini Mahisa Agni tidak perlu tergesa-gesa lagi. Ia telah berdiri beberapa langkah di samping mulut gua itu. Baru ketika kekuatannya terasa telah tumbuh kembali meskipun lambat, ia merayap pula semakin dekat semakin dekat.

Mahisa Agni itu pun kemudian telah berdiri dekat di samping mulut gua itu. Sekali lagi ia berhenti. Dicobanya untuk menangkap setiap suara yang ada di dalam gua. Namun yang didengarnya hanyalah siul angin yang bertiup semakin kencang.

Dengan sangat hati-hati Mahisa Agni berusaha untuk melihat gua itu. Alangkah gelapnya. Namun mulut gua itu tidak terlalu gelap. Cahaya yang tidak langsung betapa lemahnya, yang bertebaran di mulut gua itu telah cukup untuk meneranginya. Dan Mahisa Agni tidak melihat apa pun. Apalagi seseorang.

Kembali dada Mahisa Agni berdebar-debar. Dan kembali ia memusatkan segenap panca inderanya. Namun ia tetap tidak menangkap sesuatu yang mencurigakan. Gua itu tetap sepi.

Maka Mahisa Agni itu pun segera bersiap. Diaturnya segenap geraknya untuk menghadapi setiap kemungkinan. Dengan gerak yang cepat Mahisa Agni menggeser dirinya, sehingga tiba-tiba ia telah berada di dalam gua itu bersandar dinding tepinya, dengan penuh kesiagaan untuk menghadapi setiap kemungkinan.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ternyata tak seorang pun yang berada di mulut gua itu. Dengan demikian ia bergeser semakin dalam. Tetapi ia belum berani untuk langsung masuk ke dalam gelapnya gua itu. Sebab firasatnya mengatakan kepadanya bahwa sesuatu pasti akan dihadapinya. Dan firasat itu telah diperkuat oleh telapak- telapak kaki yang ditemukan di bawah tebing ini.

Kini Mahisa Agni duduk tepekur. Dicobanya untuk memulihkan tenaganya lebih dahulu. Sebab kemungkinan yang dihadapinya adalah sama gelapnya dengan gua itu sendiri. Mungkin ia harus bertempur mati-matian, dan mungkin pula, ia harus berkubur di dalam gua ini.

Ketika nafasnya telah teratur kembali dan tenaganya telah sebagian besar dimilikinya, maka Mahisa Agni pun bersiap pula. Sekali lagi ia berdoa kepada yang Maha Agung, semoga perjalanannya kali ini akan berhasil.

Mahisa Agni itu pun kemudian perlahan-lahan berdiri. Sekali-kali dirabanya keris dilambungnya. Kemudian perlahan-lahan pula ia melangkah memasuki gua yang semakin pekat. Namun lambat laun, matanya menjadi biasa pula dalam kegelapan, sehingga semakin lama, meskipun hanya remang-remang ia dapat juga melihat beberapa bagian dari gua itu. Apalagi mata Mahisa Agni yang cukup terlatih itu. Dilihatnya pula dinding-dinding gua yang seolah-olah bergerigi tajam. Beberapa ujung yang runcing menjorok mengerikan.

Kaki Mahisa Agni semakin pedih juga. Luka-luka yang ditimbulkan oleh ujung-ujung batu dan karang telah melukai kakinya, tetapi luka-luka itu kemudian tak terasa lagi, ketika segenap perhatiannya terpusat pada pusat gua yang gelapnya bukan kepalang.

Ternyata gua itu cukup dalam. Namun terasa oleh Mahisa Agni bahwa jalur-jalur di dalam gua itu semakin lama semakin menanjak. Ternyata gua itu bertambah naik. Bahkan kadang-kadang terasa Mahisa Agni seakan-akan naik di atas tingkatan tangga yang dibuat oleh tangan manusia.

“Hem,” desahnya, “ternyata guruku bukan satu-satunya orang yang pernah mengunjungi gua ini.”

Tetapi kemudian anak muda itu bergumam pula, “Atau mungkin guru pula yang membuat anak tangga ini?”

Tetapi kemudian segenap perhatian Mahisa Agni pun tenggelam dalam keasyikannya mendaki tangga-tangga yang lebih sulit lagi. Semakin lama semakin tinggi. Dan jalur-jalur gua itu masih menghunjam terus seakan-akan menembus ke pusat Gunung Semeru.

Mahisa Agni tidak tahu, sudah berapa dalam ia masuk ke dalam lubang tanah yang menganga seperti mulut seekor ular raksasa itu. Ia berjalan terus dan bahkan kadang-kadang harus merangkak dengan susah payah. Bahkan kemudian Mahisa Agni masih terpaksa beristirahat untuk beberapa saat lamanya.

Ketika kemudian Mahisa Agni berjalan kembali, ia terkejut melihat cahaya di hadapannya. Gua itu pun semakin lama menjadi semakin terang.

“Aneh,” katanya di dalam hati, “apakah aku sudah akan sampai ke ujung yang lain?”

Namun pertanyaan itu segera terjawab. Ternyata gua itu telah jauh menanjak, sehingga kemudian tampaklah oleh Mahisa Agni sebuah lubang yang tegak lurus ke atas. Dari lubang itulah sinar yang tak langsung menusuk ke dalam gua itu. Meskipun demikian, setelah sekian lama Mahisa Agni tersekap di dalam kegelapan, maka sinar yang lemah itu terasa betapa nyamannya. Terasa seakan-akan ia baru saja terlepas dari satu kungkungan yang menjemukan. Dari lubang itu Mahisa Agni dapat memandang langit yang biru. Meskipun lubang itu tidak begitu besar, bahkan karena panjangnya, maka ujung lubang itu seakan-akan terkatup, namun daripadanya, Mahisa Agni segera dapat mengetahuinya bahwa hari sudah menjelang senja. Dilihatnya sepintas awan yang bergerak di langit, diwarnai oleh sinar yang kemerah-merahan.

Tetapi karena itu Mahisa Agni menjadi berdebar-debar karenanya. Kalau sebentar kemudian malam tiba, maka gua itu akan menjadi semakin gelap.

Karena itu, maka kemudian Mahisa Agni itu pun berusaha mempercepat langkahnya. Secepat yang dapat dilakukannya. Dengan berpegangan dinding gua ia berjalan setapak demi setapak. Seperti yang sudah dilakukannya, kadang-kadang ia harus merangkak, sebab gua itu masih cenderung naik.

Lubang yang tegak menembus lambung Gunung Semeru itu ternyata tidak hanya sebuah. Di mukanya, kembali Mahisa Agni melihat cahaya yang kemerah-merahan. Ia pasti, bahwa cahaya itu pun jatuh dari lubang yang serupa dengan lubang yang pernah dilihatnya.

Tetapi langkah Mahisa Agni itu pun segera terhenti. Dalam cahaya yang kemerah-merahan itu, dilihatnya sesuatu yang bergerak-gerak. Sebuah desir yang tajam menggores dada anak muda itu. Benda yang bergerak-gerak itu tampak remang-remang di seberang cahaya yang kemerah-merahan sehingga Mahisa Agni tidak dapat segera melihatnya dengan seksama. Namun kemudian anak muda itu melonjak. Dan terdengar nyaring di dalam hati, “Seseorang telah mendahului aku.”

Mahisa Agni itu pun menggeram, Kini ternyata dugaannya benar. Tapak kaki yang dilihatnya serta bekas-bekas guguran batu-batu padas itu bukanlah sekedar karena angan-angannya saja. Kini orang itu telah berada beberapa langkah di hadapannya.

Namun agaknya orang itu belum melihat kehadiran iya. Karena itu Mahisa Agni pun berhenti di tempatnya. Bahkan ia kemudian duduk di lantai gua yang lembab itu.

“Syukurlah, aku yang lebih dahulu melihatnya,” pikir Mahisa Agni.

Kini ia benar-benar menenangkan dirinya. Ia hanya tinggal mengawasi orang itu. Sementara itu ia sempat untuk memulihkan kembali segenap tenaganya setelah ia bertempur melawan Empu Pedek, dan setelah ia memeras sisa tenaganya untuk mendaki lereng gundul di kaki Gunung Semeru itu.

Mahisa Agni telah bertekad untuk tidak menyapanya lebih dahulu. Ia masih memerlukan waktu untuk memulihkan tenaganya kembali. Mungkin orang itu telah beristirahat pula sehingga orang telah memiliki kesegaran tenaganya kembali. Bahkan mungkin telah dua tiga hari ia berada di tempat itu, atau bahkan mungkin ia telah berhasil mengambil akar wregu putih itu.

Bahkan kemudian timbul pula pertanyaan di dalam dirinya, apakah orang itu Empu Pedek yang timpang? Kalau demikian, maka ia harus mengulangi pertempuran sekali lagi seperti yang pernah terjadi. Namun kali ini ia tidak akan menanggung akibat dari kekalahannya melawan orang timpang itu. Karena itu tiba-tiba ia meraba hulu kerisnya. Meskipun keris itu tidak sesakti trisula kecil pemberian gurunya, namun kerisnya adalah pusaka yang berbentuk senjata, yang benar-benar dapat dipergunakannya untuk bertempur dan menyobek dada lawannya. “Kalau aku harus bertempur sekali lagi, maka aku terpaksa mempergunakannya,” katanya di dalam hati, “sebab akar wregu itu pun sebuah pusaka rangkapan yang tak ternilai harganya.”

Di samping itu timbul pula berbagai pertanyaan di dalam dadanya. Menurut gurunya, akar wregu putih itu adalah rangkapan sebuah pusaka lain yang berbentuk trisula, seperti yang dikatakan oleh Empu Pedek pula. Namun ternyata yang mencari akar wregu itu terdapat seorang yang datang dari Kaki Gunung Merapi pula. Apakah di samping sebagai pusaka rangkapan trisula, akar wregu putih itu mempunyai nilai yang lain pula?”

Tetapi Mahisa Agni tidak mau diganggu oleh berbagai pertanyaan itu. Apa pun yang akan dihadapinya, namun ia telah bertekad untuk mendapatkan benda itu. Ia sudah siap menghadapi kemungkinan yang paling pahit. Berkubur di dalam gua ini.

—–
Namun kali ini ia tidak akan menanggung akibat dari kekalahannya melawan orang timpang itu. Karena itu tiba-tiba ia meraba hulu kerisnya.
—–

Cahaya yang kemerahan itu pun semakin lama semakin pudar. Gua itu pun semakin lama menjadi semakin kelam. Dengan demikian Mahisa Agni tidak akan dapat menyelesaikan pekerjaannya kini, kecuali apabila terpaksa. Karena itu, maka kemudian ia hanya dapat menggeser dirinya, duduk tepat di tengah-tengah gua itu. Apapun yang dilakukan oleh orang yang dilihatnya itu, namun apabila orang itu akan meninggalkan gua, maka pasti ia melampauinya. Dalam kesempatan itu ia akan dapat mencegahnya.

Demikianlah malam yang kelam turun menyelimuti Gunung Semeru itu. Yang terdengar kemudian adalah siulan angin pada lubang-lubang di lereng-lereng gunung raksasa itu.

Mahisa Agni masih saja duduk tepekur di tempatnya. Ia mencoba untuk menunggu sampai besok. Meskipun gua itu hampir tak ada bedanya antara siang dan malam, namun di siang hari, masih juga betapa pun lemahnya, samar-samar yang dapat membantunya. Di siang hari, mata Mahisa Agni yang tajam itu, masih dapat melihat walaupun sama sekali tidak jelas, setiap bayangan yang ada di dalam gua itu. Apalagi, ternyata bahwa di dalam gua itu terdapat lubang-lubang yang dapat menampung sinar-sinar matahari yang jatuh menghambur di lambung Gunung Semeru itu.

Tetapi terasa betapa panjangnya waktu. Mahisa Agni merasa bahwa seakan-akan malam itu tidak akan berujung. Akhirnya ia menjadi jemu. Menunggu baginya adalah pekerjaan yang paling tidak menyenangkan.

Karena itu timbul dalam pikirannya, untuk mendekati orang yang dilihatnya siang tadi. Mungkin ia dapat menangkap desah nafasnya atau bunyi apa pun yang ditimbulkannya. Karena Mahisa Agni telah melihatnya lebih dahulu, maka ia akan dapat lebih hati-hati daripada orang itu. Ia akan dapat mengatur gerak dan pernafasannya sehingga tidak menimbulkan bunyi.

Demikianlah akhirnya Mahisa Agni tidak dapat menunda keinginannya itu. Perlahan-lahan sekali ia menggeser dirinya mendekati bayangan seseorang yang dilihatnya tadi. Semakin lama semakin dekat. Namun kadang-kadang timbul pula keragu-raguan di hati Mahisa Agni. Apakah orang itu masih berada di tempatnya?

Tetapi kemudian dada Mahisa Agni itu pun menjadi berdebar-debar. Akhirnya didengarnya juga desah nafas orang yang dicarinya itu. Perlahan-lahan sekali dan betapa nafas itu sangat teratur.

“Orang itu tertidur,” bisik Agni di dalam hatinya.

Tiba-tiba timbullah keinginan di dalam hati Mahisa Agni untuk mendahului orang itu. Namun ia menjadi ragu-ragu. Kalau orang itu Empu Pedek, maka betapa pun untuk tidak menimbulkan suara, namun pasti pendengaran orang itu cukup baik, sehingga maksudnya tak akan dapat dilakukannya.

“Aku dapat membinasakannya selagi ia masih tertidur,” terdengar suara di sudut hatinya, namun terdengar suara yang lain, “Pengecut!”

Dalam keragu-raguan itu, Mahisa Agni terduduk kembali. Ia menjadi bingung apa yang akan dilakukannya.

Tetapi ia terkejut ketika ternyata suara nafas yang didengarnya itu semakin lama semakin jauh. Ternyata orang itu sama sekali tidak tertidur. Bahkan orang itu ternyata sedang berjalan semakin dalam masuk ke dalam gua ini.

Hati Mahisa Agni berdesir karenanya. Dan tiba-tiba pula ia pun berdiri. Ia tidak mau kehilangan kesempatan untuk mendapatkan akar wregu putih itu. Karena itu ia pun berjalan pula dengan hati-hati menelusuri tepi gua mengikuti suara nafas orang yang telah berjalan mendahuluinya.

Kini hati Mahisa Agni tidak tenggelam lagi dalam kejemuan, namun kini hati itu menjadi tegang. Dengan hati-hati dan penuh kewaspadaan ia mengikuti suara nafas orang di hadapannya, namun karena malam demikian kelam, apalagi di dalam relung gua itu, maka Mahisa Agni belum berhasil melihat orangnya. Tetapi karena pendengaran Mahisa Agni yang tajam, maka ia dapat mengira-ngira apa yang sedang dilakukan oleh orang itu.

Mahisa Agni berjalan cepat apabila engah nafas itu pun berjalan cepat pula, dan ia terpaksa berhenti apabila orang itu pun berhenti.

Dalam pada itu Mahisa Agni pun mencoba untuk menduga-duga, apakah orang yang berjalan itu telah mengetahui kehadirannya pula

Dalam ketegangan itu, Mahisa Agni telah lupa akan peredaran waktu. Ia tidak tahu lagi saat dan waktu. Apakah ia telah berada di pertengahan malam, sebelumnya atau sesudahnya. Tetapi ia merasa bahwa kakinya telah menjadi penat pula dan pedih-pedih di telapak kaki dan tangannya menjadi semakin pedih. Namun ia tidak akan berhenti sebelum akar wregu putih itu dikuasainya.

Ternyata bahwa ketegangan yang mencengkeram dada Mahisa Agni itu telah merampas segenap perhatiannya atas apa saja. Ternyata kemudian Mahisa Agni terkejut bukan kepalang, ketika tiba-tiba saja dilihatnya di kejauhan bayangan yang meremang. Cahaya yang suram yang jatuh ke dalam gua itu

Mahisa Agni menggigit bibirnya. Katanya di dalam hati, “Ternyata hari telah pagi.” Dan sejalan dengan itu, tubuhnya pun terasa semakin lemah.

Tetapi desah nafas orang itu masih saja didengarnya semakin dalam masuk ke pusat gua. Dan karena itu, berapa pun penatnya, Mahisa Agni tidak juga mau berhenti. Bahkan akhirnya Mahisa Agni siap untuk mengambil keputusan, menentukan nasibnya di antara mereka berdua. Mahisa Agni tidak akan membiarkan tenaganya menjadi terperas habis, baru kemudian menghadapi orang itu. Kini selagi masih cukup tenaga padanya, apa pun yang akan terjadi akan segera dihadapinya.

Karena itu, maka Mahisa Agni segera mempercepat langkahnya. Semakin lama semakin mendekati orang itu. Desah nafas orang itu pun semakin terdengar nyata. Namun tidak teratur seperti yang didengarnya sebelumnya. Maka katanya di dalam hati, “Orang itu pun kelelahan.”

Mahisa Agni kemudian membiarkan orang itu sampai di bawah sinar keremangan pagi yang menembus dari lubang-lubang dalam gua itu. Namun karena cahaya itu masih demikian lemahnya, maka yang dilihatnya hanyalah sebuah bayangan yang kelam.

Tetapi bayangan itu sudah cukup mengejutkan dada Mahisa Agni. Ternyata bayangan itu bukanlah seorang yang timpang dan berperawakan mirip dengan Empu Pedek. Orang itu ternyata seorang yang bongkok meskipun tidak timpang. Ia berjalan tersuruk-suruk berpegangan pada dinding gua. Bahkan nafasnya pun terdengar semakin terengah-engah.

Tetapi Mahisa Agni hanya dapat melihatnya untuk sesaat. Sebab sesaat kemudian orang itu pun telah lenyap kembali dalam kelamnya relung gua.

Sesaat Mahisa Agni menjadi ragu-ragu. Kini datanglah gilirannya untuk menyeberangi daerah yang remang-remang itu. Namun ia telah bertekad untuk menghadapi setiap kemungkinan, dan bahkan ia ingin mempercepat penyelesaian yang mendebarkan itu. Karena itu, tiba-tiba terdengarlah Mahisa Agni itu berkata nyaring, dan suaranya menggelegar memukul-mukul dinding gua, seolah-olah melingkar-lingkar di dalamnya.

“He, Ki Sanak,” katanya, “berhentilah!”

Mahisa Agni tidak melihat orang itu. Namun tiba-tiba ia melihat bayangan itu muncul kembali dalam keremangan cahaya pagi yang jatuh ke dalam gua itu.

“Siapakah kau?” terdengar orang itu bertanya dengan suara yang lemah.

“Aku!” jawab Mahisa Agni. Dan kemudian ia bertanya pula, “Dan siapa kau ini?”

Orang itu tidak segera menjawab. Ia masih mencoba memandang ke arah Mahisa Agni. Namun agaknya orang itu masih belum melihat Mahisa Agni.

Mahisa Agni menjadi heran, ketika ia melihat orang bongkok itu berjalan tersuruk-suruk, maju mendekatinya tanpa prasangka apapun. Bahkan kemudian terdengar ia berkata, “Di manakah kau?”

Mahisa Agni justru mundur beberapa langkah. Ia melihat bayangan itu menjadi semakin dekat. Mahisa Agni berdiri di tempat yang lebih baik, namun ia harus cukup waspada. Dari tempatnya berdiri ia yakin bahwa orang itu belum melihatnya.

Meskipun demikian Mahisa Agni berkata pula, “Berhenti di tempatmu!”

“He?” ternyata orang itu terkejut ketika tiba-tiba itu mendengar suara Agni telah begitu dekat di mukanya. Karena itu ia pun segera berhenti pula. Katanya, “Siapakah kau?”

Mahisa Agni tidak segera menjawab. Dengan cermatnya ia mencoba melihat keseluruhan dari orang itu. Namun ia masih terlalu lemah.

Sesaat gua itu menjadi sepi. yang terdengar hanyalah desah nafas orang bongkok itu terengah-engah. Tangannya pun tampak berpegangan pada dinding gua untuk menahan berat badannya. Dan sekali lagi tanpa prasangka apa pun ia maju selangkah. Namun langkahnya tampak betapa beratnya. Dan terdengar ia bertanya pula, “Siapakah kau?”

Mahisa Agni menjadi ragu-ragu. Namun ia masih belum merasa perlu menyatakan dirinya. Bahkan kemudian terdengar ia pun bertanya, “Siapakah kau?”

Orang bongkok itu mengangguk-angguk. Nafasnya masih terengah-engah dan bahkan kemudian ia bergumam, “Aku lelah sekali. Biarlah aku duduk di sini.”

Kembali Mahisa Agni menjadi keheranan. Orang itu sekali tidak berprasangka. Orang itu sama sekali tidak dalam keadaan bersiap untuk menghadapi setiap kemungkinan. Bahkan dengan tenangnya ia duduk bersandar dinding.

Terdengarlah orang itu menarik nafas dalam-dalam sambil bergumam, “Ah. Betapa lelahnya.”

Namun Mahisa Agni tidak mau terjerat oleh keadaan yang belum diketahuinya benar. Mungkin orang itu adalah seorang yang sakti, yang merasa dirinya tak terkalahkan, sehingga ia tidak perlu berkecil hati, siapa pun yang akan dihadapinya. Mungkin pula orang itu sedang memancingnya untuk menghilangkan kewaspadaannya untuk kemudian dengan serta-merta menyerangnya dan sekaligus membinasakannya. Karena itu, Mahisa Agni masih tetap berdiri tegak dalam kesiagaan penuh.

Ketika kemudian Mahisa Agni melihat orang itu masih saja duduk seakan-akan tak ada sesuatu yang dipikirkannya, maka terdengarlah ia sekali lagi bertanya, “He, Ki Sanak. Siapakah kau ini?”

Orang itu tersentak. Kemudian terdengar ia menjawab, “Oh. Hampir aku lupa akan kehadiranmu Ki Sanak. Aku adalah Buyut Ing Wangon.”

“Buyut dari Wangon?” ulang Mahisa Agni.

“Ya,” sahut orang itu. Kemudian ia menggeser duduknya menghadap ke arah suara Mahisa Agni, “Siapakah kau Ki Sanak. Marilah, duduklah di sini. Kenapa kau berada di dalam gelap?”

Sekali lagi Mahisa Agni menjadi heran. Kata-kata orang itu pun seperti sikapnya pula. Tanpa prasangka. Namun Mahisa Agni pun yang masih tetap berprasangka. Karena itu maka ia tidak segera menjawab pertanyaan orang itu. Bahkan kemudian terdengar ia bertanya pula, “Apakah maksud Ki Buyut Wangon datang kemari?”

Orang itu mengangkat alisnya. Tampaklah dalam keremangan pagi yang semakin terang, orang bongkok itu menggerakkan kepalanya. Kemudian katanya, “Kemarilah Ki Sanak. Duduklah, biarlah kita dapat bercakap-cakap dengan baik. Aku sama sekali belum melihat bayanganmu. Di sini, meskipun tidak jelas, aku akan dapat melihat di mana kau sedang duduk.”

Tetapi Mahisa Agni masih tetap berada di tempatnya. Sejengkal pun ia tidak bergeser. Bahkan ia terkejut ketika ia mendengar orang yang menyebut dirinya Buyut Ing Wangon itu tiba-tiba mengeluh, “Bagus. Bagus jangan dekati aku. Kau akan dapat kejangkitan penyakit terkutuk ini pula. Oh, alangkah malangnya apabila aku tak berhasil pulang kembali dengan obat itu.”

Dada Mahisa Agni menjadi ber-debar-debar karenanya. Dari kata-kata itu Mahisa Agni dapat mengetahuinya, bahwa orang bongkok itu sedang mencari obat untuk penyakitnya. Penyakit menular. Namun meskipun demikian Mahisa Agni tidak segera dapat mengambil kesimpulan. Dan terdengarlah ia bertanya, “Ki Buyut. Apakah sakit Ki Buyut itu. Dan apakah obat yang sedang Ki Buyut cari di dalam gua ini?”

Sekali lagi Mahisa Agni melihat, Buyut Wangon itu mencoba menatapnya di dalam gelap. Tetapi agaknya orang bongkok itu masih belum berhasil melihatnya.

“Ki Sanak,” katanya kemudian, “kenapa Ki Sanak bersembunyi?”

“Aku tidak bersembunyi,” jawab Mahisa Agni.

“Oh,” orang itu menarik nafas. Kemudian terdengar ia bertanya, “Siapakah kau sebenarnya?”

Tiba-tiba Mahisa Agni menjadi semakin curiga. Apakah orang ini sedang memancingnya untuk mengetahui siapakah sebenarnya dirinya, dengan perhitungan-perhitungan yang tertentu? Mungkin orang itu ingin mengetahui nama dan tempat tinggalnya. Baru kemudian ia berusaha untuk mencari trisulanya. Kalau kemudian dirinya dapat dikalahkan, dan trisula itu tidak ada padanya, maka orang itu akan dapat mencarinya ke tempat kediamannya. Bahkan Mahisa Agni kemudian menyangka, bahwa tidak mustahil orang itu salah seorang kawan Empu Pedek. Karena itu tiba-tiba saja Mahisa Agni menjawab, “Aku adalah Empu Pedek.”

Mahisa Agni menjadi heran. Dan pertanyaan di dalam dadanya semakin menghunjam ke pusat jantungnya. Ternyata orang itu sama sekali tidak terkejut mendengar jawabannya.

Dengan mengangguk-anggukkan kepalanya terdengar orang itu bergumam, “Empu Pedek. Dari manakah Ki Sanak datang?”

Kalau demikian maka Mahisa Agni merasa dugaannya ternyata meleset. Dan tiba-tiba saja angan-angannya segera bergeser kepada orang yang datang dari Gunung Merapi. Apakah orang ini pun datang dari kaki Gunung Merapi itu? Untuk meyakinkan dugaannya itu maka Mahisa Agni menjawab, “Aku datang dari Gunung Merapi.”

Orang itu kini terkejut. “Gunung Merapi?” ulangnya.

“Ya,” sahut Mahisa Agni.

Namun kemudian Mahisa Agni pun menjadi kecewa. Sebab orang itu tidak terkejut karena sesuatu hubungan dengan dirinya sendiri. Bahkan orang itu kemudian bertanya, “Alangkah jauhnya. Apakah yang telah memukau Ki Senak terpaksa menempuh jarak yang sedemikian panjang?”

Kembali Mahisa Agni tidak dapat segera menjawab pertanyaan itu. Kembali ia menjadi bimbang. Sesaat Mahisa Agni diam mematung. Dan karena itu, maka suasana di dalam gua itu pun menjadi sepi. yang terdengar hanyalah desah nafas orang yang menamakan diri Buyut dari Wangon itu.

Kesepian itu kemudian dipecahkan oleh pertanyaan Mahisa Agni yang tiba-tiba, “Ki Sanak, apakah yang sebenarnya kau cari di dalam gua ini? Kalau Ki Sanak sedang menderita sakit, apakah penyakit itu dan obat apakah yang harus kau temukan?”

Sekali lagi orang bongkok itu menatap gelapnya gua. Namun tak dilihatnya seorang pun. Meskipun demikian terdengar ia menjawab dengan jujur, “Ki Sanak, kami, hampir semua orang dalam padukuhan kami di Wangon terserang penyakit yang aneh. Mereka menjadi lemah dan kemudian meninggal dunia. Tidak saja orang-orang dari Wangon, namun orang-orang padukuhan di sekitarnya pun demikian pula. Akhirnya, kami mendapat petunjuk dari seorang wiku sakti, bahwa penyakit itu akan dapat dilenyapkan dengan obat yang terdapat di dalam gua ini. Akar wregu yang berwarna putih.”

Meskipun Mahisa telah menduganya, namun ketika ia mendengar orang bongkok itu mengucapkan nama akar wregu putih, hatinya berdesir pula. Ternyata orang itu pun mempunyai kepentingan yang sama meskipun alasannya berbeda-beda. Dan ternyata pula, akar wregu putih itu mempunyai nilai yang ganda pula. Tidak saja sebagai rangkapan trisulanya sehingga kedua pusaka itu akan menjadi satu kesatuan yang sakti tiada taranya, namun orang dari Wangon itu memerlukannya untuk obat penyakitnya.

Karena itu, maka Mahisa Agni tidak dapat berbuat lain daripada berjuang kembali untuk mendapatkan pusaka itu. Buyut dari Wangon yang telah berhasil memasuki gua ini pun pasti seorang yang telah dibekali oleh ilmu yang cukup. Bahkan, Mahisa Agni menjadi heran, apakah orang ini tidak berjumpa dengan Empu Pedek sebelum memasuki gua ini? Atau Buyut dari Wangon ini telah berhasil mengalahkan orang timpang itu? Namun apa pun yang telah terjadi, maka kini Buyut Ing Wangon itu harus berhadapan dahulu dengan Mahisa Agni, murid dari padepokan Panawijen.

“Ki Sanak,” kemudian terdengar suara Mahisa Agni “tidak adakah obat lain yang dapat menyembuhkan penyakit-penyakit itu selain dari akar wregu putih dari dalam gua ini?”

Buyut Ing Wangon itu menjadi heran. Katanya, “Kalau ada obat yang lain, maka obat itu pasti sudah kami pergunakan. Beribu-ribu macam obat telah kami coba, namun tak ada yang bermanfaat bagi kami. Bahkan dari hari ke hari, korban dari penyakit itu semakin bertambah-tambah. Mula-mula hampir setiap lima enam hari sekali, ada korban yang meninggal dunia. Kemudian dua tiga hari seorang meninggal, jarak itu menjadi semakin dekat semakin dekat. Akhirnya kini setiap hari padukuhan kami selalu diramaikan oleh jerit tangis anak yang kehilangan orang tua mereka, atau orang-orang tua yang kehilangan anak-anak mereka. Tidak saja seorang sehari, bahkan kadang-kadang saling berpapasan di perjalanan usungan-usungan mayat yang akan dikubur. Bahkan kadang-kadang kami membakarnya lebih dahulu belum sempat menguburkannya.”

“Akhirnya turunlah seorang wiku sakti, petapa di dekat kepundan Gunung Bromo. Wiku itu telah mendengar wisik dari Hyang Widi, bahwa penyakit yang sedang melanda padukuhan Wangon itu dapat disembuhkan dengan akar wregu putih yang terdapat di dalam gua, di lereng gundul Gunung Semeru. Nah, karena itulah aku datang kemari. Namun ternyata sebelum aku berangkat, penyakit itu telah melekat pula dalam tubuhku, sehingga kini aku merasa, tenagaku semakin lama menjadi semakin lemah. Tidak saja karena aku kelelahan, namun penyakit itu telah menghisap sebagian dari kekuatanku.”

Dada Mahisa Agni menjadi semakin berdebar-debar pula. Akar wregu putih itu sangat berarti baginya. Ia telah menempuh jarak yang demikian panjang, dari kaki Gunung Kawi. Telah dilampauinya bermacam-macam bahaya. Binatang buas, orang-orang jahat di perjalanan. Alam dan kesulitan-kesulitan yang lain. Yang terakhir adalah seorang timpang yang bernama Empu Pedek, yang hampir saja merampas nyawanya. Kemudian lereng gundul itu sendiri. Apakah kemudian, ia tidak akan berhak memiliki akar wregu putih itu?

“Apakah yang akan aku hadapi, akar wregu itu harus aku bawa pulang dan aku serahkan kepada guruku, meskipun akan diberikan kepadaku,” katanya di dalam hati. Karena itu tiba-tiba Mahisa Agni menggeram, selangkah ia maju dan dengan lantang ia berkata, “Ki Sanak, Buyut dari Wangon. Sayang, bahwa kau tidak akan dapat memiliki akar wregu putih itu.”

Ki Buyut dari Wangon itu terkejut bukan buatan. Dengan terbata-bata ia berkata, “Kenapa? Kenapa Ki Sanak?”

Terdengar pula jawaban Mahisa Agni lantang, “Akar wregu putih itu adalah milikku!”

Ki Buyut Wangon itu terdiam sejenak. Ia masih mencoba melihat bayangan Agni dalam kegelapan. Namun tak satu pun yang dapat ditangkap oleh matanya. Sejenak kemudian ia berkata, “Jadi adalah akar wregu putih itu milik seseorang?”

“Ya,” sahut Agni pendek.

Orang itu menggeleng. Cahaya keremangan di belakang orang itu menjadi semakin terang. Namun wajah orang itu pun masih belum dapat dilihat dengan jelas oleh Mahisa Agni.

“Aneh,” gumamnya, “Wiku yang sakti itu berkata, bahwa akar wregu putih itu telah berada di tempat ini sejak tujuh ratus empat puluh tiga tahun yang lampau. Seandainya akar itu milik seseorang, apakah orang itu masih hidup sampai saat ini?”

“Aku adalah ahli warisnya,” sahut Mahisa Agni cepat-cepat.

“Oh,” gumam orang itu sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Tujuh ratus tahun adalah waktu yang panjang. Keturunan ke berapakah Ki Sanak ini?

Mahisa Agni terdiam untuk sesaat. Pertanyaan itu sulit dijawabnya. Meskipun demikian Mahisa Agni itu meneruskan jawaban pula, “Aku tidak tahu Ki Buyut, namun kami mendengar turun temurun dari nenek-nenek kami, bahwa kami adalah ahli waris dari akar wregu di dalam gua di lereng gundul Gunung Semeru.”

Orang itu diam pula sejenak. Sambil mengangguk-anggukkan kepala ia kemudian berkata, “Hem. Bagaimanakah kalau aku juga berkata demikian. Aku juga mendapat hak dari pewarisnya. Wiku sakti itu adalah ahli waris yang sah dari akar wregu itu.”

“Bohong!” potong Mahisa Agni, “Bukankah Wiku itu mendengar dari wisik Sang Hyang Widi?”

“Aku belum mengatakan bagaimana bunyi wisik itu,” sahut Buyut Wangon.

“Tidak perlu!” kembali Agni memotong, “kau akan membuat suatu cerita tentang bunyi wisik itu.”

“Ki Sanak,” berkata Buyut dari Wangon itu. Kemudian kata-katanya terdengar lemah dan perlahan-lahan, “Baiklah. Seandainya ada ahli waris dari pemilik akar wregu itu sekali pun. Namun kita berdua datang pada waktu yang berbeda. Aku ternyata lebih dahulu dari Ki Sanak. Kita telah datang pada saat yang hampir bersamaan. Dan kita masing-masing tak dapat menunjukkan kebenaran tentang ahli waris itu. Karena itu biarlah aku yang datang lebih dahulu dapat memilikinya.”

Dan Mahisa Agni berdesir mendengar perkataan Buyut Wangon itu. Dengan demikian, semakin yakinlah ia, bahwa ia harus merebut akar itu dengan suatu perjuangan pula. Karena itu maka jawabnya, “Ki Buyut, Kita tidak sedang berlomba berebut dahulu. Terapi kita sekarang memperebutkan akar wregu putih itu.”

Buyut Wangon itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian terdengar ia berkata, “Ki Sanak bersikeras untuk mendapatkan akar itu, apakah sebenarnya keperluan Ki Sanak dengan akar itu? Apakah di daerah Ki Sanak juga terdapat wabah penyakit seperti daerah Wangon?”

“Apapun yang akan aku lakukan atas akar itu, bukanlah kepentinganmu,” sabut Mahisa Agni.

Kembali Ki Buyut itu terdiam. Dengan lemahnya ia mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun agaknya orang itu tidak berputus asa. Katanya, “Ki Sanak. Aku minta dengan sangat, biarlah aku membawa akar ini, demi keselamatan beratus-ratus bahkan lebih dari seribu orang di berbagai daerah sekitar Wangon.”

“Tidak!” jawab Agni tegas.

Tiba-tiba orang bongkok itu berdiri. Dengan berpegangan pada dinding gua ia berkata, “Aku akan mengambil akar wregu itu. Aku tidak dapat membiarkan seluruh penduduk Wangon dan sekitarnya menjadi tumpas karena penyakit terkutuk itu Dan tentu saja aku ingin menyelamatkan nyawaku sendiri pula.”

Sebelum Mahisa Agni menjawab orang itu sudah melangkahkan kakinya. Namun tiba-tiba ia terhenti pula ketika Mahisa Agni membentak, “Berhenti! Jangan maju lagi meskipun hanya selangkah!”

Orang itu berpaling. Namun belum juga dilihatnya Mahisa Agni. Katanya, “Apakah Ki Sanak tidak juga dapat mengerti? Apakah tidak ada rasa perikemanusiaan sama sekali di dalam dada Ki Sanak?”

Namun akar wregu putih itu, bagi Mahisa Agni adalah benda yang sangat berharga. Karena itu jawabnya lantang, “Ki Buyut dari Wangon. Kita bersama-sama menganggap benda itu sangat penting bagi diri kita masing-masing. Kita masing-masing sudah menempuh jarak yang tak terkirakan jauh dan bahayanya. Kini kita berhadapan di dalam gua ini. Karena itu, biarlah kita selesaikan persoalan kita, seperti persoalan-persoalan lain yang timbul di perjalanan. Kita tentukan siapakah di antara kita yang berhak memiliki akar wregu putih itu.”

Orang bongkok itu masih berdiri di tempatnya sambil berpegangan dinding gua. Ketika ia mendengar kata-kata Mahisa Agni itu pun ia menjadi terkejut. Maka katanya, “Apakah maksud Ki Sanak itu? Bagaimanakah kita akan menentukan, siapakah di antara kita yang berhak memiliki wregu itu?”

“Kita adalah laki-laki,” sahut Mahisa Agni, “Kita telah berani menempuh perjalanan ini. Karena itu nyawa kita pertaruhkan. Nah, bersiaplah. Kita akan bertempur sampai ada di antara kita yang mencabut keinginan kita untuk memiliki benda itu. Hidup atau mati!”

“Oh,” ternyata Buyut Wangon itu terkejut bukan buatan. Dan terlontarlah pertanyaan dari mulutnya, “Jadi haruskah kita berkelahi?”

“Ya!” jawab Mahisa Agni pendek.

“Oh,” orang itu tiba-tiba mengelus dadanya, dan tampaklah tiba-tiba pula ia menjadi gemetar. Katanya, “Ki Sanak, aku datang kemari dari jarak yang jauh itu untuk menghindarkan kematian dari orang-orang di Wangon. Kenapa tiba-tiba aku di sini dihadapkan pada kemungkinan untuk mati dengan cara yang demikian? Ki Sanak, aku tak pernah membayangkan, bahwa seseorang dapat berbuat seperti Ki Sanak itu. Aku tidak pernah dapat mengerti, kenapa seseorang harus berkelahi?”

“Sekarang kau akan mengerti Ki Buyut,” sanggah Mahisa Agni, “dalam keadaan seperti keadaan kita sekarang. Tak ada cara penyelesaian yang lain!”

“Aku kira Ki Sanak bisa mengerti, demi perasaan ke perikemanusiaan yang ada di dalam dadamu, meskipun hanya sepercik kecil.”

Mahisa Agni terdiam sesaat. Namun benda itu sudah diusahakannya dengan melintasi bahaya. Karena itu kembali tekad yang bulat mencengkam dadanya. Maka jawabnya,” Aku akan mengambil akar itu.”

“Jangan Ki Sanak!” pinta Buyut Wangon itu sambil gemetar, “Aku tidak pernah membayangkan untuk berkelahi dengan siapa pun, namun ribuan orang di sekitar daerah Wangon menanti kedatanganku dengan obat itu.”

“Aku tidak peduli!” jawab Agni singkat.

Orang itu masih memegangi dadanya seakan-akan takut akan pecah. Dan terdengarlah ia berkata lirih, “Ki Sanak. Katakanlah, apakah gunanya akar itu bagi Ki Sanak? Apakah Ki Sanak akan mempergunakannya sebagai obat seperti aku akan mempergunakannya? Apabila demikian Ki Sanak, biarlah aku mengalah. Sebab kegunaan akar wregu itu akan sama saja, di tempat Ki Sanak atau di Wangon. Kedua-duanya memungkinkan tertolongnya ribuan jiwa, termasuk perempuan dan kanak-kanak. Atau apabila Ki Sanak rela, aku hanya ingin mendapat sepotong daripadanya. Mudah-mudahan akan mampu menolong jiwa orang-orang di sekitar tempat Ki Sanak dan orang-orang di Wangon sekaligus.”

Kembali terasa sesuatu berdesir di dalam dada Mahisa Agni. Ribuan orang akan diselamatkan oleh akar wregu putih itu. Tetapi ketika kembali diingatnya, bahwa akar itu adalah rangkapan pusakanya, yang dapat menjadikannya sakti tiada taranya, maka kembali ia berkata, “Jangan ributkan kegunaannya! Minggir! Aku akan mengambil akar wregu itu.”

Kini Mahisa Agni tidak menunggu jawaban lagi. Ia maju beberapa langkah sambil berkata, “Kalau kau ingin menentukan siapa di antara kita yang berhak memiliki akar wregu itu, bersiaplah. Kalau tidak, minggirlah!”

Orang itu tidak menjawab pertanyaan Agni. Bahkan dengan serta-merta ia memutar tabuhnya, dan dengan sekuat ia dapat, maka orang bongkok itu mencoba berlari tersuruk-suruk masuk ke pusat gua itu.

Sesaat Mahisa Agni tertegun. Ia menjadi sedemikian heran. Orang bongkok itu sama sekali tidak bersiap untuk melawannya, tetapi orang itu telah mencoba untuk berlari mendahuluinya.

Ketika Mahisa Agni tersadar akan keadaan itu, maka ia pun tidak mau terlambat. Karena itu segera ia berteriak nyaring, “He, Buyut Ing Wangon. Berhentilah!”

Tetapi orang bongkok itu berlari terus. Terhuyung-huyung dan kadang-kadang tubuhnya terbanting-banting di sisi gua. Namun ia berlari terus.

Mahisa Agni kemudian menjadi marah karenanya. Dan terdengarlah sekali lagi ia berteriak, “He, bongkok! Berhenti atau aku terpaksa menghentikanmu!”

Kali ini pun Buyut Ing Wangon itu seolah-olah tidak mendengarnya. Ia masih berlari terus, namun larinya tidak lebih dari kecepatan anak-anak yang sedang belajar berjalan.

Mahisa Agni itu kini benar telah menjadi marah. Ia merasa seakan-akan Buyut Ing Wangon itu sama sekali tak menghiraukan kehadirannya. Karena itu tiba-tiba Mahisa Agni itu pun meloncat menyusulnya. Tidak lebih dari sepuluh langkah Mahisa Agni telah mencapai buyut bongkok itu. Dengan satu sentuhan yang menyentak orang bongkok itu telah terpelanting membentur mulut gua, dan kemudian jatuh terjerembab di lantai yang lembab.

Mahisa Agni kemudian berdiri di sisinya sambil menggeram. Dengan tajam ia memandangi Buyut Wangon itu sambil berkata, “Jangan mencoba melawan kehendakku!”

Terdengar Buyut Ing Wangon itu mengeluh. Sesaat terdengar pula ia merintih. Katanya, “Ki Sanak, kenapa Ki Sanak menyakiti aku?”

“Kau tidak mau mendengar kata-kataku. Kalau kau ingin mendapat akar wregu putih itu, marilah kita bertempur. Kalau tidak jangan mencoba menghalangi aku,” sahut Mahisa Agni.

Dengan susah payah Buyut Ing Wangon itu mencoba duduk. Mulutnya masih saja berdesis menahan hati. Dan terdengarlah ia berkata terbata-bata, “Ki Sanak. Apakah hal yang demikian itu wajar?”

“Lalu?” bertanya Agni, “Apakah kau mempunyai cara lain?”

“Sudah aku katakan Ki Sanak. Aku datang lebih dahulu diri Ki Sanak,” jawab Buyut Wangon itu. Sesaat ia berhenti menelan ludahnya. Kemudian katanya, “Kalau hal itu Ki Sanak menganggap tak sepantasnya, maka katakanlah, apakah keperluanmu dengan akar wregu itu. Marilah kita bicarakan manakah yang paling penting penggunaannya. Ki Sanak atau aku. Kalau ternyata keperluan Ki Sanak jauh lebih penting dari keperluanku, biarlah aku mengalah Aku tak akan kembali lagi ke Wangon, sebab aku sendiri pasti sudah akan mati karena penyakitku itu di sini.”

Sekali lagi terasa sesuatu berdesir di dalam dada Mahisa Agni. Namun sekali lagi ia membulatkan tekadnya. Pusaka itu akan ditebusnya dengan apa saja. Dengan tenaganya, dengan darahnya dan dengan mengorbankan perasaannya.

Karena itu Mahisa Agni itu pun menjawab, “Jangan bertanya lagi kegunaan akar wregu itu bagiku.”

Buyut Ing Wangon itu menarik nafas dalam-dalam. Terdengar ia mengeluh kemudian katanya lemah, “Lalu bagaimanakah kita bisa menentukan, siapakah yang lebih penting di antara kita?”

“Jangan ributkan kepentingan kita masing-masing,” bantah Agni.

“Oh, alangkah malangnya dunia ini,” desah Buyut Wangon, “apabila setiap persoalan hanya dapat ditentukan dengan kekerasan. Akan lenyaplah martabat kita sebagai manusia yang berakal budi.”

Kata-kata Buyut Wangon itu langsung menghunjam ke jantung Mahisa Agni. Sesaat ia terbungkam, dan terasa getaran-getaran di dadanya. Namun demikian dicobanya sekuat tenaga untuk menekan perasaan itu, “Aku bukan perempuan yang cengeng, yang dapat terpengaruh oleh persoalan-persoalan yang tak berarti.”

Dan tiba-tiba saja meledaklah jawabnya, “Buyut dari Wangon. Jangan menjual belas kasihanku di sini. Kalau aku berbuat seperti berbuat seperti perbuatanku kini, pastilah sudah aku pertimbangkan baik buruknya. Kau hanya mampu berpikir pada masalah-masalah sekitar daerahmu saja. Daerah Wangon dan sekitarnya. Namun aku telah menjelajahi berbagai daerah, berbagai persoalan dan berbagai masalah. Karena itu akar itu jauh bermanfaat bagiku daripada bagimu.”

Buyut Wangon itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Tetapi beribu-ribu jiwa di Wangon menanti penyembuhannya. Kalau tidak, maka mereka akan menjadi seperti babatan paying. Malang melintang, mati tak terurus. Sebab semua orang akan mati pula karenanya.”

Mahisa Agni menggeleng-gelengkan kepalanya, seakan-akan melemparkan getaran kata-kata Buyut Wangon yang menyentuh telinganya.

“Tidak! Tidak!” tiba-tiba ia berteriak, “Aku tidak peduli urusanmu!”

Mahisa Agni tidak menunggu orang bongkok itu berkata-kata pula. Seakan-akan ia menjadi takut terhadap setiap persoalan yang dikatakan oleh orang bongkok itu. Dengan serta-merta, Mahisa Agni itu pun segera memutar tubuhnya, dan bersiap untuk segera memasuki gua itu lebih dalam lagi.

Tetapi ia terkejut, ketika tiba-tiba terasa Buyut Ing Wangon itu memeluk kakinya sambil memeganginya kuat-kuat. Kemudian terdengarlah ia berkata, “Jangan Ki Sanak, jangan kau ambil akar wregu itu. Beribu-ribu jiwa hidupnya tergantung dari perjalananku sekarang.”

—–
“Jangan Ki Sanak, jangan kau ambil akar wregu itu. Beribu-ribu jiwa hidupnya tergantung dari perjalananku sekarang.”
—–

Mahisa Agni menghentak-hentakkan kakinya. Terdengar ia pun berteriak, “Lepaskan! Lepaskan!”

Namun Buyut Wangon tidak mau melepaskannya. Bahkan orang bongkok itu mencoba untuk memegangnya lebih erat lagi. Sehingga dengan demikian Mahisa Agni menjadi marah kembali. Dengan satu hentakkan yang keras, Buyut Wangon itu terlempar beberapa langkah dan terbanting di lantai gua itu. Terdengar ia berteriak kesakitan. Namun ia masih juga berkata di antara desisnya, “Jangan Ki Sanak. Jangan.”

Tetapi Mahisa Agni tidak mau mendengarnya lagi. Cepat-cepat ia berlari. Berlari. Sedang kedua tangannya dengan kerasnya menyumbat kedua telinganya.

Mahisa Agni berusaha secepat-cepatnya untuk menjauhi Buyut Ing Wangon – yang masih terkapar sambil merintih-rintih – seakan-akan takut dikejarnya. Namun sebenarnya Mahisa Agni tidak merasa takut sedikit pun seandainya Buyut Wangon itu mengejarnya dan berusaha melawannya. Sejak semula ia sudah siap untuk bertempur. Tetapi ia takut terhadap perasaannya sendiri. Keluhan orang bongkok itu ternyata selalu menimbulkan getaran-getaran di dalam dadanya. Dan ia tidak mau perasaannya menjadi runtuh karenanya.

Sekali-kali kaki Mahisa Agni terperosok pada lubang-lubang di lantai gua. Bahkan beberapa kali Mahisa Agni itu jatuh terjerembab, namun kemudian ia bangkit lagi dan berlari kembali sambil meraba-raba dinding. Meskipun ia tidak dapat lari secepat-cepatnya, namun semakin lama ia menjadi semakin jauh dari Buyut Wangon. Dan ketika ia sudah tidak mendengar suara rintihan orang bongkok itu, Mahisa Agni pun berhenti Perlahan-lahan Mahisa Agni berpaling. Namun yang dilihatnya adalah sebuah takbir yang kelam di belakangnya. Kini barulah ia sadar, bahwa dirinya berada di dalam cengkaman dinding-dinding gua yang hitam pekat.

Nafas Mahisa Agni itu pun terdengar berkejar-kejaran dari lubang hidungnya. Terasa betapa cepatnya. Dengan susah payah Agni mencoba menenangkan dirinya.

Buyut dari Wangon itu ternyata mempunyai kesan yang aneh di dalam hati Mahisa Agni. Setelah ia menempuh perjalanan yang berat, dan mengalami banyak rintangan-rintangan, orang-orang jahat dan orang-orang yang mencoba mencegahnya tanpa menimbulkan kecemasan di dalam dirinya, namun kini tiba-tiba ditemui seorang yang lemah, sakit, bahkan hampir mati. Namun orang itu benar-benar mengganggu perasaannya

“Persetan dengan orang itu!” tiba-tiba Mahisa Agni menggeram. Ia ingin mencoba menekan perasaannya. Akar wregu putih itu baginya adalah benda yang akan menjadi sangat berharga.

Mahisa Agni menggigit bibirnya. Sekali lagi ia berjuang untuk tidak terpengaruh oleh setiap perasaan yang mengganggu pekerjaannya. Tiba-tiba Mahisa Agni itu pun melangkahkan kakinya. Ia harus segera menemukan akar wregu putih itu.

Ternyata Mahisa Agni sudah tidak begitu jauh lagi dari pusat gua. Ketika sekali lagi menemui lubang udara, maka segera ia pun mengetahui, bahwa matahari telah tinggi di langit yang biru. Dari lubang itu Mahisa Agni melihat betapa cerahnya udara, dan cerahnya sinar matahari. Namun ia masih harus berada di dalam gua yang hitam kelam itu.

Mahisa Agni berjalan kembali beberapa langkah, kemudian terasa kakinya menyentuh tangga-tangga yang membawanya mendaki. Namun tangga-tangga itu tidak begitu tinggi, sehingga, segera ia sampai di ujungnya. Sekali ia membelok ke kiri, kemudian sekali lagi Mahisa Agni melihat seberkas sinar jatuh di lantai gua.

Mahisa Agni masih melangkah maju. Bahkan ia masih tetap berjalan dengan penuh kewaspadaan. Ternyata beberapa orang telah ditemuinya. Dan di antara mereka telah mengetahui pula adanya akar wregu putih itu sehingga tidak mustahil bahwa ada orang-orang lain lagi yang telah mengetahuinya pula, selain Buyut dari Wangon, Empu Pedek, orang dari Gunung Merapi yang tak diketahui namanya, dan gurunya.

Dada Mahisa Agni itu pun menjadi semakin berdebar-debar pula. Tiba-tiba ia cemas. Tidak pula mustahil, bahwa akar itu telah diambil pula oleh seseorang yang datang lebih dahulu daripadanya beberapa hari atau beberapa bulan dan bahkan beberapa tahun yang lalu, setelah gurunya mengunjungi gua ini.

“Hem,” gumamnya, “kenapa guru tidak mengambilnya saja pada waktu itu?”

Namun Mahisa Agni menyadarinya kembali, bahwa pasti ada alasan-alasan tertentu, sehingga gurunya berbuat demikian. Alasan-alasan yang tak diketahuinya dan tak diberitahukannya kepadanya.

Tiba-tiba debar jantung Mahisa Agni itu pun menjadi semakin cepat. Terasa sesuatu menyentuh perasaannya. Firasatnya mengatakan kepadanya, bahwa perjalanannya hampir sampai ke tujuannya.

Ketika sekali lagi Mahisa Agni menikung ke kanan, dilihatnya kembali semakin terang. Dan ternyata lubang ini agak lebih besar daripada yang pernah ditemuinya.

Perlahan-lahan Mahisa Agni melangkah maju. Dengan penuh kewaspadaan dipandangnya setiap sudut gua yang terbentang di hadapannya. Tiba-tiba langkah Mahisa Agni itu pun terhenti. Di bawah berkas sinar yang jatuh itu dilihatnya dinding gua itu terputus. Ia tidak melihat lagi sebuah lubang pun pada dinding-dinding itu, sehingga tiba-tiba ia bergumam, “Apakah aku sudah sampai ke ujung gua ini?”

Debar dada Mahisa Agni menjadi kian cepat. Dan darahnya terasa seakan-akan membeku ketika matanya terbentur pada sebuah lubang kecil di dinding gua. Di dalam lubang itu dilihatnya, apa yang dicarinya selama ini. Kain yang berwarna merah, namun karena tuanya, maka warna itu telah hampir lenyap dan bertapikan kain putih yang sudah kekuning-kuningan.

Tiba-tiba tubuh Mahisa Agni menjadi gemetar karenanya. Terasa sesuatu melonjak di dalam ruang dadanya. Sesaat ia diam mematung, seolah-olah ia menjadi kehilangan kesadaran

Namun sesaat kemudian dengan serta-merta ia meloncat untuk meraih benda yang akan dapat ikut serta menentukan perjalanan hidupnya. Tetapi karena ia sedemikian tergesa-gesa sehingga Agni itu pun terpeleset dan jatuh terbanting di lantai gua yang berbatu-batu padas. Terdengar ia mengeluh pendek. Namun perasaan sakit di lututnya sama sekali tak dihiraukannya. Sekali lagi ia bangkit, dan sekali lagi ia meloncat. Kali ini ia berhasil. Digenggamnya benda itu erat-erat, dan kemudian dengan tangan yang gemetar diurainya kain pembalutnya. Sekali lagi dadanya berdesir. Kini digenggamnya sepotong akar wregu yang panjangnya kira-kira dua cengkang. Dengan tangan yang gemetar diciumnya akar wregu itu sambil bergumam dengan suara parau, “Terpujilah Namamu, Yang Maha Agung.”

Betapa besar hati Mahisa Agni setelah ia memegang benda yang selama ini dicarinya dengan banyak pengorbanan. Benda yang akan menjadikan manusia jantan yang pilih tanding. Benda yang dapat menjadikannya manusia yang sukar dicari bandingnya. Karena itu untuk sesaat Mahisa Agni seakan-akan tenggelam dalam sebuah mimpi yang indah. Mimpi tentang masa depannya yang cerah. Terngianglah di sudut hatinya kata-katanya sendiri, “Ayo, siapakah yang akan berani melawan kehendak Mahisa Agni? Apapun yang akan aku lakukan tak seorang pun yang dapat mencegahnya. Dengan benda ini dan trisula yang sakti itu, akan dapat aku gulung dunia ini.”

Tiba-tiba Mahisa Agni itu pun tertawa sendiri. Dan tiba-tiba ia berdiri bertolak pinggang sambil berkata lantang, “Inilah Mahisa Agni. Manusia tersakti di muka bumi.”

Dan seperti orang yang kehilangan ingatan, sekali lagi akar wregu putih itu diciuminya.

Namun semakin lama, Mahisa Agni itu pun menjadi semakin tenang. Seolah-olah anak muda itu tersadar dari tidurnya yang ditandu dengan mimpi yang mengagumkan. Perlahan-lahan segenap ingatan yang terang kembali merayapi hati Mahisa Agni kemudian berhasil kembali menguasai dirinya, menguasai luapan perasaannya. Bahkan tiba-tiba ia menjadi malu sendiri, setelah disadarinya, Apa yang baru saja dilakukannya

Maka Mahisa Agni itu kemudian dengan langkah satu-satu berjalan menepi. Kemudian perlahan-lahan pula ia meletakkan dirinya duduk bersandar dinding gua. Diambilnya sebuah tarikan nafas yang panjang sekali. Dan baru kemudian ia mengamat-amati akar wregu di tangannya.

Akar wregu itu adalah akar wregu seperti yang pernah dilihatnya. Tidak ada kekhususannya, selain warnanya yang memang agak keputih-putihan. Bahkan warna putih itu pun tidak memberikan kesan apa pun pada penglihatan Mahisa Agni. Namun bagaimana pun juga, gurunya telah berkata kepadanya bahwa benda itu akan dapat menjadi rangkapan pusakanya, sehingga kedua pusaka itu akan merupakan sepasang pusaka yang tak ada bandingnya.

Sekali-kali terasa juga keragu-raguan di dalam dada Mahisa Agni itu. Apakah tidak mustahil bahwa seseorang telah datang mendahuluinya dan menukar akar wregu ini dengan akar wregu yang lain? Ketika sekali lagi Mahisa Agni memandang akar wregu dalam cahaya yang jatuh lewat lubang-lubang di atas gua itu, sekali lagi tergores suatu pertanyaan di dalam dadanya. Apakah benar akar yang dicarinya itu, adalah yang kini digenggamnya?

“Ah, tentu,” gumamnya tiba-tiba. Ia telah berjalan sampai ke ujung gua ini. Dan benda inilah satu-satunya yang ditemukannya. Apabila seseorang telah datang lebih dahulu daripadanya, apakah perlunya orang itu menukarnya? Kenapa tidak saja benda itu pun diambilnya?

Dalam pada itu, Mahisa Agni pun segera teringat kepada orang timpang di kaki lereng gundul ini. Empu Pedek. Beberapa keanehan telah mengganggu otaknya. Kenapa Empu Pedek itu tidak mendahuluinya mengambili pusaka ini. Seandainya demikian, bukankah akibatnya akan sama saja baginya. Ia masih akan tetap pada keadaannya, dan kemungkinan untuk mengetahui orang-orang lain yang akan mengambil akar itu, dengan harapan untuk menemukan trisulanya. Sebab sebelum seseorang memiliki kedua-duanya, maka ia belum seorang yang sakti tanpa tanding. Sehingga betapapun saktinya Empu Pendek, namun tak semua orang di bawah kolong langit ini dapat dikalahkannya. Juga belum pasti orang yang memiliki trisula itu pun dapat dikalahkannya pula.

Dalam pada itu timbul pula dugaannya, bahwa sebenarnya seseorang telah mengambil akar wregu yang sebenarnya. Namun telah ditukarkannya dengan benda yang lain, sehingga dengan demikian, tak ada orang yang akan mengejarnya. Orang yang menemukan akar itu kemudian akan menyangka bahwa akar itu adalah akar yang sebenarnya, dan tidak dicarinya pula akar wregu putih itu, sehingga sampai pada saatnya, ditemukannya rangkapannya. Trisula.

Berbagai-bagai persoalan datang hilir mudik di kepala Mahisa Agni. Namun akhirnya ia mengambil suatu kesimpulan, “Biarlah apa yang ada ini aku bawa kembali. Guru telah pernah melihatnya dahulu, sehingga Empu Purwa itu pasti akan dapat mengetahuinya, apakah akar wregu inilah yang sebenarnya harus aku cari. Apabila ternyata keliru, maka betapapun beratnya, aku harus berjalan kembali untuk menemukan akar yang sebenarnya itu. Yang pertama-tama harus ditemukan adalah orang timpang yang menamakan diri Empu Pedek itu.”

Kini Mahisa Agni telah benar-benar menjadi tenang. Bahkan kini terasa olehnya, betapa tubuhnya menjadi penat. Telah sehari semalam, bahkan lebih, ia berada dalam ketegangan lahir batin. Apalagi setelah ia berjuang memeras tenaga melawan rintangan-rintangan yang dihadapinya. Karena itu, maka baru kini terasa, persendiannya sakit-sakit dan pedih-pedih menjalari di seluruh telapak tangan dan kakinya. Bahkan dilihatnya pula beberapa goresan merah pada lutut dan lengannya.

“Aku harus beristirahat,” gumamnya. Sebab Mahisa Agni itu pun sadar bahwa perjalanan pulang ke Panawijen itu pun akan mempunyai persoalan-persoalannya sendiri. Tidak terlalu jauh. Di bawah lereng ini, Empu Pedek masih menunggunya. Orang itu pasti belum akan melepaskan niatnya untuk memiliki trisulanya dan sekaligus akar wregu putih ini.

“Sayang,” desah Agni tiba-tiba, “Kalau trisula itu aku bawa serta maka aku akan keluar dari gua ini dengan pasti, bahwa tak seorang pun akan dapat mengalahkan aku.”

Tetapi tiba-tiba pikiran itu terdorong pula oleh sebuah pikiran yang lain, “Bagaimana kalau aku binasa sebelum sampai ke gua ini, atau akar ini bukanlah akar wregu putih yang sebenarnya?”

Tiba-tiba Mahisa Agni itu pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Kini ia tidak mau berpikir lagi. Ia hanya ingin beristirahat, untuk kemudian keluar dari gua ini dengan tenaga yang cukup untuk menghadapi setiap kemungkinan.

Demikianlah kemudian Mahisa Agni itu duduk sambil menjulurkan kedua kakinya lurus-lurus sambil bersandar ke dinding. Dicobanya untuk benar-benar dapat beristirahat dan mengumpulkan segenap kekuatannya kembali.

Meskipun perlahan-lahan namun pasti, Mahisa Agni telah menemukan kesegaran tenaganya kembali, sekali-kali dipijitnya kakinya dan direntangkannya tangannya.

Sesaat kemudian Mahisa Agni itu berdiri. Ketika kantuknya tiba-tiba menyerang, dicobanya pula untuk melawannya. Ia tidak mau tertidur dan ia tidak mau seseorang datang kepadanya, membunuhnya selagi ia tidur dan mengambil akar wregu yang sudah di tangannya itu.

Setelah beberapa kali menggeliat, serta telah digerak-gerakkannya tangan serta kakinya, maka Mahisa Agni merasa, bahwa sebagian besar tenaganya telah pulih kembali. Meskipun hampir dua hari ia tidak makan apapun, namun Mahisa Agni telah menjadi biasa dengan keadaan itu. Di padepokannya pun ia sering melakukannya. Tidak makan dan tidak minum sebagai laku prihatinnya. Dan kini, ternyata apa yang sejak lama telah dilakukannya itu sangat bermanfaat baginya. Apalagi pada saat-saat ia mempertaruhkan benda yang dianggapnya sangat berharga itu, maka Mahisa Agni itu pun sama sekali tidak merasakan lapar.

Kini Mahisa Agni telah bersiap untuk keluar kembali dari gua.

SEKALI LAGI MAHISA AGNI MEMANDANGI AKAR WREGU itu, dan kemudian dibalutnya dengan rapi. Diselipkannya akar itu di ikat pinggangnya di bawah bajunya. Kini tangannya sekali-kali meraba hulu kerisnya. Seakan-akan ia berkata kepada pusaka itu. Kita akan menghadapi setiap kemungkinan bersama-sama untuk melindungi akar wregu putih ini.

Perlahan-lahan Mahisa Agni melangkah keluar dari ujung gua itu. Setelah sekali ia membelok maka ia sampai pada daerah yang gelap. Sekali ia masih menemui lubang udara lagi, namun sesaat kembali ia terlempar ke daerah yang kelam.

Dengan sangat hati-hati dan penuh kewaspadaan Mahisa Agni berjalan sambil meraba-raba dinding. Dengan hati-hati pula ia menuruni tangga dan kemudian menyusur daerah yang lembab. Di kejauhan Mahisa Agni melihat remang-remang sinar jatuh ke dalam gua. Sinar yang masuk lewat lubang-lubang seperti yang beberapa kali telah dilihatnya.

Namun tiba-tiba langkah Mahisa Agni terhenti. Di muka sinar yang samar-samar itu ia telah melemparkan Buyut Ing Wangon. Karena ini tiba-tiba ia menjadi berdebar-debar. Apakah orang itu masih di sana? Pertanyaan itu timbul di dalam hatinya. Namun dijawabnya sendiri, “Aku telah memiliki akar ini. Biarlah aku tidak menghiraukannya lagi.”

Kemudian Mahisa Agni itu pun bahkan mempercepat langkahnya. Ia ingin segera melampaui orang bongkok dari Wangon itu. Karena itu, maka Mahisa Agni itu pun kemudian berjalan semakin cepat pula.

Tetapi sekali lagi langkahnya terhenti. Lamat-lamat ia telah mendengar suara orang itu merintih.

“Gila!” desahnya, “Kenapa orang itu masih belum pergi juga?”

Ketika sekali lagi Mahisa Agni mendengar rintihan itu terasa dadanya berdesir. Namun sambil mengatupkan giginya rapat-rapat sambil menggeram ia melangkah maju. Ia ingin melompati orang itu untuk kemudian dengan cepat meninggalkannya. Namun, desir di dadanya itu semakin lama menjadi semakin tajam. Bahkan kemudian Mahisa Agni itu terpaku di tempatnya. Ia tidak dapat maju lagi.

Kini Mahisa Agni harus berjuang melawan perasaannya. Suara orang dari Wangon itu terdengar sangat memelas. Tetapi apakah yang dapat dilakukan?

Tiba-tiba Mahisa Agni itu pun berteriak sekeras-kerasnya untuk menindas perasaan yang semakin menggelora di dalam dadanya. Katanya, “He, Buyut Ing Wangon. Menepilah! Aku akan lewat, supaya kau tidak terinjak karenanya.”

“Oh,” terdengar orang itu berdesis. Tidak terlalu keras, namun Mahisa Agni dapat mendengarnya, “kaukah Empu dari Gunung Merapi itu?”

“Ya,” sahut Mahisa Agni pendek. Tetapi kemudian ia berteriak, “Aku akan membunuh siapa saja yang menghalangi aku!”

“Apakah kau sudah berhasil menemukan akar wreguitu?” terdengar Buyut itu bertanya.

“Sudah!” jawab Agni kasar, “Apakah maumu?”

“Syukur. Syukur,” gumam orang itu.

Sekali lagi dada Mahisa Agni berdesir. Dan sekali lagi ia berusaha menindas perbuatannya. Ia berteriak-teriak untuk mengusir setiap bisikan di dalam hatinya, “Pergilah supaya aku tidak membunuhmu!”

“Kau tak usah melakukannya, Ki Sanak,” terdengar suara itu semakin lemah, “sebentar lagi aku akan mati dengan sendirinya. Tidak hanya aku, tetapi beribu-ribu orang lain.”

“Persetan! Persetan!” Mahisa Agni itu berteriak-teriak seperti orang gila. Katanya seterusnya, “Pusaka ini sangat penting bagiku. Matilah orang Wangon. Matilah bersama segenap keluarga dan orang-orangmu.”

“Ya,” jawab Buyut Ing Wangon itu, “aku memang akan mati. Dan sebelum mati aku akan mengucapkan selamat kepadamu, Ki Sanak. Namun, apakah aku boleh mendengar kegunaan akar itu padamu? Biarlah aku mengetahuinya .Mungkin pengetahuan itu akan mempermudah perjalananku ke alam yang langgeng.”

Terasa dada Mahisa Agni itu bergelora. Namun seperti orang gila ia berteriak-teriak pula, “Ketahuilah, he, Buyut Ing Wangon. Pusaka ini akan menjadikan aku seseorang yang sakti pilih tanding.”

“Oh,” desah orang itu, “hanya itu?”

“Kenapa hanya itu?” ulang Mahisa Agni, “dengan kesaktianku aku akan dapat berbuat apa saja. Aku akan berbuat kebajikan dan menjunjung kebenaran. Kau dengar?”

“Ya, ya. Aku dengar. Syukurlah apabila demikian. Mudah-mudahan kau akan dapat mengamalkannya,” sahut Buyut dari Wangon. Dan perlahan-lahan orang itu berkata pula, “Tetapi Ki Sanak, apakah aku dapat menitipkan satu pesan kepadamu?”

Gelora di dalam dada Mahisa Agni semakin lama menjadi semakin keras. Setiap kata yang terpancar dari mulut orang bongkok itu serasa sebuah tusukan yang menghunjam dadanya. Meskipun demikian Mahisa Agni menyahut juga, “Apakah pesan itu?”

“Ki Sanak,” berkata Buyut Ing Wangon yang sudah menjadi semakin lemah, “terima kasih.”

“Jangan berterima kasih kepadaku!” bentak Mahisa Agni, “aku belum menyatakan kesediaanku. Aku ingin mendengar dulu pesan itu.”

“Oh,” desah Buyut Wangon, “baiklah. Aku ingin kau menyampaikan pesanku. Katakanlah kepada orang-orang Wangon, bahwa Buyut Ing Wangon telah berusaha untuk mendapatkan obat itu. Namun ia tidak berhasil. Sampaikan permintaan maafku yang sebesar-besarnya kepada mereka, bahwa aku mati di dalam gua di mana akar wregu itu disimpan. Dengan demikian..”

“Cukup!” bentak Agni semakin keras, “jangan lanjutkan supaya aku tidak menjadi semakin marah.”

“Oh,” sekali lagi Buyut Wangon itu berdesah, “kenapa Ki Sanak menjadi marah. Atau barangkali Ki Sanak berkeberatan untuk singgah di Wangon.”

“Aku belum pernah mendengar nama padukuhan Wangon,” jawab Mahisa Agni.

“Aku dapat memberimu ancar-ancar.”

“Tidak! Tidak!” dan tiba-tiba Mahisa Agni tersandar di dinding gua. Dan tiba-tiba pula kedua telunjuk tangannya menyumbat telinganya. Teriaknya, “Jangan berbicara lagi! Jangan berbicara lagi! Aku harus memenuhi perintah guruku. Akar wregu ini harus aku bawa pulang.”

Terdengar Buyut Wangon itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian terdengar ia berkata. Meskipun Mahisa Agni telah menyumbat kedua lubang telinganya namun suara itu masih terdengar, “Ya. Ya. Bawalah Ki Sanak bawalah akar itu pulang.”

Mahisa Agni tiba-tiba terbungkam. Tubuhnya pun kemudian bergetar secepat getaran di dadanya. Tanpa sesadarnya Mahisa Agni itu berkata, “Bagaimanakah caramu mempergunakan akar ini untuk mengobati sakitmu itu?”

“Tak ada gunanya,” jawab orang bongkok itu. Mahisa Agni dapat mendengar kata-katanya dengan jelas. Meskipun kedua ujung telunjuknya masih melekat di telinganya, namun ia berusaha untuk mendengar jawaban Buyut Wangon itu.

“Bukankah Ki Sanak ingin menolongku dengan mempergunakan akar itu dahulu kemudian akar itu tetap kau miliki? Tidak bisa. Tidak bisa Ki Sanak. Sebab kami harus menyayat akar itu lumat-lumat. Kemudian setiap orang yang sakit harus menelan meskipun hanya sebagian kecil dari akar itu. Akar itu akan kami lumatkan dan kami aduk dengan air sebanyak-banyaknya sehingga setiap orang dapat minum air itu sebagai obat penyakitnya.”

“Gila!” teriak Mahisa Agni, “Jadi kau ingin merampas akar ini?”

“Tidak,” sahut orang itu cepat-cepat, “aku hanya mengatakan demikian.”

“Jangan berbicara lagi!” perintah Mahisa Agni.

“Tidak. Aku tidak akan berbicara lagi. Tetapi aku ingin menjelaskan. Aku sama sekali sudah tidak bernafsu lagi memiliki akar wregu itu. Milikilah, karena padamu pun wregu itu memiliki nilai kegunaan yang tinggi. Dengan kesaktian yang akan kau peroleh, kau akan dapat melakukan pengabdian pada kemanusiaan. Kau akan dapat menolong sesama yang mengalami kesulitan-kesulitan dan kau akan melakukan tindakan perikemanusiaan. Karena itu aku sekali lagi mengucapkan selamat padamu. Kalau kau tak mau pergi ke Wangon pun tak apa pula. Sebab di sana kau mungkin juga tinggal akan menemui mayat-mayat mereka.”

Kembali Mahisa Agni terdiam. Dan tiba-tiba perjuangan di dalam dadanya menjadi dahsyat. Mahisa Agni telah mengalami berbagai rintangan dalam perjalanannya. Ia harus bertempur dengan orang-orang jahat, dengan binatang-binatang buas sampai yang terakhir dengan Empu Pedek. Semuanya dapat di atasi dengan penuh tekad dan hasrat untuk melaksanakan perintah gurunya dan demi masa depannya.

Namun ketika ia harus berhadapan dengan lawan yang terakhir maka Mahisa Agni menjadi seakan-akan lumpuh. Kini ia tidak bertempur melawan orang-orang sakti dan binatang-binatang buas. Tetapi ia harus bertempur melawan perasaan sendiri. Sebagai seorang anak yang prihatin sejak masa kecilnya, yang merasakan duka derita manusia-manusia yang sedang mengalami kesulitan-kesulitan, yang telah menerima banyak pelajaran dan pendidikan mengenai manusia dan kemanusiaan dari gurunya, yang pernah mendengar cerita tentang ibunya yang membuang diri karena tekanan perasaan yang menghimpit hati, maka kini Mahisa Agni tidak dapat mengelak lagi dari cengkeraman perasaannya.

Dengan akar wregu putih itu ia masih harus melakukan pengabdian. Ia masih harus mencari persoalan. ia masih harus menemukan ketidak adilan dan pelanggaran atas sendi-sendi kemanusiaan untuk ditegakkan dan dibelanya. Ia masih harus mencari lawan, betapa lawan yang dicarinya itu adalah orang-orang jahat. Dan sekarang kesempatan pengabdian yang nyata telah ada di hadapannya. Bukankah dengan memberikan akar wregu putih itu ia telah melakukan pengabdian kepada kemanusiaan dalam bentuk yang nyata dan langsung. Beribu-ribu orang akan terbebas dari kematian yang mengerikan. Sakit, semakin lama menjadi semakin lemah, dan akhirnya kematian menerkamnya. Apakah dengan memiliki akar wregu putih itu kelak ia akan mendapat kesempatan untuk membela, melindungi atau tindak apapun yang dapat menyelamatkan jiwa sampai lebih dari seribu orang? Atau malahan dengan akar wregu itu ia akan menjadi takabur dan menyombongkan diri?”

Pertempuran di dada Mahisa Agni itu pun menjadi semakin dahsyat. Sekali-kali terbayang wajah gurunya yang tenang sejuk dan dalam, namun sekali-kali terbayang mayat yang membujur lintang di antara pekik anak-anak dan bayi yang mencari susu ibunya. Namun ibunya telah mati, dan perlahan-lahan bayi itu akan mati pula.

Gambaran-gambaran yang mengerikan semakin lama semakin jelas hilir mudik di kepala Mahisa Agni. Dan kini ia benar-benar tidak mampu lagi untuk mengelakkan diri dari terkaman-terkaman peristiwa-peristiwa yang membayanginya.

Mahisa Agni yang perkasa, yang mampu bertempur melawan orang-orang sakti dan binatang-binatang buas itu kini terduduk dengan lemahnya bersandar dinding. Sekali-sekali ia menggelengkan kepalanya untuk mengusir perasaannya yang telah melumpuhkannya. Namun perasaan itu telah melekat dengan eratnya pada dinding hatinya.

Ketika terngiang kembali pesan Buyut Ing Wangon itu kepadanya supaya disampaikan permintaan maafnya kepada orang-orang Wangon, maka Mahisa Agni menundukkan kepalanya, bahkan tiba-tiba sepasang tangannya yang kokoh seperti baja itu menutupi wajahnya. Sebab di dalam dadanya, pesan itu diperpanjangnya sendiri, katanya kepada diri sendiri di dalam hati, “Buyut Ing Wangon itu gagal dalam usahanya, dan beribu-ribu orang mengalami bencana, karena seorang anak muda yang bernama Mahisa Agni telah merampas akar wregu itu untuk membuat dirinya sakti tiada bandingnya.”

“Oh,” Mahisa Agni mengeluh. Kini ia tidak tahan lagi melawan perasaannya, sehingga tiba-tiba dari mulutnya terdengar kata-katanya gemetar, “Ki Buyut Wangon, apakah kau yakin bahwa akar wregu ini akan dapat menyembuhkan orang-orangmu yang sakit itu?”

“He,” Buyut Wangon itu terkejut. Namun kemudian terdengar suaranya lemahnya, “aku yakin.”

Sekali lagi mereka berdua berdiam diri. Dan kembali gua itu dicengkam oleh kesepian yang mengerikan.

“Ki Buyut,” berkata Mahisa Agni kemudian, “apakah Ki Buyut ingin membuktikannya, bahwa akar wregu ini akan bermanfaat bagi penyakitmu itu?”

“Tidak Ki Sanak,” jawab Buyut Wangon itu.

“Kenapa tidak?” Mahisa Agni menjadi heran.

“Ki Sanak,” jawab orang bongkok itu, “aku bukan mencari akar wregu itu untukku sendiri. Tak ada gunanya seandainya aku dapat sembuh karenanya, namun beribu-ribu orang lain akan mati juga. Karena itu biarkanlah aku di sini.”

Tiba-tiba Mahisa Agni itu menggeleng. Dan terloncatlah dari bibirnya, “Tidak. Aku tidak dapat membiarkan kematian-kematian itu.”

“He,” sekali lagi Buyut Wangon itu terkejut, “apa maksudmu. Ki Sanak?”

Mahisa Agni menarik nafas panjang. Terdengarlah ia berkata lirih, “Ki Sanak. Bawalah akar ini kembali ke Wangon. Mudah-mudahan kalian akan benar-benar sembuh karenanya.”

“Apa katamu? Apa katamu?” orang bongkok itu tiba-tiba bergeser dan dengan susah payah ia berteriak terbata-bata, “Kau ingin memberikan akar itu kepadaku?”

“Ya,” sahut Agni pendek.

“Oh,” tiba-tiba orang itu menjadi lemah kembali. “Jangan!” katanya, “jangan. Aku ternyata terlalu mementingkan kepentinganku sendiri. Milikilah, masa depanmu masih panjang. Mudah-mudahan jagat yang gumelar ini akan dapat kau miliki dengan kesaktian itu.”

Tetapi hati Mahisa Agni menjadi semakin pedih mendengar kata-kata Buyut Wangon itu, jawabnya, “Tidak Ki Buyut. Betapapun aku akan dapat menggulung dunia seisinya, namun aku tidak akan dapat melupakan, bahwa aku telah berdiri di atas beribu-ribu mayat yang seharusnya dapat diselamatkan. Aku akan selalu ingat, bahwa kematian-kematian itu disebabkan karena keinginanku untuk menjadi seorang yang paling sakti di dunia. Dan bagiku tebusan itu terlalu mahal, sedangkan manfaatnya masih belum dapat dipastikan.”

“Oh,” orang itu pun terdengar menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Apabila demikian Ki Sanak, maka aku akan mengucapkan terima kasih yang tak ada batasnya. Juga orang-orang Wangon dan sekitarnya akan berterima kasih pula kepadamu. Karena itu, apabila benar kau ingin menyerahkan akar wregu itu. Marilah. Aku antarkan kepadanya. Serahkanlah sendiri akar wregu milikmu itu. Dan kau akan diangkat menjadi pelindung mereka, atau tetua mereka atau apa saja yang dapat diberikan kepadamu.”

Mahisa Agni menggeleng lemah. Jawabnya, “Tidak Ki Sanak. Kau adalah tetua di daerahmu. Bawalah akar ini kepada mereka.”

“Kenapa kau tak mau singgah ke Wangon?”

“Tidak. Bawalah. Marilah, terimalah akar ini.”

Mahisa Agni dengan lemahnya merangkak maju. Dan dengan tangan yang gemetar dicabutnya akar wregu itu dari dalam bajunya. Ketika teraba benda itu, kembali ia menjadi ragu-ragu. Namun ketika kembali bayangan mayat-mayat yang bergelimpangan hadir di dalam rongga matanya, maka betapapun beratnya, akar wregu putih itu diserahkannya pula.

“Inilah,” katanya.

Ternyata Buyut Ing Wangon itu telah benar-benar menjadi sedemikian lemahnya. Tidak saja karena ia terbanting di lantai gua dan membentur batu-batu padas, namun katanya, “Penyakitku telah hampir sampai ke otakku. Sesaat lagi aku sudah akan mati.”

“Tidak!” sahut Agni, “Karena itu cepat, terimalah akar ini. Dan kaulah yang pertama-tama akan tahu khasiatnya, apakah akar ini benar-benar bermanfaat bagi penyakitmu.”

“Oh,” jawab Buyut bongkok itu, “kau benar. Marilah, aku terima akar itu dengan mengucap syukur kepada Yang Maha Agung.”

Tangan Buyut Wangon yang sangat lemah itu pun bergerak-gerak menggapai akar yang diberikan Mahisa Agni kepadanya. Demikian ia menyentuh benda itu, maka katanya, “Tolong Ki Sanak, uraikan pembalutnya.”

Mahisa Agni pun memenuhi permintaan itu. Dan diberikannya kemudian akar wregu putih itu kepada Buyut Wangon yang sudah sedemikian lemahnya.

Dengan serta-merta, tangan yang lemah dan gemetar itu telah membawa akar wregu putih itu ke mulutnya. Digigitnya ujung akar itu sedikit. Dan bergumamlah Buyut Ing Wangon itu, “Alangkah pahitnya.”

Mahisa Agni tidak menyahut sepatah kata pun. Dibiarkannya Buyut Ing Wangon itu mengunyah sepotong serat yang kecil, sekecil sebutir beras. Dengan berdebar-debar ia menunggu, apakah akar itu benar-benar akan berpengaruh bagi penyakit yang aneh itu.

Sesaat kemudian Mahisa Agni dicengkam oleh ketegangan. Kali ini bukan karena ia takut kehilangan akar wregu putih itu, namun ia ingin menyaksikan, apa yang akan terjadi dengan Ki Buyut Wangon itu.

Perlahan-lahan Mahisa Agni mendengar Buyut Ing Wangon itu berdesis, kemudian terdengar ia bergumam, “Perutku dan seluruh tubuhku terasa dijalari oleh arus yang panas.”

Mahisa Agni tidak menyahut. Ia tidak tahu, apakah arus panas di dalam tubuh Buyut Wangon itu menguntungkan atau bahkan sebaliknya. Karena itu ia masih berdiam diri dan memandangi bayangan Buyut Ing Wangon itu dengan wajah yang tegang.

Sesaat kemudian terdengar Buyut Wangon itu berdesis. Tetapi kemudian, kembali ia mengeluh, “Alangkah panasnya.”

Mahisa Agni ikut menjadi gelisah karenanya. Namun ia ikut pula berdoa di dalam hatinya, “Mudah-mudahan akar wregu itu benar-benar dapat menolongnya.”

Gua itu kemudian seakan-akan telah tenggelam ke dalam kesepian yang tegang. Hanya kadang-kadang Mahisa Agni melihat Buyut Ing Wangon itu menggeliat, namun kemudian diam kembali. Hanya nafasnya sajalah yang terdengar berkejaran dari lubang hidungnya. Dengan demikian Mahisa Agni itu pun menjadi bertambah cemas. Jangan-jangan akar wregu putih itu telah menambah sakit Buyut dari Wangon menjadi bertambah parah.

Tetapi kemudian Mahisa Agni terkejut, ketika terdengar Buyut itu menarik nafas dalam-dalam. Dan terdengarlah ia berkata, “Alangkah segarnya tubuhku kini.”

Mahisa Agni menggeser maju. Terdengar ia bertanya, “Apakah keadaan Ki Buyut menjadi berangsur baik?”

“Ya,” jawab Ki Buyut, “aku menjadi baik kembali. Setidak-tidaknya sakitku tidak menjadi bertambah parah. Tetapi aku rasa bahwa sebagian kekuatanku justru telah pulih kembali.”

“Syukurlah,” desis Mahisa Agni, “mudah-mudahan akar itu bermanfaat bagi Ki Buyut. Nah, selagi masih ada kesempatan. Pulanglah ke Wangon dan selamatkanlah orang-orang di daerah itu.”

“Terima kasih,” sahut Ki Buyut, “terima kasih. Namamu akan tetap kami kenangkan, Empu Pedek dari Gunung Merapi.”

“Oh,” Mahisa Agni menggeleng, “Aku bukan Empu Pedek dan Gunung Merapi.”

Buyut Ing Wangon itu terkejut. Katanya, “Bukankah kau sebut namamu Empu Pedek? Dan bukankah kau katakan kau datang dari kaki Gunung Merapi?”

“Bukan Ki Buyut,” sahut Mahisa Agni, “aku adalah Mahisa Agni dari kaki Gunung Kawi.”

“Oh,” orang yang bongkok itu menjadi heran, “jadi siapakah Empu Pedek dari kaki Gunung Merapi?”

“Aku tidak tahu, “ jawab Mahisa Agni. Namun dengan demikian teringatlah olehnya seorang yang timpang yang mungkin telah menunggunya di kaki lereng gundul ini. Karena itu maka katanya, “Ki Buyut, yang kuketahui dengan Empu Pedek itu adalah, bahwa ia telah berusaha untuk menahan perjalananku. Aku bertempur dengan orang itu di bawah lereng gua ini.”

“Jadi kau bahkan telah bertempur dengan orang itu?”

“Ya.”

“Kalau demikian, maka nama Mahisa Agni akan tetap terpatri di dalam setiap hati penduduk Wangon. Seorang tukang yang paling cakap akan menulis nama itu di gapura-gapura padukuhan dan seorang pujangga yang paling baik akan menulis nama itu di lontar-lontar yang akan disimpan di pura-pura di seluruh daerah Wangon dan sekitarnya.”

“Jangan!” jawab Mahisa Agni, “Aku akan bergembira apabila beribu-ribu orang itu akan sembuh. Dan aku akan bergembira apabila mereka dapat melangsungkan hidup keturunan mereka seterusnya.”

“Mengagumkan,” desah Buyut dari Wangon itu.

Mahisa Agni terkejut ketika ia mendengar Buyut Wangon itu tiba-tiba berkata dengan gemetar, “Sungguh tak ada duanya. Kau benar-benar manusia yang terpuji.”

“Jangan memuji,” sahut Mahisa Agni, dan kemudian dilanjutkannya, “Nah, sebaiknya, apabila Ki Buyut telah dapat menempuh perjalanan pulang, pulanglah sebelum terlambat.”

“Baik,” jawab Buyut itu, “aku akan segera pulang. Mudah-mudahan aku tidak terlambat. Apabila aku terlambat, maka aku akan mengembalikan akar wregu putih ini kepadamu. Aku cari kau ke kaki Gunung Kawi. Apakah nama padukuhanmu?”

“Panawijen,” jawab Mahisa Agni tanpa sesadarnya.

Buyut Wangon itu pun perlahan-lahan mencoba untuk berdiri. Dan ternyata ia berhasil. Bahkan kemudian katanya, “Aku telah dapat berjalan seperti pada saat aku datang kemari.”

“Syukurlah,” sahut Mahisa Agni.

Buyut dari Wangon itu pun kemudian berjalan terbongkok-bongkok ke arah mulut gua. Seperti orang yang kehilangan kesadaran, Mahisa Agni mengikutinya dari belakang. Mereka berjalan-jalan menyusur jalan yang mereka lalui semula. Namun kini perlahan-lahan sekali. Sebab orang bongkok itu benar-benar tak dapat berjalan lebih cepat dari seekor siput. Meskipun demikian Mahisa Agni dengan telatennya berjalan saja di belakangnya.

Perjalanan itu benar-benar makan waktu yang panjang sekali. Ketika mereka telah sampai di mulut gua, maka yang mereka lihat hanyalah warna-warna hitam melulu. Hari telah malam.

Ketika Mahisa Agni melihat orang bongkok itu akan menuruni tebing, maka dicobanya untuk mencegahnya, “Ki Buyut, adalah lebih baik Ki Buyut menuruni lereng ini besok pagi, apabila hari telah menjadi terang Adalah berbahaya untuk melakukannya sekarang.”

Ki Buyut itu menggeleng. “Tidak,” jawabnya, “aku tidak mau terlambat. Biarlah aku menuruni tebing ini perlahan-lahan, namun aku tidak banyak kehilangan waktu.”

Buyut itu benar-benar tak mau dicegah lagi. Karena itu, justru Mahisa Agni tidak sampai hati membiarkannya turun sendiri. Betapapun sulitnya, maka Agni itu pun turut serta menuruni lereng yang curam itu pada saat itu juga.

Apalagi perjalanan menuruni tebing ini. Buyut Ing Wangon itu dengan hati-hatinya merayap setapak demi setapak. Tubuhnya yang bongkok itu ternyata menambah perjalanannya menjadi semakin sulit. Mahisa Agni yang merayap di belakangnya kadang-kadang sangat cemas, dan seakan-akan ingin ia mendukungnya. Tetapi Mahisa Agni itu terperanjat ketika dengan gembiranya Buyut dari Wangon itu berkata, “Ki Sanak, tubuhku benar-benar telah pulih kembali. Perjalananku menjadi sangat menggembirakan. Aku tidak menemui kesulitan-kesulitan apapun.”

“Syukurlah, “sahut Mahisa Agni.

Namun ternyata perjalanan itu tidak bertambah cepat. Dalam kegelapan mereka hanya dapat mengenal jalan dengan meraba-raba dan kadang-kadang mereka terpaksa berhenti untuk beberapa lama.

Menuruni tebing yang curam di malam hari adalah pekerjaan yang cukup berbahaya. Namun untunglah mata Mahisa Agni yang terlatih itu cukup tajam untuk melihat batu-batu padas yang menjorok di sekitarnya sehingga betapapun sulitnya, tetapi ia dapat juga mempergunakan setiap keadaan untuk mempermudah penurunan itu. Meskipun demikian, Mahisa Agni tidak dapat turun lebih cepat lagi. Buyut Ing Wangon itu benar-benar merayap lambat sekali. Tetapi Mahisa Agni pun dapat menyadari keadaannya. Seorang yang telah lanjut usia, bertubuh bongkok dan baru saja ia kehilangan hampir segenap kekuatannya. Apalagi orang itu sama sekali tidak memiliki kelebihan apapun dari manusia biasa. Ia tidak mempelajari apapun tentang keterampilan jasmaniah, sehingga untuk melakukan pekerjaannya itu, ia harus bekerja, dengan penuh ketekunan dan tekad. Inilah yang mengagumkan Mahisa Agni. Ternyata tekad yang tersimpan di dalam dada orang Wangon itu pun tidak kalah bulatnya dari tekad yang tersimpan di dalam dadanya. Sehingga betapapun sulitnya perjalanan, namun Buyut dari Wangon itu sampai juga ke dalam gua. Dan tekad itu ternyata juga pada saat mereka menuruni tebing itu. Perjalanan itu pun memerlukan waktu yang sangat panjang. Tetapi Buyut dari Wangon itu berjalan terus, seakan-akan ia tidak mengenal lelah dan tidak menemui kesulitan-kesulitan apapun.

Demikian, meskipun lambat, akhirnya mereka sampai juga di bawah lereng gundul itu. Mengagumkan sekali. Bahkan hampir-hampir Mahisa Agni tidak percaya, bahwa orang bongkok itu telah berhasil melampaui perjalanan yang sedemikian sulitnya di malam hari. Sehingga dengan demikian Mahisa Agni bergumam, “Luar biasa, Ki Buyut. Ternyata Ki Buyut memiliki tenaga yang luar biasa pula.”

“Tidak Ki Sanak. Untunglah bahwa aku mencoba memperhatikan setiap lekuk dan batu-batu padas yang menjorok, sehingga aku dapat memilih jalan meskipun malam begini gelap.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian terdengar ia berkata, “Nah, apakah yang akan Ki Buyut lakukan?”

“Aku akan berjalan kembali ke Wangon,” jawab orang bongkok itu, “Dan sekali lagi aku ingin mempersilakan Ki Sanak untuk datang ke padukuhan itu. Mudah-mudahan kedatangan Ki Sanak akan sangat menggembirakan kami.”

Kembali terasa debar jantung Mahisa Agni bertambah cepat. Sebenarnya betapa ia ingin melihat, orang-orang sakit di Wangon menjadi sembuh kembali. Ia hanya ingin melihatnya, dan sama sekali ia tidak ingin mendapat penghormatan apapun dari mereka. Namun ketika kemudian terbayang wajah gurunya yang sayu seperti pada saat gurunya itu melepaskannya pergi, maka segera ia mengurungkan niatnya. Katanya, “Ki Buyut. Sayang aku tak dapat memenuhi permintaan Ki Buyut. Aku harus segera kembali kepada guruku. Melaporkan apa yang terjadi, dan menunggu apa yang akan ditentukan bagiku karena aku tidak berhasil membawa akar wregu putih itu untuknya.”

“Oh,” desis Buyut Ing Wangon, “kalau demikian, biarlah akar ini aku serahkan kembali kepadamu.”

“Tidak. Tidak!” sahut Agni cepat-cepat, “bukan maksudku demikian. Biarlah orang-orangmu menjadi sembuh dan aku pun akan ikut berbahagia karenanya.”

“Terima kasih,” terdengar suara Buyut Wangon itu bergetar, “kalau demikian, biarlah Ki Sanak pergi ke Wangon setiap saat yang kau kehendaki.”

“Biarlah demikian,” jawab Agni, “suatu saat apabila ada kesempatan, aku akan mengunjungi Wangon.”

“Baiklah aku memberimu beberapa petunjuk.”

“Jangan sekarang,” pinta Agni.

Buyut Wangon itu menjadi heran. Namun terdengar Agni berkata, “Setiap saat pendirianku dapat berubah-ubah. Karena itu biarlah aku tidak tahu, di manakah letak padukuhan itu, supaya apabila kelak hatiku digelapkan oleh persoalan-persoalan yang timbul kemudian, aku tidak pergi ke padukuhan itu untuk merampas kembali akar wregu itu dari tanganmu. Seandainya aku akan berbuat demikian, maka aku akan memerlukan waktu yang panjang untuk menemukan padukuhan itu, sehingga aku akan terlambat karenanya.”

“Jangan berpikir begitu,” sahut Buyut Ing Wangon, “Ki Sanak seharusnya mempunyai kepercayaan kepada diri. Dan Ki Sanak sebenarnya seorang yang sebaik-baiknya yang pernah aku temui.”

“Pergilah Ki Buyut!” potong Mahisa Agni, “Pergilah! Supaya aku tidak mengubah pendirianku.”

Buyut Wangon itu mengerutkan keningnya. Sambil menganggukkan kepalanya ia berkata, “Baiklah Ki Sanak, baiklah. Sebentar lagi akan datang fajar. Tetapi biarlah aku pergi meninggalkan tempat ini dengan penuh kekaguman di dalam hati. Aku tak akan melupakan kau.”

Mahisa Agni tidak menjawab. Namun terasa kepalanya menjadi pening dan tubuhnya seakan-akan menjadi lemah sekali. Betapa pikirannya menjadi bergolak. Akar wregu itu ternyata tidak berhasil dimilikinya. Meskipun demikian ketika Buyut Wangon itu berjalan ke arah timur sempat juga ia berkata, “Jangan tempuh perjalanan itu. Kau akan bertemu dengan Empu Pedek. Biarlah aku lewat jalan itu. Dan biarlah Empu Pedek mencegatku. Dengan demikian kau akan selamat dari tangannya.”

Buyut Wangon itu berhenti sesaat, kemudian ia berpaling. Dari matanya memancar sebuah pertanyaan. Namun sebelum pertanyaan itu terucapkan berkatalah Mahisa Agni, “Ki Buyut, carilah jalan yang lain. Di jalan itulah kemarin aku bertempur dengan Empu Pedek. Adalah suatu kemungkinan bahwa ia mencoba mencegat aku pula untuk merampas akar wregu itu. Karena itu, ambillah jalan yang lain.”

Buyut dari Wangon itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekali lagi Mahisa Agni mendengar suara Buyut tua itu bergetar, “Luar biasa. Apakah Angger masih akan mengorbankan diri sekali lagi untuk kepentinganku? Ki Sanak, kenapa kita tidak ber-sama-sama saja mencari jalan lain?”

“Tidak,” sahut Mahisa Agni, “kalau Empu Pedek itu tidak melihat aku lewat, maka ia pasti akan mencari aku di segenap sudut hutan ini. Tetapi apabila sudah ditemukannya aku, maka ia tidak akan mencari orang lain.”

“Terima kasih. Terima kasih Ki Sanak,” desis Buyuti ng Wangon yang kemudian dengan tersuruk-suruk ia membelok menyelinap di antara batang alang-alang sambil berkata, “Biarlah aku menempuh jalan ini. Mudah-mudahan aku tidak akan tersesat. Besok kalau matahari sudah terbit aku akan tahu dengan pasti, ke mana aku harus pergi. Sebab Wangon terletak tepat pada garis antara matahari terbit dan ujung Gunung Semeru itu pada bulan ini.”

Mahisa Agni tidak menjawab. Ia melihat Buyut Ing Wangon itu hilang di antara batang-batang ilalang dan gerumbul-gerumbul perdu. Namun pada saat itu pula terasa dadanya bergelora. Akar wregu putih itu pun lenyap pula bersama lenyapnya Buyut Ing Wangon.

Mahisa Agni itu pun kemudian dengan lemahnya duduk di atas batu padas di kaki lereng gundul itu. Kembali kedua tangannya yang kokoh kuat itu menutupi wajahnya. Perlahan-lahan terdengar anak muda itu menggeram, “Maafkan aku, Guru. Aku tidak dapat membawa akar wregu itu kembali, karena aku tidak berhasil dalam perjuanganku melawan perasaanku.”

Angin yang basah bertiup di antara daun-daun perdu dan batang-batang ilalang yang liar. Terdengar di kejauhan suara-suara burung malam bersahut-sahutan.

Namun Mahisa Agni masih duduk tepekur di atas batu padas itu. Berbagai persoalan datang pergi di dalam kepalanya. Riuh seperti angin yang kencang bertiup berputaran. Sekali-kali tampak kabut yang lebat bergulung-gulung, namun di kali lain beterbanganlah daun-daun yang berguguran dari batang-batangnya. Semakin lama semakin kencang, semakin kencang. Dan Mahisa Agni terkejut ketika tiba-tiba di kejauhan terdengar aum harimau lapar.

Mahisa Agni mengangkat wajahnya. “Hem,” ia menarik nafas dalam-dalam, “Bagaimanakah kalau Buyut Ing Wangon itu bertemu dengan harimau itu?”

“Ah,” pertanyaan itu dijawabnya sendiri, “ia sudah selamat sampai ke tempat ini. Ia pun akan selamat juga sampai ke padukuhannya kembali”

—–
Perlahan-lahan terdengar anak muda itu menggeram, “Maafkan aku, Guru. Aku tidak dapat membawa akar wregu itu kembali, karena aku tidak berhasil dalam perjuanganku melawan perasaanku.”
—–

Dan kini kembali Mahisa Agni merenungi dirinya sendiri. Terasalah kini betapa penat dan lelahnya setelah ia menempuh pendakian dan kemudian turun kembali dalam ketinggian yang cukup besar. Juga kini mulai terasa, betapa lapar dan hausnya.

Perlahan-lahan Mahisa Agni berdiri dan berjalan ke tempat ia menyimpan bungkusannya. Ia menarik nafas lega, ketika bungkusannya masih ditemukannya utuh seperti pada saat ditinggalkan. Ketika bungkusan itu dibukanya, maka masih didapatinya beberapa macam buah-buahan. Tetapi sebagian besar di antaranya telah tidak dapat dimakannya lagi. Meskipun demikian, satu dua ia masih juga menemukan di antaranya, yang masih baik untuk mengurangi hausnya.

Ketika Mahisa Agni kemudian menengadahkan wajahnya, dilihatnya warna merah telah membayang di wajah langit. Tanpa sesadarnya, tiba-tiba saja ia mengharap supaya fajar lekas menyingsing. Namun agaknya ia tidak sabar lagi menunggu di tempat yang sesepi itu. Setelah selesai dengan membenahi bungkusannya, kembali Mahisa Agni menyangkutkan bungkusannya itu di ujung tongkat kayunya. Dan kembali Mahisa Agni melangkahkan kakinya. Namun kini ia berjalan dengan lesunya. Menempuh perjalanan yang berlawanan dengan jalan yang telah dilaluinya dengan gairah dan tekad yang bulat untuk menemukan akar wregu putih sebagai pelengkap pusakanya, untuk menjadikannya seorang manusia yang sakti pilih tanding. Tetapi kini ia berjalan kembali masih seperti pada saat ia berangkat. Ia sama sekali tidak akan menjadi seorang yang sakti. Apalagi maha sakti.

Namun apabila diingatnya, bahwa dengan demikian ia telah berusaha untuk menegakkan kemanusiaan, maka hatinya menjadi tenteram. Biarlah ia melepaskan cita-citanya untuk menjadi seorang yang pilih tanding, namun keseimbangan dari kegagalannya itu pun cukup memadainya.

Demikian maka Mahisa Agni berjalan terus. Kini kerisnya tidak lagi dimasukkan ke dalam bungkusannya. Bahkan sekali-sekali tangannya melekat di hulu kerisnya itu sambil berbisik, “Akhirnya aku mempercayakan diriku kepada tuntunan Yang Maha Agung, kepada karunia yang telah aku miliki sampai kini. Biarlah dimiliki yang menjadi hak orang lain, dan biarlah aku miliki yang menjadi hakku.”

Tetapi Kini Mahisa Agni harus berhati-hati. Ia hampir sampai ke tempat di mana Empu Pedek kemarin mencegatnya. Mungkin orang timpang itu kini telah bergeser maju dari tempatnya semula. Mungkin pula ia telah pergi. Namun sebagai seorang yang telah berbulan-bulan menunggu, pasti ia sampai saat ini menunggunya pula. Mungkin tidak sendiri.

Dan tiba-tiba langkah Mahisa Agni itu pun terhenti. Ia mendengar suara gemeresik daun di sekitarnya. Karena itu segera ia mempertajam telinganya. Dan ternyata pendengarannya itu telah meyakinkannya, bahwa seseorang berada dibalik daun-daunan yang rimbun. Mahisa Agni itu pun segera mempersiapkan dirinya. Diletakkannya bungkusan serta tongkat kayunya, dan ditengadahkannya dadanya. Meskipun tempatnya berbeda, namun yang pertama-tama terlintas di otak adalah Empu Pedek.

Beberapa saat Mahisa Agni menanti. Dengan penuh kewaspadaan diamat-amatinya setiap gerumbul yang ada di sekitarnya. Tetapi suara itu pun lenyap, seolah-olah hanyut dibawa angin malam.

Meskipun demikian, namun telah diketahuinya, bahwa seseorang telah mengintip perjalaannya. Karena itu ia harus sangat ber-hati-hati. Timbul niatnya untuk menunggu sampai matahari memancarkan wajahnya di pagi yang cerah nanti. Namun Mahisa Agni justru menjadi gelisah. Karena itu, meskipun lambat dan penuh dengan kewaspadaan ia berjalan juga. Namun firasatnya telah menuntunnya untuk menjauhi setiap daun-daun yang rimbun dan setiap pohon-pohon yang besar.

Kini Mahisa Agni tidak membawa bungkusannya di ujung tongkatnya, namun disangkutkannya bungkusan itu di pundak kirinya, sedang tangan kanannya memegangi tongkatnya. Setiap saat tongkat kayu itu dapat diayunkannya untuk mempertahankan diri apabila seseorang dengan tiba-tiba menyerangnya.

Tetapi untuk beberapa saat Mahisa Agni tidak mendengar suara apapun lagi. Betapa ia mempertajam pendengarannya yang telah terlatih baik, namun yang didengarnya hanyalah gemeresik angin. Meskipun demikian Mahisa Agni sama sekali tidak lengah seandainya bahaya dengan tiba-tiba datang menerkamnya.

Anak muda itu menerik nafas dalam-dalam ketika dilihatnya samar-samar warna-warna yang cerah di balik dedaunan. Ketika ia berpaling, alangkah cerahnya ujung Gunung Semeru itu. Hijau kemerah-merahan oleh sinar-sinar yang pertama dari matahari yang bangkit dari tidurnya.

Langkah Mahisa Agni pun terhenti. Dipandanginya puncak Gunung Semeru itu dengan penuh kekaguman. Dan terasa pula kesegaran pagi mengusap tubuhnya yang letih.

Kini Mahisa Agni itu pun benar-benar ingin beristirahat. Hutan itu sudah tidak terlalu sepi. Hampir di setiap dahan Mahisa Agni melihat burung-burung bermain dan bernyanyi. Betapa riangnya. Tetapi apabila diingat akan dirinya, maka Mahisa Agni itu pun mengeluh di dalam hatinya. Namun dicobanya juga melupakan segala-galanya dan dicobanya menikmati kecerahan pagi yang segar itu.

Sesaat lagi ia akan sampai ke sebuah dataran yang agak luas. Namun hatinya berdesir ketika sekali lagi diingatnya orang timpang yang bernama Empu Pedek.

Dan dada Mahisa Agni itu pun berdesir ketika sekali lagi ia mendengar gemeresik halus di sampingnya. cepat-cepat ia tegak berdiri di atas kedua kakinya yang kokoh kuat. Diletakkannya bungkusannya dan tongkatnya sekali. Dengan cermat diamatinya setiap lebar daun di sekitarnya. Dan sekali lagi desir di dadanya itu menyentuh jantungnya, ketika dilihatnya daun-daun yang bergoyang-goyang dengan kerasnya. Kini Mahisa Agni menjadi pasti, di balik daun itulah seseorang telah mengintipnya. Karena itu ia tidak mau berteka-teki lagi. Ia ingin segera menyelesaikan persoalannya. Mungkin dengan Empu Pedek, mungkin dengan orang lain. Maka terdengarlah anak muda itu berkata lantang, “He, siapakah kau. Marilah, aku telah menunggumu.”

Suara Mahisa Agni itu pun kemudian terpantul oleh dinding-dinding batu padas di lereng gunung dan oleh batang-batang pohon yang rapat, seakan-akan melingkar-lingkar di dalam hutan. Namun sesaat kemudian suara gemanya berangsur-angsur lenyap.

Namun tak seorang pun yang menjawab.

Tetapi tiba-tiba Mahisa Agni itu pun terkejut bukan buatan. Hampir ia tidak percaya akan telinganya. Didengarnya dari balik gerumbul itu suara batuk-batuk beberapa kali. Suara yang telah dikenalnya baik-baik. Sehingga dengan demikian dada Mahisa Agni itu pun menjadi berdebar-debar.

Dan apa yang disangkanya itu ternyata benar-benar terjadi. Dari balik gerumbul itu muncullah seorang tua dengan wajah dalam yang bening. Dari bibirnya terbayanglah senyumnya yang segar.

Sesaat Mahisa Agni terpaku, di tempatnya. Sama sekali tak disangka-sangkanya bahwa akan dijumpainya orang itu di tempat itu. Terasa seakan-akan seluruh isi dadanya bergelora, dan hampir segenap tubuhnya bergetar.

Ketika orang itu mengangguk-anggukkan kepalanya, Mahisa Agni segera meloncat maju sambil berlutut di hadapannya. Desahnya, “Guru.”

Orang itu adalah Empu Purwa. Diangkatnya Mahisa Agni untuk berdiri. Katanya, “Ya Agni. Bagaimana dengan keadaanmu?”

“Baik Empu,” jawab Agni, “aku selalu mendapat perlindungan dari Yang Maha Agung.”

Empu Purwa itu pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian dituntunnya Mahisa Agni seperti anak-anak yang sedang belajar berjalan. Diajaknya ia duduk di atas batu padas.

“Kau tampak letih sekali Agni,” berkata gurunya.

Mahisa Agni mengangguk, jawabnya, “Ya, Guru.”

“Tetapi aku bergembira bahwa kau selamat. Aku ingin melihatmu ke dalam gua. Sebab aku menjadi cemas, ketika kau terlalu lama belum juga kembali. Tetapi ternyata aku berpapasan denganmu hampir sampai di kaki lereng gundul itu. Dan aku mengikutimu sampai di sini.”

Perkataan gurunya itu telah menggores jantung Mahisa Agni. Segera disadarinya, bahwa ia tidak berhasil membawa kembali akar wregu putih itu. Karena itu, kini segenap tubuhnya menjadi basah oleh peluh yang dingin. Namun ia masih belum dapat mengatakan sesuatu.

“Agni,” berkata gurunya kemudian, “aku menjadi lebih bergembira lagi ketika aku melihat bahwa kau telah pergi meninggalkan gua itu. Bukankah dengan demikian aku akan dapat membanggakanmu?”

Kini wajah Mahisa Agni tertunduk lesu. Dikenangnya segalanya yang pernah terjadi dalam perjalanannya. Ditentangnya jurang dan ngarai. Dilawannya alam yang keras dan dilawannya pula semua rintangan yang menghalanginya. Orang-orang jahat dan binatang buas. Semuanya berhasil diatasinya. Namun, lawan yang tak dapat ditundukkan adalah perasaannya sendiri. Karena itu, maka gelora di dalam dadanya itu pun menjadi semakin gemuruh.

Apakah yang akan dapat dikatakan kepada gurunya? Ternyata ia lebih mementingkan perasaan sendiri daripada perintah gurunya itu. Namun kemudian timbul pula niatnya untuk berkata berterus terang. Gurunya adalah seorang manusia yang baik, seperti apa yang selalu diajarkan kepadanya. Apa yang harus dilakukan dalam hidupnya. Kasih mengasihi antara sesama, sebagai pancaran kasih dari Yang Maha Agung. Meskipun demikian getaran di dadanya menjadi semakin deras, ketika ia mendengar gurunya itu bertanya, “Agni, apakah benar dugaanku bahwa kau telah berhasil mendaki gua itu?”

Sesaat Agni memandang wajah gurunya. Wajah yang dalam dan bening. Karena itu timbullah harapannya, bahwa gurunya tidak akan marah kepadanya.

Perlahan-lahan Mahisa Agni menundukkan wajahnya kembali, dan dengan lemahnya ia mengangguk sambil menjawab lirih, “Ya, Guru.”

“Syukur, Syukurlah kalau kau telah berhasil mendaki gua itu,” gumam gurunya sambil menepuk pundak muridnya. Namun dada Mahisa Agni itu pun menjadi semakin tegang. Dan berdesirlah dadanya seolah-olah sebuah goresan sembilu menyentuh hatinya, ketika ia mendengar gurunya itu bertanya, “Apakah akar wregu putih itu masih kau temukan?”

Mulut Mahisa Agni itu serasa terbungkam oleh gelora yang berkecamuk di dalam dadanya. Dan karena itu maka tiba-tiba tubuhnya menjadi gemetar. Wajah yang tunduk menjadi semakin dalam menekuri batu-batu di bawah kakinya. Karena itu ia tidak segera menjawab, sehingga Empu Purwa mengulanginya, “Bagaimanakah anakku. Apakah kau masih menemukan akar wregu itu?”

Gemuruh di dada Mahisa Agni serasa akan memecahkan jantungnya. Hampir saja Mahisa Agni berdusta. Ingin ia mengatakan bahwa akar wregu putih itu sudah tidak ada di tempatnya. Namun kejujurannya telah melawannya sehingga betapapun beratnya, ia harus mengatakan apa yang dilihat dan dialaminya. Maka dengan tegangnya ia menjawab, “Ya, Guru.”

“Oh,” sahut gurunya, “Syukurlah, Syukurlah. Jadi kau masih menemukan akar wregu itu di dalam gua?”

Mahisa Agni mengangguk.

“Pasti!” berkata gurunya, “Akar itu pasti masih di sana. Sebab tak seorang pun yang mengetahui, selain aku, bahwa akar itu ada di dalam gua.”

Empu Purwa itu terkejut ketika Mahisa Agni menjawab, “Tidak, Guru. Ternyata ada orang lain yang mengetahuinya pula.”

“Orang lain?” ulang Empu Purwa.

“Ya,” jawab Agni, “seorang dari Gunung Merapi, seorang bernama Empu Pedek dan seorang Buyut dari Wangon.”

Empu Purwa itu mengangkat keningnya. Tampaklah beberapa kerut di dahinya semakin nyata. Namun agaknya ia tidak ingin mempersoalkan orang-orang yang juga mengetahui akar wregu putih itu. Karena itu katanya, “Ah, biarlah orang-orang itu mengetahuinya. Namun asal kau masih sempat menemukan akar wregu putih itu.”

Kata-kata itu benar-benar menampar dada Mahisa Agni. Sebuah getaran yang keras telah mengguncangkan jantungnya. Kini ia harus mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.

Mahisa Agni itu pun kemudian menangkupkan kedua telapak tangannya di muka dadanya. Sambil membungkukkan badannya ia berkata dengan suara yang gemetar, “Maafkan Guru. Aku ternyata tidak dapat memenuhi perintah guru. Membawa akar wregu putih itu kembali ke padepokan Panawijen.”

Sesaat mereka berdua tenggelam dalam kesepian. Mahisa Agni masih menundukkan wajahnya. Ia menunggu apa yang akan dikatakan oleh gurunya. Apa saja. Ia akan menerima keputusan itu dengan ikhlas. Baru kemudian akan dikatakannya, alasan-alasan yang telah memaksanya untuk menyerahkan akar wregu itu kepada orang lain. Bukan karena kekerasan, dan bukan pula karena ketakutannya menghadapi bahaya. Ia telah mengalahkan semua rintangan, kecuali satu yang justru datang dari dirinya sendiri.

Perlahan-lahan ia mendengar gurunya bertanya, “Kenapa Agni?”

Mahisa Agni menjadi heran. Ketika ia mencoba mencuri pandang wajah gurunya, ia pun menjadi semakin heran. Wajah itu masih saja dalam dan bening. Ia tidak mendapat kesan bahwa gurunya terkejut dan marah kepadanya. Dan ia tidak tahu, keadaan apakah yang sebenarnya sedang dihadapinya. Apakah gurunya sedang mempertimbangkan alasan-alasan yang harus dikemukakan, ataukah gurunya sedang mencoba menahan diri. Namun kini gurunya itu bertanya, kenapa.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Dicobanya untuk mengatur perasaannya supaya ia dapat mengatakan segala sesuatu dengan teratur dan dimengerti. Baru kemudian setelah hatinya menjadi tenang, maka diceritakannya kepada gurunya itu, apa yang dialaminya sejak ia meninggalkan padukuhan Panawijen. Perjalanan yang berat, namun penuh dengan gairah untuk menyelesaikannya. Ditantangnya kekerasan alam dan ditantangnya kekerasan manusia. Akhirnya sampailah cerita Mahisa Agni kepada seseorang yang datang dari Wangon, yang menyebut dirinya Buyut dari Wangon. Seorang tua yang bongkok dan berjalan tersuruk-suruk. Namun tekadnya jauh melalui keadaan jasmaniahnya. Betapa teguhnya kemauan yang tersimpan di dalam dada orang itu, sehingga betapapun ia merasa dirinya tidak mampu melawan dalam tindak kekerasan, namun orang itu dengan beraninya telah memeluk kakinya untuk mencoba menahannya.

“Aku mengaguminya,” berkata Mahisa Agni, “mengagumi tekadnya dan hasrat kemanusiaannya, di samping tanggung jawabnya atas kewajibannya. Hidup dan mati beribu-ribu orang tergantung kepadanya. Kepada akar wregu putih itu. Dan ternyata orang itu telah memasuki gua tempat penyimpanan akar itu. Beberapa langkah lagi ia akan berhasil menyelamatkan beribu-ribu orang itu. Pada saat harapannya telah memenuhi dadanya, bukan saja harapan baginya, namun harapan bagi beribu-ribu orang itu, maka datanglah Mahisa Agni itu. Aku. Guru, aku tidak sampai hati merampas harapan itu. Merampas harapan beribu-ribu orang untuk memperpanjang hidupnya.

Mahisa Agni berhenti sesaat. Terasa seluruh tubuhnya menjadi basah, dan detak jantungnya menjadi semakin cepat. Namun ia tidak dapat meraba, bagaimanakah tanggapan gurunya atas peristiwa itu. Ketika sekali lagi ia mencoba memandang wajah gurunya, wajah itu masih saja sebening semula.

Dengan nafas yang terengah-engah Mahisa Agni meneruskan, “Itulah, Bapa. Buyut Ing Wangon telah berhasil merampas akar wregu putih itu tidak dengan kekerasan. Hatiku luluh ketika aku mendengar ia bertanya, apakah kekerasan yang dapat menentukan segala-galanya. Apakah hanya dengan kekerasan kita harus menilai semoa persoalan?”

“Bapa, Buyut Ing Wangon itu bertanya, apakah kepentinganku dengan akar wregu putih itu? Seandainya akar itu mempunyai nilai yang lebih besar padaku, maka dengan ikhlas Buyut Ing Wangon itu akan menyerahkannya, namun apabila nilai akar itu lebih bermanfaat padanya, maka ia minta akar itu untuk dibawanya. Aku diajaknya untuk menilainya dengan wajar. Manfaatnya bagi manusia dan kemanusiaan. Dan manfaat itulah yang akan menentukan. Bukan kekerasan, bukan kemenangan jasmaniah. Bukan perkelahian dan pertempuran.”

Kembali Mahisa Agni berhenti. Dan peluh yang dingin masih saja mengalir membasahi tubuhnya, pakaiannya dan batu padas tempat duduknya. Angin yang lembut masih juga mengalir perlahan-lahan. Dan jauh di sebelah selatan dilihatnya awan yang putih seputih kapas terbang di atas kehijauan hutan dan lembah.

Yang terdengar kemudian adalah kata-kata lembut Empu Purwa, selembut angin dari lembah, “Agni, jadi kau tidak berhasil mendapatkan akar wregu itu?”

“Ampun, Guru,” jawab Agni, “aku gagal menjalankan tugasku kali ini. Aku tidak sampai hati.”

Empu Purwa menarik nafas dalam-dalam. Ditatapnya awan yang bertebaran di langit dan di pandangnya puncak Gunung Semeru yang menjadi semakin cerah. Kemudian terdengarlah ia bertanya, “Apakah kau masih akan dapat mengenal Empu Pedek dan Buyut Ing Wangon itu apabila kau bertemu?”

Mahisa Agni berpikir sejenak. Kemudian jawabnya, “Kedua-duanya memiliki kekhususannya, Bapa. Empu Pedek itu ternyata timpang dan Buyut Ing Wangon itu bongkok.”

“Apakah kau tahu letak padukuhan Wangon?”

Mahisa Agni menggeleng. Namun hatinya menjadi berdebat. Apakah gurunya akan pergi sendiri mengambil akar itu dari Wangon? Maka terdengar ia menjawab, “Tidak guru. Aku menghindari petunjuk tentang padukuhan itu. Aku takut kalau pendirianku akan berubah. Dan beribu-ribu orang itu tidak tertolong lagi karenanya.”

Kembali mereka berdua terdiam. Dan kembali suara burung-burung di dahan-dahan menjadi semakin nyata. Melengking dengan riangnya. Seriang daun-daun yang menari-nari ditiup angin pagi. Namun hati Mahisa Agni tidak ikut serta menari-nari bersama angin pagi.

“Agni,” berkata Empu Purwa kemudian, “apakah kausangka Empu Pedek itu masih belum melepaskan keinginannya untuk mendapatkan akar wregu putih itu?”

Mahisa Agni menganggukkan kepalanya, maka jawabnya, “Ya Empu, aku menyangka demikian.”

“Dan bagaimanakah dengan Buyut dari Wangon itu?”

Mahisa Agni tidak segera dapat mengetahui maksud gurunya. Buyut dari Wangon itu telah membawa serta akar wregu putih itu pulang ke padukuhannya. Karena itu ia bertanya, “Apakah maksud guru dengan Ki Buyut Ing Wangon?”

Mahisa Agni menjadi bingung ketika dilihatnya gurunya itu tersenyum. Dan terjadilah kemudian hal yang sama sekali tak disangka-sangka, sehingga Mahisa Agni itu pun terkejut bukan kepalang. Sejengkal ia bergeser surut, dan dengan sinar mata yang penuh dengan berbagai persoalan bercampur baur dipandanginya wajah gurunya seolah-olah baru dikenalnya saat itu. Dan tebersitlah kata-katanya, “Guru, apakah guru telah mendapatkannya?”

Empu Purwa masih tersenyum. Katanya kemudian masih sesareh semula, “Agni, bukankah akar wregu ini yang kaucari?”

—–
Empu Purwa masih tersenyum. Katanya kemudian masih sesareh semula, “Agni, bukankah akar wregu ini yang kaucari?”
—–

Kini pandangan mata Agni tertancap kepada sebuah benda di tangan gurunya. Akar wregu putih yang diperebutkannya dengan Buyut Ing Wangon. Dan ternyata akar itu kini berada di tangan gurunya. Aneh. Apakah gurunya telah berhasil mencegat Buyut Ing Wangon dan merampas dari tangannya? Demikianlah beribu-ribu persoalan bergulat di dalam dada Mahisa Agni. Namun karena itu, maka tak sepatah kata pun yang dapat diucapkannya.

Yang terdengar kemudian adalah kata-kata Empu Purwa pula mendesaknya, “Benarkah pengamatanku ini Agni. Apakah benda ini pula yang kau lihat di dalam gua itu?”

“Ya. Ya Empu,” sahut Agni terbata-bata. Namun terloncat pula pertanyaannya, “Tetapi bagaimanakah benda itu dapat sampai di tangan Empu?”

Empu Purwa tersenyum. Katanya, “Kepada siapa benda ini kau berikan?”

“Kepada orang bongkok dari Wangon. Buyut Ing Wangon,” sahut Mahisa Agni.

Empu Purwa menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata, “Sudahlah, jangan kau risaukan orang lain. Kau sekarang akan berhasil memiliki benda ini. Akar wregu putih. Rangkapan pusakamu yang kecil itu. Bukankah dengan akar ini kau dapat membuta tangkai trisula kecil itu?”

Mahisa Agni itu pun menjadi semakin bingung. Bagaimanakah jadinya dengan Buyut dari Wangon? Apakah yang akan dilakukannya seandainya akar wregu itu lenyap dari tangannya? Dan bagaimanakah dengan beribu-ribu orang yang hampir mati karena penyakitnya? Dan kini tiba-tiba tubuh Mahisa Agni itu pun bergetar kembali. Betapa ia menjadi gelisah. Ia tidak tahu apakah sebenarnya yang terjadi. Tetapi yang dilihatnya akar wregu putih itu sudah di tangan gurunya.

“Guru,” terdengar Mahisa Agni bertanya dengan suara yang gemetar, “Di manakah Buyut Ing Wangon itu sekarang?”

Empu Purwa itu tidak segera menjawab. Namun ditatapnya Mahisa Agni itu dengan pandangan yang sejuk. Dan kediamannya itu telah membuat hati Mahisa Agni menjadi semakin tegang. Sehingga diulanginya pertanyaannya, “Guru, apakah guru bertemu dengan Buyut Ing Wangon dan mendapatkan akar wregu itu daripadanya?”

Dan jantung Mahisa Agni menjadi semakin bergolak ketika ia melihat gurunya tersenyum. Timbullah berbagai sangkaan di dalam hatinya. Apakah gurunya telah mencederai Buyut dari Wangon itu? Tak mungkin. Buyut dari Wangon bukan seorang yang mampu untuk berkelahi, apalagi melawan gurunya. Sehingga dengan mudahnya akar itu akan dapat diambilnya.

Mahisa Agni menjadi semakin tidak mengerti ketika kemudian gurunya itu menepuk bahunya, dan dengan lembut berkata, “Kenapa kau prihatin atas Buyut yang bongkok itu?”

“Ya, kenapa?” Mahisa Agni mengulang pertanyaan itu di dalam hatinya. Namun ia tidak dapat menjawab pertanyaan itu. Karena itu maka dengan lemahnya ia menggeleng. Jawabnya, “Entahlah, Bapa. Mungkin aku menjadi iba kepadanya, kepada orang-orangnya yang menantinya dengan penuh kecemasan dan penderitaan.”

“Buyut Ing Wangon itu kini telah tidak ada lagi.”

“He?” Agni terkejut sehingga ia bergeser. Ditatapnya wajah gurunya dengan pancaran pertanyaan dari bola matanya.

Ketika ia melihat gurunya memandangnya dengan iba, maka desahnya di dalam hati, “Betapa aneh persoalan yang aku hadapi.”

“Agni,” berkata gurunya, “Buyut Ing Wangon itu benar-benar sudah tidak ada lagi. Yang ada kini adalah aku gurumu.”

Nafas Mahisa Agni menjadi semakin terengah-engah, melampaui pada saat ia mendaki lereng yang gundul itu. Dan ketika ia mendengar gurunya menjelaskan, serasa ia sedang dibuai oleh mimpi yang aneh. Didengarnya gurunya itu berkata, “Kauserahkan akar ini kepada orang yang menamakan diri Buyut Ing Wangon, Agni. Dan sekarang kau lihat akar wregu ini berada di tanganku. Tak ada perjuangan yang terjadi, tak ada perampasan dan pemerkosaan. Aku terima akar ini langsung dari tanganmu.”

“He?” kini Mahisa Agni benar-benar terkejut bukan buatan. Ia mendengar kata demi kata dengan jelas. Ia mendengar dan mengerti maksud gurunya. Meskipun demikian dengan wajah yang tegang ia bertanya, “Jadi, apakah mataku yang kurang wajar, atau apa akukah yang tidak pada tempatnya. Apakah maksud guru mengatakan, bahwa yang bertemu dengan aku di dalam gua itu guru sendiri?”

Empu Purwa mengangguk. Tampaklah kebeningan matanya memancarkan keibaan hatinya. Karena itu ia berkata seterang-terangnya, “Agni. Sadarilah. Akulah yang menamakan diri Buyut Ing Wangon.”

Sekali lagi Mahisa menangkupkan kedua telapak tangannya, di muka dadanya sambil membungkukkan badannya dalam-dalam sehingga wajahnya hampir menyentuh tanah. Dengan suara gemetar ia berkata, “Ampun, Bapa. Aku tidak tahu, apakah yang sudah aku lakukan. Aku tidak tahu, bagaimana Bapa menilai diriku.”

Seterusnya Mahisa Agni itu menekurkan wajahnya. Ia tidak berani memandang gurunya. Bahkan ujung kakinya pun tidak. Ditatapnya tanah padas yang berlapis-lapis di bawah kakinya. Namun hatinya sibuk dengan persoalan yang tak dapat dimengertinya. Ia melihat seorang bongkok yang berjalan tersuruk-suruk di dalam gua itu. Namun betapa gelapnya. Ia hanya melihat bayangan yang hitam dan garis-garis tubuh yang bongkok itu. Tetapi apakah ia pernah melihat wajah orang itu dengan jelas? Tidak. Ia tidak melihatnya. Dan bagaimanakah dengan pakaiannya? Pakaian ini pun tak jelas diketahuinya. Tetapi yang dilihatnya sekarang, gurunya tidak mengenakan jubah putih dan tidak pula mengenakan kain kelengan seperti kalau gurunya itu sedang bepergian, tidak dalam kedudukannya sebagai seorang pendeta. Tetapi gurunya itu mengenakan kain lurik yang dibalutkan di tubuhnya.

Mahisa kemudian memejamkan matanya. Dicobanya untuk mengingat-ingat bentuk tubuh orang yang ditemuinya di dalam gua itu. Namun ia tidak berhasil.

Dalam pada itu terdengarlah gurunya berkata, “Agni, jangan menyesal. Kau telah berbuat sesuatu yang sebenarnya aku harapkan. Kau dihadapkan pada persoalan yang tak mudah kau pecahkan. Di sinilah watak seseorang yang sebenarnya dapat dilihat. Apabila ia dihadapkan pada kepentingan diri dan kepentingan manusia, namun di luar dirinya. Betapa ia harus melihat kepentingan-kepentingan itu dengan wajar. Apakah seseorang akan mementingkan dirinya sendiri, apakah ia akan mementingkan manusia dan kemanusiaan di luar dirinya, namun kepentingan itu jauh lebih besar. Dan ternyata kau berhasil melihatnya dengan mata hatimu yang bersih. Kau berhasil menyingkirkan nafsu diri sendiri untuk kepentingan manusia dan kemanusiaan di luar dirimu. Bahkan kau telah sanggup mengorbankan kepentinganmu itu, namun kepentingan sendiri, seorang Mahisa Agni, untuk kepentingan yang lebih besar. Meskipun ternyata kepentingan yang lebih besar itu sebenarnya tidak ada, namun itu tidak akan mengurangi nilai pribadimu. Tidak akan mengurangi kejernihan mata hatimu. Sebenarnyalah bahwa Yang Maha Agung telah berkuasa di dalam hatimu dengan cinta kasihnya, sehingga dari dalam hatimu itu pun memancar pula cinta kasih itu.”

Kini dada Mahisa Agni itu pun bergelora. Namun dalam bentuknya yang lain. Setelah sekian lama ia ditegangkan oleh teka-teki tentang orang bongkok itu, tiba-tiba kini ia mendengar kata-kata gurunya itu. Jelas dan hatinya pun menjadi terang. Gurunnya itu ternyata membenarkan sikapnya. Dan karenanya, maka ia pun menjadi terharu. Betapa ia bersyukur di dalam hatinya, bahwa Tangan Yang Maha Besar telah menuntunnya untuk memilih sikap yang dibenarkan oleh gurunya dan benar pula menurut keyakinannya.

Dan didengarnya gurunya itu berkata seterusnya, “Meskipun demikian Mahisa Agni. Apa yang terpuji pada saat ini bukan berarti untuk seterusnya tak akan terkena salah. Jangan menjadi lupa diri. Akar wregu itu akan dapat menjadi alat untuk mengenangkan masa ini. Sebenarnyalah hanya itu manfaat yang dapat kau ambil daripadanya.”

Sekali lagi Mahisa Agni dikejutkan oleh kata-kata gurunya itu. Akar wregu putih itu hanya akan bermanfaat baginya untuk mengenangkan masa ini. Suatu masa di mana ia harus berjuang untuk menumbangkan nafsu yang menyala-nyala untuk menjadikan dirinya orang pilih tanding, karena suatu pengabdian pada kemanusiaan memanggilnya. Meskipun kemudian ternyata, bahwa perjuangan yang terjadi di dalam dirinya itu adalah hasil ciptaan gurunya untuk mengetahui kematangan sifat dan wataknya sebagai manusia, namun apakah itu mempunyai suatu pengaruh yang langsung atas khasiat akar wregu putih itu?

Karena itu maka Mahisa Agni itu memberanikan diri untuk bertanya, “Guru, apakah maksud guru dengan mengecilkan arti akar wregu putih itu?”

Empu Purwa tertawa pendek. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata, “Agni, aku sama sekali tidak mengecilkan arti akar wregu putih ini. Sebab sebenarnyalah demikian. Lihatlah. Akar ini tidak lebih dari sebuah akar wregu biasa. Apakah bedanya? Kau melihat akar ini agak keputih-putihan. Demikianlah sebenarnya warna akar wregu itu apabila kau sayat kulit arinya.”

Mahisa Agni menjadi semakin bingung. Jadi apakah artinya perjuangan yang selama ini dilakukan, sejak ia meninggalkan padepokan Panawijen dan menempuh perjalanan yang sedemikian jauh, melawan kegarangan alam dan melawan berbagai kejahatan manusia dan kebuasan binatang-binatang?”

Empu Purwa melihat beribu-ribu persoalan bergelut di dalam dada Mahisa Agni. Karena itu maka katanya kemudian, “Mahisa Agni. Jangan menilai akar wregu ini ber-lebih-lebihan. Meskipun demikian itu bukan salahmu. Aku memang mengatakan kepadamu, bahwa akar ini akan mampu menjadikan kau seorang yang pilih tanding. Dan ternyatalah demikian. Kau telah berjuang dengan tekad yang membara di dalam hatimu. Kau telah melakukan apa saja yang jarang dapat dilakukan oleh orang lain. Dan yang jarang dapat aku temui pada masa kini, masa-masa yang lampau dan bahkan mungkin masa-masa yang akan datang, adalah kesediaanmu berkorban. Bukankah dengan demikian kau telah menemukan nilai-nilai yang sangat berharga bagi dirimu. Bukankah perjalanan yang kau lakukan itu adalah suatu penempaan jasmaniah yang tak ada taranya dan bukankah penyerahan akar ini kepada orang lain itu pun akan merupakan penempaan rohaniah yang tak kalah nilainya dari seluruh perjalananmu itu, sebab hasil perjalananmu itulah yang telah kau korbankan bahkan masa depan yang panjang telah kau serahkan pula. Karena itu ketahuilah anakku, akar wregu ini sebagai suatu benda tak memiliki nilai apapun.”

Bergetarlah dada Mahisa Agni mendengar keterangan gurunya itu. Benar-benar persoalan yang tak disangka-sangkanya. Apakah ini yang dimaksud oleh gurunya suatu ujian baginya? Dan gurunya sendiri telah hadir untuk mengujinya? Dan inilah sebabnya, maka pada saat gurunya memerintahkannya pergi mencari akar wregu itu terasa beberapa kejanggalan pada pesannya. Gurunya yang dalam masa-masa yang lewat, selalu memandang hampir setiap persoalan dari segala segi, keseimbangan antara lahir dan batinnya, namun pada saat-saat ia berangkat meninggalkan Panawijen, gurunya seolah-olah sama sekali tak menghiraukan masalah- masalah yang lebih dalam dari masalah- masalah lahiriah. Yang disebut-sebut oleh gurunya itu tidak lebih dari akar wregu putih yang akan mampu menjadikannya manusia yang sakti. Lebih dari itu tidak. Namun gurunya itu kemudian berkata bahwa ‘Hitam putih namamu, tergantung kepadamu sendiri’.

Kini ternyata, bahwa gurunya dengan sengaja berbuat demikian. Gurunya sengaja memberinya persoalan, dan diserahkannya kepada dirinya, bagaimana ia akan memecahkannya.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Dalam sekali. Terasalah sesuatu yang aneh di dalam dirinya. Tetapi tiba-tiba Mahisa Agni itu menyadari, bahwa tidak hanya seorang gurunya sajalah yang menginginkan akar itu, meskipun dengan maksud yang berbeda-beda. Apakah orang lain percaya bahwa akar itu memiliki nilai yang dapat mempengaruhi seseorang. Karena itu maka dengan serta-merta ia bertanya kepada gurunya, “Bapa, seandainya akar itu dalam ujudnya sebagai benda tak memiliki nilaianya yang khusus. Apakah artinya perjuangan Empu Pedek untuk mendapatkannya. Berbulan-bulan ia berada di tempat ini untuk menunggu seseorang yang akan lewat dengan membawa sebuah trisula rangkapan dari akar wregu itu.”

Empu Purwa itu tertawa, namun dari sepasang matanya memancarlah keibaan hatinya kepada muridnya itu. Sekali lagi Empu Purwa menepuk bahu Mahisa Agni. Dengan lembut ia berkata, “Anakku. Tak seorang pun di dunia ini yang pernah mendengar tentang akar wregu putih itu. Bukankah sudah aku katakan.”

“Tetapi Bapa,” bantah Agni, “Empu Pedek itu menyebut-nyebutnya pula. Tepat diketahui nama dan kegunaan dari akar wregu itu.”

“Agni,” sahut gurunya, “ada dua kemungkinan. Aku yang salah sangka tentang akar itu bahwa tak seorang pun yang mengetahuinya, atau akar itu benar-benar hanya diketahui oleh seseorang saja. Sehingga setiap orang yang menyebut nama akar wregu putih itu adalah orang yang sama.”

“Guru,” potong Agni, “jadi juga yang menamakan diri Empu Pedek dan Buyut Ing Wangon itu guru sendiri?”

Empu Purwa mengangguk-angguk. Sambil tersenyum ia berkata, “Benar Agni. Dan telah aku korbankan sebagian janggutku tersayang untuk kepentingan itu.”

“Oh,” Agni itu pun tertunduk kembali. Berbagai masalah yang simpang siur, hilir mudik di dalam di kepalanya. Sehingga kemudian ia berkata, “Jadi bagaimanakah dengan orang dari Gunung Merapi yang datang tiga hari sebelum kedatanganku.”

“Itulah aku,” jawab gurunya.

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Kini semuanya menjadi jelas. Itu pulalah sebabnya gurunya berpesan kepadanya supaya ia berjalan dari batu karang itu pada malam hari, supaya gurunya dapat mengganggunya.

Sesaat mereka berdua itu pun berdiam diri. Matahari yang cerah telah semakin tinggi memanjat di kaki langit,dan pagi itu pun menjadi semakin bening.

Namun masih ada satu soal yang ingin diketahui oleh Mahisa Agni, bagaimanakah akar wregu itu berada di dalam gua.

Maka kemudian diberanikannya pula untuk bertanya kepada gurunya, “Bapa, bagaimanakah maka akar wregu putih itu berada di dalam gua ini. Apakah guru telah meletakkannya tiga tahun yang lampau?”

Kembali Empu Purwa tersenyum. Jawabnya, “Bukankah Buyut dari Wangon itu telah memasuki gua lebih dahulu? Alangkah mudahnya meletakkan akar wregu itu di sana, kemudian berbaring kembali di tikungan dalam gua itu.”

Mahisa menggigit bibirnya. “Sederhana sekali,” pikirnya. Sehingga anak muda itu tanpa sesadarnya telah mengangguk-anggukkan kepalanya.

Kini semuanya sudah jelas bagi Mahisa Agni Apa yang dilakukan gurunya sebelum ia berangkat sampai saat iri. Ternyata gurunya telah menjajaki kebulatan tekadnya dengan orang timpang yang menamakan dirinya Empu Pedek. Apakah ia benar-benar pantang surut dalam perjuangannya mencapai masa depannya dengan cita-cita yang diletakkan di hatinya. Namun dengan Buyut Ing Wangon gurunya ingin mengetahui, apakah ia mampu memandang kepentingan kemanusiaan yang lebih besar dengan mengorbankan kepentingan diri sendiri.

Dalam pada itu kembali Empu Purwa itu bertanya, “Mahisa Agni, apakah kau menjadi kecewa, setelah kau mengetahui bahwa akar wregu putih itu sama sekali tak berarti bagimu dalam olah kanuragan?”

Sebenarnya, di dalam hati Mahisa Agni walau pun betapa kecilnya, ada juga rasa kecewa itu. Namun demikian, dapat juga ia mengurangi keadaan, sehingga kemudian ia menjawab, “Tidak guru. Kalau ada maka kekecewaan itu tak akan berarti, dibandingkan dengan kebanggaan yang aku dapatkan karena Bapa telah membenarkan sikap dan tanggapanku atas persoalan-persoalan yang Guru berikan.”

Empu Purwa mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya pula, “Nah, meskipun demikian simpanlah akar wregu ini. Sudah aku katakan, bahwa akar ini akan bermanfaat pula bagimu. Akan selalu memberimu peringatan, bahwa menurut pendapat gurumu, kau telah melakukan sesuatu yang terpuji. Karena itu, setiap kau menghadapi persoalan yang serupa, maka akar wregu ini akan membantumu memecahkan persoalanmu. Namun, kau adalah manusia biasa Agni. Suatu ketika kau akan menghadapi persoalan-persoalan yang lebih sulit dan suatu ketika kau akan mungkin melakukan pilihan yang salah. Namun kau harus berusaha mengurangi kesalahan-kesalahan itu. Sadarilah ini, supaya untuk seterusnya kau tidak menganggap bahwa pilihanmu selalu benar, dan apabila ada perbedaan pikiran dan pendapat dengan orang lain, kau selalu merasa bahwa kau sendirilah yang benar.”

Mahisa Agni kini menundukkan wajahnya. Kata-kata gurunya itu menyentuh hatinya dan menumbuhkan suatu pengertian yang mendalam. Mahisa Agni itu pun kemudian menjadi sadar akan keadaannya. Manusia yang lemah, jasmaniah maupun rohaniah. Manusia yang selalu diliputi oleh kesalahan-kesalahan dan kebodohan- kebodohan.

“Marilah Agni,” berkata gurunya pula, “terimalah akar wregu ini. Jangan kau nilai benda itu berlebih-lebihan. Namun jangan kau abaikan pula hikmah yang telah kau letakkan sendiri pada benda itu.”

Mahisa Agni itu pun mengangkat wajahnya. Dipandangnya akar wregu itu dengan perasaan yang aneh. Namun dimengertinya pula nasihat gurunya. Karena itu, maka akar itu pun diterimanya dengan hasrat yang mantap untuk mencoba memenuhinya. Meskipun demikian terasa juga kehambaran di dalam dadanya.

Kembali mereka berdua terlempar dalam kesenyapan. Dan kembali mereka membiarkan tubuh mereka dibelai angin yang mengalir dari lembah. Namun angan-angan Mahisa Agni terbang melambung ke daerah-daerah yang aneh. Ke masa-masa yang lewat dan ke masa-masa yang akan datang.

Seperti orang tersentak diri mimpinya ia mendengar gurunya berkata kepadanya, “Mahisa Agni. Aku tahu, bahwa kau dengan peristiwa ini merasa kehilangan sesuatu, meskipun kau dapat mengerti dan memahami artinya. Karena itu Anakku, sebenarnyalah bahwa kau akan mendapatkannya sesuatu yang bermanfaat bagi hidupmu kelak. Bukan dari akar wregu itu, tetapi dari dirimu sendiri.”

Mahisa Agni mengangkat wajahnya. Terasa debar yang halus menyentuh hatinya. Dan didengarnya gurunya berkata, “Agni, ada sesuatu yang ingin aku beri tahukan kepadamu. Bahwa aku telah mendapat ilmu yang turun temurun mengalir dari guru ke muridnya yang tepercaya. Itulah sebabnya, setiap guru yang akan memberikan kepada muridnya, maka guru itu harus yakin akan sifat dan watak muridnya itu. Itulah yang memaksa aku membuat cerita tentang akar wregu putih, karena aku ingin mengetahui, apakah sudah masanya aku menurunkan ilmu itu kepadamu. Apakah ilmu itu akan bermanfaat bagimu dan bagi bebrayan manusia. Sebab seandainya ilmu itu kau terima, namun penggunaannya tidak seperti yang diharapkan, maka ilmu itu akan kehilangan artinya, bahkan akan menjadi sangat berbahaya. Namun kini aku telah menemukan suatu keyakinan, bahwa ilmu itu padamu akan menemukan sasaran pengamalan seperti yang diharapkan.”

Debar yang halus di dalam dada Mahisa Agni itu pun menjadi semakin tajam. Bahkan kemudian terasa tubuhnya bergetar. Kata-kata gurunya itu seperti tetesan embun yang menyentuh ubun-ubunnya. Namun kemudian seperti menyalanya bara harapan di dalam hatinya.

Dan didengarnya gurunya itu berkata seterusnya, “Mahisa Agni. Ilmu itu adalah ilmu yang didasari pada kekuatan- kekuatan yang tersimpan di dalam dirimu sendiri. Karena itu kau harus selalu ingat kepada sumbernya. Setiap penggunaan ilmu itu pun harus diperuntukkan bagi sumber itu sendiri. Sumber kekuatan- kekuatan di tubuhmu itu, dan lebih jelas lagi, adalah sumber hidupmu itu, Yang Menciptakanmu. Yang Menciptakan manusia.”

Semuanya kini menjadi semakin terang bagi Mahisa Agni. Dengan cepat ia dapat menghubungkan setiap peristiwa yang pernah dialami dengan kata-kata gurunya itu. Sekali lagi terucapkan puji dan sukur di dalam hati Mahisa Agni. Dan apa yang dikecewakannya atas akar wregu putih itu, seakan-akan telah larut dihanyutkan oleh harapan-harapan baru yang tumbuh di dalam hatinya. Harapan baru tentang ilmu yang disebut oleh gurunya, namun dilandasi oleh semua penjelasan dan nasihat-nasihat gurunya itu.

Maka kini ternyatalah baginya, bahwa gurunya telah menganggapnya lulus dari ujian yang dibebankan di atas pundaknya.

Sesaat kemudian gurunya meneruskan pula, “Agni. Untuk menerima ilmu itu, maka kau tidak cukup memerlukan waktu sehari dua hari. Namun sebenarnya sebagian besar dari dasar-dasarnya, dan persiapan- persiapan jasmaniah telah kau miliki. Karena itu, kau tinggal harus bekerja tidak lebih dari sebulan dua bulan.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Waktu itu tidak terlalu lama. Perjalanan yang ditempuhnya itu pun telah memakan waktu lebih dari sebulan. Dan kalau ia harus bekerja keras sebulan dua bulan lagi, maka waktu itu tak akan berarti baginya dibandingkan dengan waktu yang panjang yang terbentang di hadapannya.

Dan berkata pulalah gurunya, “Agni. Ilmu yang akan kauterima adalah ilmu yang harus kau tekuni untuk seterusnya. Ilmu itu tidak sekaligus menjadi sempurna. Aku hanya akan memberikan beberapa petunjuk dan membuka pintu saja bagimu. Seterusnya terserah kepadamu sendiri.”

Gurunya berhenti sebentar, seakan-akan menunggu kata-kata itu dicernakan oleh muridnya. Kemudian sambungnya, “Anakku. Ilmu itu aku terima dari guruku dengan sebuah nama yang dibuat oleh guruku sendiri. Nama ilmu itu tidak penting bagimu. Yang penting adalah isi dan pengamalannya. Aku terima ilmu itu dengan nama Gundala Sasra. Nah, sebaiknya kau sebut juga nama ilmu itu dengan nama Gundala Sasra.”

Dada Mahisa menjadi berdebar-debar mendengar nama itu. Gundala Sasra. Nama itu tidak, segarang nama-nama ilmu yang pernah didengarnya. Bajra Pati, Guntur Geni, Sapu jagat, dan lain-lainnya. Nama-nama yang pernah didengarnya dari gurunya itu pula, sebagai senjata-senjata pamungkas dari beberapa orang sakti. Memang sejak ia mendengar nama-nama ilmu itu, terbelit pula pertanyaan di dalam dadanya, apakah gurunya sendiri tidak memiliki aji yang dapat dibanggakan? Namun ia tidak pernah berani menanyakannya. Mungkin gurunya tidak akan senang mendengar pertanyaan itu. Apalagi seandainya gurunya itu benar-benar tidak memilikinya. Tetapi kini ternyata pertanyaan itu telah terjawab. Gurunya pun memiliki ilmu yang disimpannya baik-baik. Dan ilmu itu bernama Gundala Sasra, yang kini akan diturunkannya kepadanya. Karena itu dengan penuh harapan ia menyambut kata-kata gurunya itu. Bahkan telah dibayangkannya, bahwa ia harus memeras tenaga, mesu diri untuk mendapatkan jalan menerima kesaktian gurunya.

Yang didengarnya kemudian gurunya itu berkata, “Mahisa Agni, namun ilmu harus kau terima dengan kerja dan usaha. Aku tidak dapat meniup tengkukmu, dan kemudian ilmu ini telah meresap dengan sendirinya ke dalam tubuhmu. Atau mengusap ubun-ubunmu atau menghembus hidungmu. Namun aku sendirilah yang harus menempatkan dirimu dalam keadaan yang memungkinkan bagimu untuk menerima ilmu ini.”

Kembali gurunya itu berhenti sesaat. Sedang dada Mahisa Agni pun menjadi semakin berdebar-debar. Dan didengarnya gurunya itu berkata pula, “Agni. Marilah kita hidup di tengah-tengah hutan ini untuk beberapa lama, supaya kau leluasa memperkembangkan dirimu dalam ilmu yang akan kau terima. Prihatin dan mesu diri, menguasai tindak tanduk dan angan-angan adalah sumber dari kekuatan ilmu ini. Namun kita manusia hanya dapat berusaha, sedang ketentuan terakhir adalah di tangan Yang Maha Agung. Karena itu jangan menyesal apabila kekuatan ilmu itu tidak seperti apa yang kau harapkan, namun jangan sombong dan takabur apabila ilmumu akan berkembang menjadi ilmu yang dahsyat. Sedahsyat seribu guntur yang menyala di langit.”

Debar di dada Mahisa Agni menjadi semakin bergelora. Kini titik-titik keringatnya menetes satu-satu dari keningnya. Apa yang harus dihadapinya ternyata tidak lebih ringan dari perjalanannya yang telah dilakukannya. Meskipun demikian, dihadapinya masa-masa yang berat itu dengan penuh tekad. Dengan penuh gairah, segairah pada saat ia berangkat untuk menemukan akar wregu putih itu. Ternyata yang akan didapatnya bukan khasiat dari akar wregu itu, namun ilmu yang tak akan kalah dahsyatnya.

Ternyata Empu Purwa tidak menyia-nyiakan waktu. Setelah ia memberi kesempatan Mahisa Agni berburu sesaat dan mendapatkan makanan secukupnya setelah berhari-hari ia menahan lapar, maka Empu Purwa segera mulai dengan pekerjaannya, mengolah Mahisa Agni untuk dapat mewarisi ilmunya.

Yang dilakukan oleh Empu Purwa adalah membuka setiap kemungkinan pada setiap urat dan syaraf di dalam tubuh Mahisa Agni. Dihilangkannya setiap simpul-simpul yang dapat mengganggu mengalirnya kekuatan-kekuatan di dalam tubuhnya. Kekuatan-kekuatan yang tersimpan dan kekuatan-kekuatan yang tersembunyi.

Dan sejak hari itu, mulailah Agni melewati hari-hari yang maha berat. Setiap hari, bahkan siang dan malam. Dipelajarinya beberapa unsur-unsur gerak pokok. Dan dilatihnya untuk dapat menguasai tubuhnya dengan baik. Dilatihnya untuk dapat mengenal, memerintah menurut kehendak setiap gumpal daging di dalam tubuhnya. Dilatihnya untuk dapat merasakan setiap titik darah yang mengalir di dalam nadinya dan dilatihnya untuk mengatur setiap tarikan nafas di dalam dadanya. Dan ternyatalah bahwa sejak lama Empu Purwa telah menyiapkannya untuk pada suatu saat akan mengalami masa-masa yang amat berat ini. Karena itu, maka betapapun beratnya, namun jasmaniah dan rohaniah Mahisa Agni telah masak untuk melakukannya.

Namun bukan masalah lahiriah yang paling berat harus diatasinya. Sebagai seorang manusia yang mendapatkan kekuatan-kekuatan dari sumbernya, maka setiap hasrat dan angan-angannya pun harus dikuasainya pula. Ditekuninya dirinya dalam setiap tindak tanduk dan perbuatan, ditekuninya pula setiap pikiran, perasaan dan angan-angan. Dipanjatkannya setiap hakikat dari gerak rohaniahnya, melambung tinggi mencapai inti dari hidup dan kehidupan. Terpisahnya dan terpadunya dunia yang besar di luar dirinya dengan dunia yang sempit di dalam dirinya. Sehingga terbenamlah Mahisa Agni dalam suatu perjuangan, untuk menemukan keserasian gerak timbal balik dalam hubungan antara dirinya dan sumbernya, antara dirinya dengan wadaknya dan wadak yang tergelar di sekitarnya.

Sebenarnya apa yang dilakukan Mahisa Agni sangat beratnya. Namun Mahisa Agni mampu untuk melakukannya. Menerima ilmu gurunya itu ternyata tidak semudah seperti dongeng-dongeng yang pernah didengarnya. Seorang murid menundukkan kepalanya, kemudian dengan meniup ubun-ubunannya maka menjalarlah ilmu itu lewat hembusan gurunya dan hadir di dalam diri murid itu. Ternyata yang dilakukan adalah jauh lebih berat daripada itu. Ia harus bekerja keras siang dan malam. Menirukan unsur-unsur gerak yang baru dan memahami sampai ke tujuan dan alasan-alasan gerak itu. Mempelajari segenap guratan-guratan di dalam tubuhnya, urat darah dan nadi, urat-urat daging dan segala macam unsur penggerak, unsur penguat dan unsur perangsangnya.

Dan ternyata pula apa yang pernah dimiliki, kekuatan-kekuatan di sisi-sisi telapak tangannya, hanyalah sekedar kekuatan lahiriah yang sangat kecil dibandingkan dengan ungkapan-ungkapan kekuatan yang tersimpan dalam-dalam di dalam dirinya.

Demikianlah, maka di dalam hutan di kaki Gunung Semeru itu telah terjadi suatu peristiwa yang penting bagi perguruan Panawijen. Di balik dinding-dinding yang seakan-akan membatasi daerah itu, dengan pohon-pohonnya yang lebat, Mahisa Agni sedang berjuang untuk menampakkan dirinya pada keadaan yang memungkinkan baginya, untuk menerima ilmu gurunya.

Sehari dua hari, seminggu dua minggu dan lambat laun, terasalah beberapa perubahan di dalam diri Mahisa Agni itu. Setelah dengan penuh tekad ia berusaha di bawah tuntunan gurunya, maka akhirnya ditemukannya juga dasar-dasar yang dalam dari ilmu itu. Gundala Sasra.

Pada taraf terakhir dari masa penempaannya itu, Mahisa Agni benar-benar memeras segenap tenaga yang mungkin di dalam tubuhnya. Setelah segenap petunjuk, tuntunan dan latihan-latihan dengan gurunya dilakukan, maka akhirnya Mahisa Agni pun sampai pada taraf menunjukkan hasil perjuangannya. Hasil perjuangan yang memiliki nilai kembar yang saling bersangkut paut. Apa yang dicapainya adalah hasil hubungannya timbal balik dengan sumbernya. Cinta kasih yang memancar dari Sumbernya yang telah dapat dihayatinya, dan kemudian terpancarlah cinta kasih dari dalam dirinya, dalam kesetiaan dan pengabdiannya, maka Yang Maha Agung telah mengizinkannya, mengungkapkan semua kekuatan-kekuatan yang memang dianugerahkan dalam dirinya untuk melakukan hubungan timbal balik yang kedua dengan sesamanya. Hubungan cinta kasih antara sesama titah dalam pengamalan ilmunya.

Sehingga akhirnya sampailah saatnya kini Mahisa Agni diliputi oleh getaran-getaran yang terakhir dari penerapan ilmunya itu. Getaran-getaran yang seakan-akan menusuk-nusuk tubuhnya dari segenap arah. Seakan-akan dunia ini pun kemudian ikut bergetar pula dalam suatu gerak yang beraneka warna. Getaran-getaran yang kasar, yang halus, yang tajam dan dalam segala bentuk. Kemudian menyusullah getaran-getaran yang seakan-akan mengguncang-guncang tubuhnya. Seperti gempa yang melandanya bertubi-tubi. Namun Mahisa Agni sadar, bahwa ia harus menyelesaikan taraf yang terakhir ini. Karena itu dengan memejamkan matanya ia duduk bersila. Kedua tangannya bersilang dan telapak-telapak tangannya terletak di kedua pundaknya yang berlawanan. Dengan sepenuh tenaga lahir dan batin Mahisa Agni menghayati masa-masa terakhir itu.

Getaran-getaran itu pun semakin lama menjadi semakin terasa, dan bahkan kemudian, meskipun Agni telah memejamkan matanya, namun seolah-olah dilihatnya dunia ini dengan jelasnya. Semua warna yang ada, berputar-putar di dalam rongga matanya. Hijau, merah, hitam, kuning, ungu, biru dan segala macam warna. Namun itu sendiri tidak membawa arti apapun bagi Mahisa Agni. Yang kemudian dilihatnya adalah watak dari warna-warna seakan-akan wajah-wajah yang bengis, pucat, licik, suram dan segala macam. Namun akhirnya warna-warna itu berputaran dalam satu pusat. Bercampur baur menjadi satu. Segala macam warna dengan wataknya masing-masing. Semakin lama semakin cepat semakin cepat. Dan akhirnya luluhlah segala warna itu menjadi warna yang tunggal. Putih.

Warna putih itu pun berputar dengan cepatnya, Semakin lama menjadi semakin cepat. Dan seakan-akan dari pusat warna itu memancarlah cahaya yang terang semakin terang semakin terang. Akhirnya warna itu pun menjadi gemerlapan. Di dalam warna yang terang itulah Mahisa Agni seolah-olah melihat dirinya sendiri. Betapa lemahnya dirinya. Hanyut dalam pusaran warna yang putih dan gemerlap itu. Semakin cepat semakin cepat. Namun Agni yang berputar itu pun telah berusaha untuk menahan dirinya. Dengan segala usaha akhirnya gambaran dirinya yang berputar itu pun semakin dapat menguasai keadaannya. Sehingga akhirnya Agni itu pun kemudian berhasil tegak di atas kedua kakinya. Tegak dalam pancaran cahaya yang putih. Sehingga putaran cahaya yang putih itu pun menjadi semakin lambat, semakin lambat. Namun demikian cahaya itu berhenti, kembali tampak segala macam warna seolah-olah melanda warna yang putih itu. Namun cahaya yang memancar dari dalam diri Agni itu pun kemudian berhasil mengusirnya.

Kini dilihatnya bayangan dirinya itu membentangkan tangannya. Kemudian bersilang di muka dadanya sudut menyudut, kedua telapak tangannya terbuka dengan keempat jarinya merapat tegak. Dan dengan satu loncatan maju bayangan itu telah mengayunkan tangannya. Betapa dahsyat akibatnya. Seolah-olah angin Yang Maha Dahsyat melanda dirinya. Demikian dahsyatnya sehingga kepala Mahisa Agni itu serasa berputar dalam saat-saat yang terakhir itu, dunia telah menjadi gelap semakin gelap. Dan tubuh Mahisa Agni yang lemah itu pun kemudian terjatuh di tanah.

Gurunya, yang duduk di belakang Mahisa Agni, melihat perkembangan keadaan muridnya dengan tegang. Namun terasa olehnya, bahwa muridnya telah berhasil memusatkan segenap panca inderanya dalam satu karya. Bergabungnya segenap kekuatan, dan terungkitnya kekuatan-kekuatan itu, telah membebani muridnya dengan keadaan yang sangat berat. Demikian beratnya, sehingga akhirnya Mahisa Agni itu menjadi seolah-olah pingsan. Namun itu adalah pertanda, bahwa muridnya telah berhasil membuka hatinya dalam satu pemusatan pikiran yang akan dapat melandasi ilmu Gundala Sasra dalam pelaksanaannya.

BAGIAN II – Bunga Kembang Di Angin Kencang

Ketika Matahari menjenguk dari punggung cakrawala di timur, maka warna-warna yang kelam di dalam hutan di kaki Gunung Semeru itu pun menjadi cair pula karenanya.

Mahisa Agni perlahan-lahan menggeliat. Kemudian memandang berkeliling. Dilihatnya gurunya duduk menunggunya seperti seorang yang sedang bersemadi. Namun ketika dilihatnya Mahisa Agni terbangun maka orang tua itu pun kemudian tersenyum.

“Tidur yang nyenyak, Agni. Apakah kau bermimpi?”

Mahisa Agni pun tersenyum pula. Perlahan-lahan ia bangkit dan duduk di muka gurunya. Diamat-amatinya tubuhnya seperti ada sesuatu yang tidak dikenalnya pada dirinya. Namun demikian, sebelum ia bertanya kepada gurunya, dicobanya untuk mengetahuinya sendiri, perubahan-perubahan apakah yang telah terjadi pada dirinya itu. Tubuhnya kini terasa betapa segar dan ringan. Darahnya yang hangat serta detak jantungnya, tarikan nafasnya dan simpul-simpul sarafnya seakan-akan menjadi semakin teratur dan dikenalnya dengan sempurna.

Ketika kemudian dikenangnya apa yang telah terjadi kemarin, maka segera disadarinya, bahwa pasti ada perubahan di dalam dirinya itu.

Empu Purwa itu melihat betapa muridnya menjadi heran atas keadaan diri. Karena itu maka katanya, “Agni, adakah sesuatu yang lain kau rasakan dalam dirimu?”

“Ya, Guru,” jawab Mahisa Agni.

Gurunya mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian dirabanya tubuh muridnya. Dipijatnya setiap simpul-simpul syaraf dan nadinya pada punggung dan tengkuk muridnya. Sebagai seorang yang telah mengenal setiap simpul-simpul tubuh manusia, maka segera Empu Purwa mengetahui, bahwa tubuh Mahisa Agni pun telah terbuka. Maka katanya, “Agni, apakah yang terjadi pada dirimu?”

Mahisa Agni mencoba mengingat semua peristiwa yang tampak olehnya dalam pemusatan pikiran, perasaan dan angan-angannya. Satu demi satu, sehingga akhirnya semuanya menjadi gelap.

“Mahisa Agni,” berkata gurunya, “peristiwa yang terjadi dalam dunia yang tak kasatmata itu, tidak sama bagi setiap orang yang menjalani pemusatan pikiran, perasaan dan angan-angan seperti yang kau lakukan. Semuanya itu tergantung atas tanggapannya terhadap dunia besar dari dunia kecilnya. Juga sikap yang kau lihat itu pun tergantung pada unsur-unsur gerak yang paling merangsang dalam dirimu. Namun, adalah satu persamaan, bahwa kau telah diizinkan oleh Yang Maha Agung, untuk menguasai cara-cara yang se-baik-baiknya untuk mengungkapkan setiap kekuatan di dalam tubuhmu.”

Terasa dada Mahisa Agni berdesir halus. Sekali lagi ia mengucap syukur di dalam hatinya atas karunia itu Dan karena itu maka betapa ia menjadi terharu. Dengan demikian, maka tak sepatah pun yang dapat diucapkannya, karena kerongkongannya tiba-tiba serasa tersumbat.

Apalagi ketika kemudian gurunya itu berkata kepadanya, “Agni. Berdirilah. Lihatlah ke sekelilingmu. Dan cobalah, apakah kau benar-benar mampu menyalurkan kekuatan-kekuatan di dalam tubuhmu.”

Dada Mahisa Agni kini menjadi berdebar-debar. Ditatapnya wajah gurunya seakan-akan minta penjelasan. Sehingga kemudian gurunya itu pun berkata, “Berdirilah. Bersikaplah menurut ungkapan indramu dalam unsur-unsur gerak yang paling merangsang dalam dirimu. Salurkanlah kekuatan di dalam tubuhmu ke bagian-bagian tubuh yang kau kehendaki. Niscaya kau akan berhasil.”

Perlahan-lahan Mahisa Agni itu pun berdiri. Meskipun dengan agak ragu-ragu, namun ia melangkah pula agak menjauh. Dipandangnya keadaan di sekelilingnya. Yang ada hanyalah pokok-pokok kayu dan gumpalan-gumpalan batu padas yang berbongkah-bongkah.

“Mulailah Agni,” berkata gurunya.

Mahisa Agni mengangguk dalam-dalam sambil menjawab, “Akan aku coba, Guru.”

Mahisa Agni itu pun kemudian berdiri tegak. Dipusatkannya segenap kekuatan batinnya, diaturnya jalan pernafasannya seperti yang telah dipelajarinya. Ketika terasa di dalam dadanya getaran-getaran yang bergerak-gerak, maka dicobanya untuk mengaturnya dan menyalurkannya ke telapak tangannya.

Tiba-tiba seakan-akan digerakkan oleh tenaga yang tak dikenalnya, Mahisa Agni itu pun mengangkat kedua tangannya, kemudian disilangkannya kedua tangannya itu di muka dadanya, sedang keempat jari-jarinya tegak merapat. Satu kakinya pun kemudian terangkat ke depan. Dan ketika getaran yang mengalir dari pusat dadanya dan dari bagian-bagian tubuhnya yang lain seakan-akan telah mengendap di telapak tangannya, maka Mahisa Agni itu pun meloncat maju. Dengan telapak tangannya ia memukul sebongkah batu padas yang telah menjadi kehitam-hitaman. Betapa dahsyat tenaganya. Batu itu pun seolah-olah meledak dan pecah berserakan.

Mahisa Agni sendiri terkejut melihat akibat dari pukulannya. Namun ketika ia berpaling kepada gurunya, dilihatnya gurunya tersenyum.

“Bagus Agni,” berkata gurunya, “sekarang lepaskanlah kekuatan-kekuatan itu dan salurkan kembali ke tempatnya.”

—–
….maka Mahisa Agni itu pun meloncat maju. Dengan telapak tangannya ia memukul sebongkah batu padas yang telah menjadi kehitam-hitaman. Betapa dahsyat tenaganya. Batu itu pun seolah-olah meledak dan pecah berserakan.
—–

Mahisa Agni menarik nafas. Diangkatnya kedua tangannya merentang. Dan terasa otot-ototnya seakan-akan mengendur kembali.

“Kau harus melatihnya setiap kali Agni,” berkata gurunya, “namun ingatlah bahwa ilmu itu, yang kau sebut untuk seterusnya aji Gundala Sasra, bukan seperti permainan kanak-kanak yang dapat kau pamerkan setiap saat. Tekunilah dan dalamilah. Namun aku akan bergembira kalau kau tidak perlu mempergunakannya.”

Gurunya itu berhenti sesaat, kemudian katanya pula, “Agni, kelak apabila ilmu itu telah mapan di dalam tubuhmu, maka kau tidak akan memerlukan waktu lagi untuk melepaskannya. Sesaat saja, setiap kau kehendaki. Namun mudah-mudahan itu tidak akan terjadi.”

Mahisa Agni itu pun perlahan-lahan duduk kembali. Betapa dadanya seakan-akan bergolak. Berbagai perasaan merayap-rayap tak menentu. Bangga, gembira namun disadarinya pula tanggung jawabnya atas ilmunya itu. Dan wajah Mahisa Agni pun tertunduk karenanya.

Namun pekerjaannya yang berat kini telah lampau. Masa pengasingan di hutan yang sepi itu pun telah lampau pula. Karena itu, maka akan datang masa berikutnya, kembali ke Panawijen dalam pergaulan antar manusia untuk mendapatkan kesempatan mengamalkan ilmunya dengan wajar dan bertanggung jawab.

Matahari yang merayap di kaki langit itu semakin lama menjadi semakin tinggi pula. Empu Purwa yang masih saja duduk di atas batu padas itu pun kemudian berdiri. Diamatinya beberapa coretan pisau di sebatang pokok kayu. Dihitungnya setiap goresan dan kemudian katanya, “Empat puluh dua. Ya, kau telah tinggal di dalam hutan ini selama empat puluh dua hari Agni, selain hari-hari yang pernah kau tempuh untuk sampai ke tempat ini. Hari ini adalah hari yang keempat puluh tiga.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Telah cukup lama ia meninggalkan padepokan Panawijen. Meninggalkan sahabatnya Wiraprana. Ibunya dan gadis momongan ibunya, Ken Dedes. Dan tiba-tiba tumbuhlah perasaan rindu kepada padukuhannya itu. Meskipun demikian, Mahisa Agni menunggu apa yang akan dikatakan oleh gurunya. Ia mengharap bahwa gurunya itu akan membawanya pulang ke padepokan.

Ternyata gurunya itu pun kemudian berkata, “Mahisa Agni. Kita telah terlalu lama meninggalkan padepokan. Karena itu, apabila telah memungkinkan, pulanglah kau ke Panawijen. Padepokan itu telah hampir tiga bulan kesepian.”

Mahisa Agni menganggukkan kepalanya, jawabnya, “Guru. Aku sebenarnya memang telah rindu pada padukuhan itu. Tetapi bukankah kita akan kembali bersama-sama?”

Empu Purwa menggeleng lemah. Katanya, “Berjalanlah dahulu Agni. Aku masih akan singgah beberapa hari di tempat sahabat-sahabatku yang telah lama tak pernah aku kunjungi. Mumpung aku sampai di tempat ini pula. Namun tak ada soal yang penting. Aku hanya akan sekedar mengunjunginya. Bukankah kau berani berjalan sendiri?”

Mahisa Agni tersenyum mendengar pertanyaan gurunya. Empu Purwa itu tersenyum pula.

Hari itu adalah hari terakhir. Mahisa Agni seolah-olah berada di dalam pengasingan. Bersama gurunya mereka berdua pergi meninggalkan tempat itu. Tempat yang tak akan terlupakan bagi Mahisa Agni. Tempat ia menerima anugerah yang tak ternilai harganya bagi masa depannya.

Tetapi mereka berdua tidak seterusnya berjalan bersama-sama. Gurunya itu pun kemudian memisahkan diri. Ia masih ingin mengunjungi sahabat-sahabatnya yang telah lama tidak pernah ditemuinya.

Kini kembali Mahisa Agni berjalan seorang diri. Ditempuhnya jalan yang hampir dua bulan yang lalu dilewatinya. Menyusur tepi rawa-rawa ke arah timur.

Dan Mahisa Agni itu pun tidak takut lagi bertemu dengan orang timpang yang menamakan dirinya Empu Pedek. Menggelikan sekali. Betapa ia tidak mengenal orang yang timpang itu.

Ia bergaul dengan gurunya hampir setiap saat. Namun dengan berjalan seakan-akan timpang ia telah menjadi pangling.

Kini Mahisa Agni dapat berjalan jauh lebih cepat daripada saat ia datang. Jalan-jalan yang dilampauinya seakan-akan telah dikenalnya baik-baik, sehingga ia tidak perlu lagi bertanya-tanya kepada diri dan memilih-milih supaya tidak tersesat. Karena itu, maka waktu yang diperlukannya pun jauh lebih pendek dari waktu yang dipergunakannya dahulu.

Maka karena itu pula, Mahisa Agni sebelum senja telah sampai ke padukuhan kecil yang dahulu dilewatinya pula. Padukuhan yang oleh penduduknya disebut padukuhan Kajar. Tetapi ketika Mahisa Agni sampai di ujung padukuhan, ia menjadi heran. Matahari masih tampak di langit, walaupun sudah amat rendahnya, seakan-akan hinggap di punggung gunung. Namun padukuhan itu tampaknya sudah terlalu sepi. Tak seorang pun yang dapat ditemui oleh Mahisa Agni sebagaimana ia melihatnya dahulu. Penduduk padukuhan kecil yang rajin itu kini seakan-akan telah lenyap ditelan hantu. Rumah-rumah yang kecil di padukuhan itu pun tampaknya tertutup rapat, seakan-akan menolak kedatangannya.

Tetapi karena itu justru sangat menarik perhatian Mahisa Agni. Dalam waktu hampir dua bulan ia tidak melihat perubahan apapun di padukuhan kecil itu, namun perubahan suasananya terasa sekali.

Mahisa Agni masih saja berjalan menyusuri jalan berbatu-batu di tengah-tengah padukuhan itu. Ia menjadi berdebar-debar ketika dilihatnya sebuah pondok kecil di tepi jalan itu. Di dekat pondok itu dahulu ia bertanya kepada seorang tua yarg ramah. Seorang tua yang berjanggut putih dan berambut putih.

“Apakah rumah itu rumah orang tua yang baik itu?” berpikir Mahisa Agni.

Sesaat ia menjadi ragu-ragu. Namun kemudian katanya di dalam hati, “Ah, aku sama sekali tak bermaksud jelek. Bukankah orang tua itu dahulu mengajak aku singgah ke rumahnya?”

Maka kemudian dengan ragu-ragu Mahisa Agni memasuki regol halaman itu dan perlahan-lahan berjalan melintasi beberapa pokok pohon samboja dan tempat-tempat sesaji, langsung menuju ke pintu rumah. Perlahan-lahan pula Mahisa Agni mengetuk pintu rumah itu. Sekali, dua kali bahkan sampai tiga kali, suara ketukannya tidak mendapat sambutan. Namun telinga Mahisa Agni yang tajam mendengar langkah orang di dalam rumah itu. Gemeresik dinding pintu dan nafas orang di balik pintu itu.

“Ah, seseorang telah mengintip dari balik pintu,” katanya di dalam hati. Karena itu ia tidak mengetuk lagi. Ia menunggu, apakah kehadirannya akan diterima, atau tidak.

Sesaat kemudian ternyata pintu itu terbuka. Benarlah dugaannya, rumah itu adalah rumah orang tua yang dahulu pernah memberinya beberapa keterangan. Namun ia menjadi heran ketika dengan tergesa-gesa orang itu bertanya, “Ngger, siapakah Angger ini?”

“Aku Mahisa Agni, Bapak. Hampir dua bulan yang lalu aku pernah lewat di padukuhan ini. Bukankah Bapak pernah memberi aku beberapa petunjuk untuk mencapai rawa-rawa di sebelah selatan?”

Orang tua itu mengingat-ingat sebentar. Kemudian katanya, “Oh, ya. Aku ingat sekarang. Angger datang dari Gunung Kawi?”

Mahisa mengangguk sambil menjawab, “Ya, Bapak.”

“Marilah, marilah masuk,” ajak orang itu. Dan sebelum Mahisa Agni menjawab, dengan serta-merta orang tua itu menarik lengan Mahisa Agni. Mahisa Agni tidak menolak. Dan demikian ia melangkah pintu, demikian orang tua itu dengan tergesa-gesa menutup pintunya kembali.

Mahisa Agni pun menjadi semakin heran. Seolah-olah di luar rumah itu sedang berkeliaran hantu-hantu, sehingga orang tua itu menjadi ketakutan.

Dengan nafas yang terengah-engah seperti orang baru saja berlomba lari orang itu mempersilakan Mahisa Agni duduk di atas selembar tikar anyaman, “Silakan Ngger, silakan duduk.”

Mahisa Agni itu pun duduk pula. Diletakkannya tongkat kayu serta bungkusannya. Dan dengan sebuah anggukan Mahisa Agni menjawab, “Terima kasih, Bapak.”

“Ah,” desah orang tua itu, “hampir aku melupakan Angger. Bukankah Angger pernah lewat di jalan di muka rumah ini? Ah, Angger ternyata sekarang menjadi kurus. Jauh lebih kurus dari saat Angger lewat dahulu.”

Tanpa sesadarnya Mahisa Agni mengamat-amati tangannya. Memang ia menjadi bertambah kurus. Meskipun demikian ia menjawab, “Tidak Bapak. Aku tidak menjadi kurus.”

Orang itu tertawa. Tetapi tampaklah kegelisahan membayang di wajahnya. Namun demikian Mahisa Agni masih belum menanyakan sesuatu kepadanya.

Orang tua itu pun kemudian pergi sesaat ke belakang. Ketika ia kembali dibawanya dua bumbung legen. Diserahkannya, “Marilah Ngger, barangkali Angger haus.”

Mahisa Agni menerima bumbung itu. Alangkah segarnya setelah hampir tiga bulan tak pernah dihirupnya minuman, selain air. Air dingin. Kini legen yang manis.

Namun kegelisahan orang tua itu ternyata mempengaruhi perasaan Mahisa Agni. Ia pun menjadi gelisah pula. Apakah kehadirannya itu tidak berkenan di hati orang tua itu. Atau ada sesuatu yang lain. Karena, itu, akhirnya Mahisa Agni tidak dapat menahan diri lagi, sehingga kemudian katanya, “Bapak, alangkah sepi padukuhan ini. Masih jauh menjelang senja, rumah-rumah sudah tertutup rapat. Di jalan padukuhan ini, aku sudah tidak menjumpai seorang pun yang berjalan. Jangan berjalan, di halaman pun tak aku lihat seseorang.”

Orang tua itu mengerutkan keningnya. Kemudian setelah berdiam diri beberapa saat ia menjawab, “Untunglah Angger tak bertemu seseorang?”

Mahisa Agni menjadi semakin heran. Karena itu ia menyahut, “Kenapa?”

Orang itu dengan gelisahnya memandangi pintu rumahnya. Setelah sesaat ia berdiam diri, maka jawabnya perlahan-lahan sekali seakan-akan ia sedang mengucapkan sebuah rahasia yang tak boleh didengar oleh orang lain, katanya, “Padukuhan ini sebenarnya tidak sesepi sekarang ini, Ngger.”

Mahisa Agni mengangguk. Memang pada saat ia lewat dahulu, dilihatnya penduduknya yang rajin dan ramah. Rumah-rumah terbuka lebar dan anak-anak bermain-main di halaman. Maka didengarnya orang tua itu berkata selanjutnya, “Namun saat ini padukuhan yang kecil ini sedang mengalami ketakutan.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Ia sudah menyangka bahwa sesuatu yang tidak wajar pasti sudah terjadi. Maka Mahisa Agni itu pun kemudian bertanya, “Apakah yang mencemaskan penduduk padukuhan ini?”

“Terkutuklah anak itu!” desis orang tua itu. Tetapi dengan cemasnya ia berkali-kali menatap daun pintu leregnya. Katanya selanjutnya, “bersedihlah ibunya yang telah melahirkannya dan menyesallah padukuhan ini, yang telah memberinya kesempatan untuk dibesarkan. Karena akhirnya, terkutuklah anak itu.”

“Kenapa?” bertanya Mahisa Agni mendesak.

“Anak itu sebenarnya bukan anak yang jahat,” sahut orang tua itu, “ia adalah salah satu dari anak-anak keluarga padukuhan ini. Seperti anak-anak yang lain, ia adalah anak yang rajin dan bekerja dengan tekun membantu orang tuanya. Tetapi ketika ia menginjak umur sebelas dua belas tahun, anak itu dibawa oleh pamannya ke rantau. Ternyata di sana bertemulah anak itu dengan seorang guru. Terkutuk pulalah guru itu. Itulah sebabnya maka anak itu menjadi jahat. Diajarinya oleh gurunya ilmu-ilmu yang kasar. Berkelahi dan bertempur. Oh, alangkah jahatnya ilmu itu. Kenapa seseorang mesti belajar berbuat hal-hal semacam itu. Kenapa seseorang mesti melatih diri untuk berbuat kekasaran antara sesama.”

“Aku benar-benar tidak mengerti. Dan beberapa orang ternyata telah melakukannya. Di antaranya anak itu. Dan ia kemudian menjadi sakti pula karenanya. Dan kesaktiannya itulah yang menjadikan anak itu seperti anak yang gila.”

Mahisa Agni mendengar kata demi kata itu dengan wajah yang tunduk. Inilah salah satu contoh dari seorang anak muda yang lepas kendali. Anak muda yang memiliki kesaktian, namun kesaktiannya itu akhirnya telah menakut-nakuti orang di sekitarnya. Tiba-tiba ia merasa bahwa ia telah dihadapkan pada satu cermin di mana ia dapat melihat dirinya sendiri.

Dalam pada itu orang itu berkata seterusnya, “Siang malam aku berdoa mudah-mudahan dilenyapkanlah ilmu-ilmu semacam itu dari dunia ini, sehingga kami, orang-orang lemah ini akan dapat menikmati hidup kami dengan tenteram.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun ia sadar bahwa kata-kata itu sama sekali tidak ditunjukkannya kepadanya, namun ia merasa perlu juga untuk menjawab. Katanya, “Bapak. Yang salah menurut hematku bukan ilmunya. Tetapi karena ilmu itu dimiliki oleh seseorang, maka segala sesuatu tergantung sekali kepada orang itu. Ia dapat memanfaatkan ilmunya untuk tujuan-tujuan yang sebaliknya. Mempergunakan ilmunya untuk tujuan-tujuan yang baik.”

“Apakah tujuan yang baik itu? Dapatkah tujuan yang baik itu dilandasi oleh kekerasan dan kekasaran semacam itu?”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun sebelum ia sempat menjawab, ia pun menjadi terkejut. Seorang perempuan yang telah melampaui umur setengah abad, berlari terjingkat-jingkat dari ruang dalam. Kemudian dengan cemasnya ia berbisik, “Kiai, o Kiai, jangan sekali-kali menyebut-nyebut tentang anak itu. Lihatlah, ia lewat di jalan di muka rumah kita. Aku telah mengintipnya dari dapur.”

Orang tua itu pun tiba-tiba menjadi pucat. Dengan gemetar ia merangkak ke dinding rumahnya. Setelah ditemukannya sebuah lubang di antara anyaman dindingnya, maka ia pun mengintip pula.

“Oh, apakah ia anak hantu?” desisnya.

“Jangan Kiai,” potong perempuan tua, yang ternyata adalah istrinya, “ia tahu apa yang diucapkan oleh setiap orang tentang dirinya.”

Orang itu masih mengintip dari lubang dinding. Dan tiba-tiba Mahisa Agni pun ingin mengintip pula. Ia ingin melihat orang yang telah menakut-nakuti seluruh padukuhan ini. Karena itu pun segera Mahisa Agni mencari lubang pula di antara anyaman.

Dan sebenarnyalah, dilihatnya seorang laki-laki lewat di jalan di muka rumah itu. Meskipun tidak begitu jelas, namun Mahisa Agni dapat melihatnya, seorang anak muda yang bertubuh tinggi tegap berdada bidang. Namun ia tidak dapat mengenal wajah anak muda itu dengan cermat.

“Oh, ampun,” tiba-tiba orang tua itu berdesis. Mereka melihat orang yang mereka takuti itu berhenti di depan regol halaman. Sesaat diamat-amatinya regol itu, kemudian dilontarkannya pandangan matanya yang tajam itu ke pintu rumah. Mahisa Agni yang ikut serta mengintip itu pun ikut berdebar-debar pula. Didengarnya dengan jelas, nafas orang tua itu tersengal-sengal, bahkan perempuan tua di belakangnya itu pun telah menjadi semakin pucat.

Tetapi orang tua itu kemudian menarik nafas dalam-dalam. Ternyata anak muda yang mereka takuti itu tidak masuk ke halaman. Setelah ia berhenti dengan ragu-ragu, maka kemudian anak muda itu meneruskan langkahnya menyusuri jalan-jalan padukuhan tempat kelahirannya.

“Oh,” desis orang tua itu pula, “diselamatkannya kita oleh dewa-dewa.”

Meskipun demikian, seakan-akan ia masih belum percaya pada penglihatannya, sehingga untuk beberapa lama masih saja ia berjongkok mengintip. Baru setelah ia yakin, bahwa orang yang mereka takuti itu telah pergi, maka beringsutlah orang tua itu dari tempatnya, kembali duduk di atas tikar anyaman sambil mempersilakan Mahisa Agni, “Duduklah, Ngger.”

Mahisa Agni pun kemudian duduk kembali di tempatnya. Dilihatnya laki-laki tua itu masih gelisah dan cemas. Namun ia mencoba tersenyum. Katanya, “Sudahlah Nyai, pergilah ke dapur. Anak itu telah pergi.”

Perempuan itu menyahut, “Jangan membicarakannya. Ia akan mendengarnya. Dan ia akan datang kemari.”

Laki-laki itu tidak menjawab. Dipandanginya istrinya sampai di balik dinding. Kemudian setelah istrinya itu tidak kelihatan lagi, maka katanya, “Semua orang menjadi sedemikian ketakutan sampai orang tidak berani menyebut namanya. Ternyata istriku juga dan aku agaknya akan menjadi takut pula.”

“Siapakah namanya,” tiba-tiba saja Mahisa Agni melontarkan pertanyaan itu.

Orang tua itu terkejut mendengar pertanyaan Mahisa Agni. Jawabnya, “Jangan bertanya namanya Angger.”

Mahisa Agni tersenyum. Dan orang itu menjadi heran melihat senyum itu. Katanya, “Aku tidak sedang berolok-olok, Ngger. Aku berkata sebenarnya.”

“Bapak tadi telah mengutuknya. Kalau ia mengetahui setiap orang yang memerkarakan dirinya, kenapa ia tidak singgah kemari dan mempersoalkannya?”

Laki-laki itu menganggukkan kepalanya. Jawabnya, “Mungkin Angger benar.”

“Aku pasti Bapak,” sahut Mahisa Agni, “ia tidak akan mendengar.”

Orang tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Hampir saja ia menyebut nama itu, namun diurungkannya ketika ia melihat istrinya datang untuk menyalakan, lampu minyak yang melekat di dinding. Namun kemudian dengan selembar daun, nyala lampu itu pun ditutupnya supaya tidak tampak terlalu terang dari luar.

Baru ketika perempuan itu telah pergi, berkatalah orang tua itu, “Aku mengenalnya pada masa kanak-kanaknya dengan nama Pasik. Tetapi kemudian nama itu diubahnya. Ketika ia datang untuk pertama kalinya mengunjungi padukuhan ini sesudah berguru, maka namanya berganti menjadi Waraha. Aku tidak tahu, mana yang lebih baik namun Waraha benar-benar mempunyai kesan yang menakutkan.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Kesan nama itu benar-benar menakutkan. Dan bukanlah tanpa maksud bagi Pasik untuk mengubah namanya. Perubahan nama itu telah menunjukkan, nafsu yang tersembunyi pada anak itu. Nafsu untuk menang dan nafsu untuk menguasai. Maka bertanyalah Mahisa Agni kemudian, “Apakah yang kemudian dilakukan di tempat kelahirannya ini, sehingga semua orang menjadi takut kepadanya?”

“Oh, benar-benar terkutuk anak itu!” jawab laki-laki tua itu, “Setiap kali ia kehabisan uang, harta dan benda, selalu ia datang ke rumahnya. Mula-mula ayahnyalah yang diperas habis-habisan. Namun setelah ayahnya tidak memiliki apapun lagi, maka menjalarlah kepada tetangga-tetangganya. Apa saja yang diinginnya, diambilnya tanpa menghiraukan orang yang memilikinya. Perhiasan dan kekayaan-kekayaan lain yang kami kumpulkan sedikit-sedikit dengan kerja keras. Bahkan kemudian apabila diinginnya, sampai juga akhirnya pada anak-anak gadis dan perempuan-perempuan yang telah bersuami sekali pun.”

Mahisa Agni benar-benar tertarik pada cerita itu. Karena itu maka katanya pula, “Tidak adakah seorang pun yang dapat mencegah perbuatan itu?”

“Oh Ngger, Ngger. Ia adalah seorang yang sakti. Dan ia tidak selalu datang sendiri. Pernah ia datang bertiga dengan saudara-saudara seperguruannya. Dan bahkan kali ini ia datang bersama-sama dengan gurunya.”

Orang tua itu berhenti sesaat. Sekali lagi ia menatap pintu rumahnya, kemudian katanya melanjutkan perlahan-lahan sekali, “Ayahnya sendiri hampir saja dibunuhnya, ketika ayahnya itu mengutuknya. Kata ayahnya itu, kalau Pasik itu mati saja, maka ayahnya akan menyembelih tiga ekor kambing sebagai ucapan terima kasihnya. Tetapi ayahnya itu dipukulnya sambil berteriak, ‘Biarlah kau mati dahulu tua bangka’. Dan ibunya pun pernah juga dicekiknya hampir mati.”

Orang tua itu berhenti sejenak. Sekali-kali ia berpaling ke arah pintu dengan cemasnya. Kemudian katanya, “Ah. Sudahlah. Marilah kita berbicara tentang hal-hal yang lain, yang dapat menggembirakan hati kita.”

“Baiklah, Bapak,” jawab Mahisa Agni, “namun aku masih ingin bertanya sedikit tentang anak muda itu. Apakah Pasik itu juga mengenal Bapak dengan baik?”

“Oh tentu, tentu,” jawab orang tua itu, “ia mengenal aku seperti mengenal bapaknya sendiri pada masa kanak-kanaknya. Ia adalah kawan bermain anak gadisku. Dan ibumu di sini pun senang juga kepada anak itu dahulu. Apabila ia bermain-main kemari, diberinya anak itu makanan dan dibuatkannya permainan-permainan yang mengasihkan.”

“Sudah barang tentu sekarang tidak bukan bapak?” sela Mahisa Agni.

“Terkutuklah anak itu!” umpat orang tua itu perlahan-lahan sekali, “Ibunya, ya ibunya sendiri pernah dicekiknya hampir mati. Tetapi baik ayahnya maupun ibunya itu masih juga hidup sampai sekarang.”

“Apakah yang sudah dilakukannya sejak ia pulang kali terakhir ini, Bapak?” bertanya Mahisa Agni.

Orang tua itu menggeleng. “Belum ada,” jawabnya, “dan karena kami selalu berdebar-debar. Ketika ia pulang yang terakhir sebelum kali ini, diambilnya gadis anak tetangga sebelah untuk seorang saudara seperguruannya. Ketika orang tuanya mencoba untuk mencegahnya, maka orang itu diancamnya. Dan akhirnya tak seorang pun yang mampu untuk mengurungkan niat itu.”

Cerita itu pun terhenti pula ketika perempuan tua, istri laki-laki itu, masuk kembali sambil berbisik, “Sudahlah, Kiai. Sudahlah. Jangan sebut-sebut lagi anak muda itu. Akan celakalah nasib kita karenanya.”

Laki-laki tua itu menganggukkan kepalanya. Katanya, “Baik, baiklah, Nyai. Aku memang sudah akan berhenti bercerita, namun Angger Agni ini masih bertanya pula.”

Perempuan tua itu memandang wajah Mahisa Agni. Dari matanya memancar suatu permintaan, seakan-akan berkata, “Sudahlah Ngger, jangan bertanya tentang anak itu lagi.”

Mahisa Agni pun memaklumi permintaan itu. Dan ia pun menjadi iba juga kepada perempuan yang ketakutan itu. Karena itu maka ia tidak bertanya-tanya lagi. Dan laki-laki tua itu pun tidak bercerita lagi tentang anak muda yang menakutkan itu.

Kini laki-laki itu mulai bercerita tentang anak perempuannya. Anak yang diperistri oleh tetangga sebelah. Oleh kakak dari gadis yang dilarikan Pasik.

“Mudah-mudahan anak itu menjadi bahagia,” desahnya, “dan mudah-mudahan anak itu tidak diganggu oleh anak muda yang durhaka itu, atau oleh saudara-saudara seperguruannya.”

“Sst!” desis istrinya, “Kiai sudah akan mulai lagi?”

“Oh, tidak, tidak,” sahutnya cepat-cepat.

Dan sesaat orang itu berdiam diri. Istrinya pun tidak berkata-kata pula. Dengan demikian maka ruang itu menjadi sepi.

Namun betapa terkejutnya mereka itu bertiga, lebih-lebih lagi laki-laki tua beserta istrinya, ketika tiba-tiba didengarnya di muka pintu rumahnya suara tertawa perlahan-lahan, namun terasa getarannya memukul-mukul dada. Suara tertawa itu seolah-olah menyusup ke dalam rumah kecil itu dan melingkar-lingkar bergelombang.

“Mati aku!” desis laki-laki tua itu.

Sedang istrinya tiba-tiba saja menjadi gemetar seperti orang kedinginan. Terbata-bata ia berkata,” Oh Kiai, Kiai, kau telah membunuh diri dan membunuh seluruh keluarga kita. Aku sudah bilang, jangan kau memperkatakannya.”

Laki-laki itu pun menjadi gemetar. Mulutnya seakan-akan tersumbat.

Ketika didengarnya pintu rumah itu diketuk perlahan-lahan, perempuan tua itu dengan lemahnya terduduk d ilantai sambil gemetar.

“Selamat sore Kiai,” terdengar sapa halus di belakang pintu rumah itu. Namun suami istri itu benar-benar seperti orang yang kehilangan tenaga.

“Kiai,” sekali lagi terdengar suara di belakang pintu, “bukalah!”

Laki-laki tua itu masih terduduk di tempatnya. Mulutnya bergerak-gerak tetapi suaranya tak terdengar.

“Bukalah, Kiai!” suara di luar menjadi semakin keras. Dan orang tua itu pun terkejut. Jawabnya terbata-bata,” Ya, ya Ngger. Ya. Ya aku buka.”

Namun ia masih belum bergerak juga.

Tiba-tiba terdengarlah pintu rumah itu berderak. Dan sebelum orang tua itu membuka pintunya, maka pintu rumah itu pun telah terbuka. Ternyata orang yang berdiri di luar rumah itu sama sekali tidak sabar lagi menunggu laki-laki itu membuka pintunya,

Mahisa Agni pun menggeser duduknya pula menghadap pintu. Karena itu dilihatnya dalam cahaya lampu yang remang-remang seorang anak muda yang gagah masuk ke dalam rumah itu.

“Selamat sore, Kiai,” sapanya sambil membungkukkan kepalanya.

Suami istri itu benar-benar telah menjadi gemetar. Meskipun demikian laki-laki itu menjawab dengan kata-kata yang parau dan bergetar, “Selamat malam Ngger, selamat sore.”

Anak muda itu tersenyum. Diraihnya selembar daun yang menutup cahaya lampu minyak di dinding. Karena itu maka ruangan itu pun menjadi semakin terang.

Kini Mahisa Agni dapat melihat anak muda itu dengan jelas. Dilihatnya setiap garis di wajahnya. Wajah yang keras, namun tidak sedemikian bengis seperti yang disangkanya. Bahkan anak itu kelihatan tampan pula. Dengan tersenyum ia maju beberapa langkah dan kemudian ikut duduk pula di antara mereka.

Kemudian anak muda yang mengubah namanya sendiri menjadi Waraha itu tersenyum. Katanya, “Ah, sudah lama aku tidak berkunjung kemari Kiai.”

Orang tua itu menjadi semakin gemetar. Namun ia menjawab pula, “Ya, ya Ngger.”

Anak muda itu tertawa. Katanya, “Tetapi Kiai dan Nyai ternyata awet muda.”

Laki-laki tua itu pun mencoba untuk tertawa. Namun tampaklah betapa masamnya. Dan wajah-wajah yang pucat itu menjadi semakin pucat ketika anak muda itu berkata, “Ah. Ternyata Kiai dan Nyai selama ini tidak pernah melupakan aku. Setiap pembicaraan Kiai selalu masih menyebut-nyebut namaku.”

Kata-kata itu seolah-olah ledakan petir di atas rumah yang kecil itu. Laki-laki tua dan istrinya menjadi semakin menggigil karenanya, sehingga mereka tidak dapat mengucapkan sepatah kata pun lagi.

Anak muda itu kemudian memandang berkeliling ruangan itu. Ketika matanya hinggap di wajah Mahisa Agni, maka anak muda itu tersenyum. Dengan ramah ia bertanya kepada laki-laki tua itu, “Kiai, siapakah tamu Kiai ini?”

Laki-laki itu terkejut. Sesat ia menjadi bingung, namun kemudian ia menjawab, “Mahisa Agni Ngger, namanya Mahisa Agni.”

Pasik yang menamakan diri Waraha itu mengangkat alisnya. Katanya, “Nama yang baik. Mahisa Agni.”

Kemudian kepada Mahisa Agni ia bertanya, “Ki Sanak. Dari manakah Ki Sanak datang?”

Mahisa Agni menjadi heran. Anak muda ini tampaknya cukup sopan. Karena itu ia menjawab dengan sopan pula.

“Aku datang dari Gunung Kawi, Ki Sanak.”

Waraha mengernyitkan alisnya. Kemudian katanya, “Jauh sekali. Apakah keperluan Ki Sanak?”

“Aku adalah seorang perantau,” sahut Mahisa Agni.

Anak muda itu tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Tiba-tiba ditatapnya bungkusan Mahisa Agni di samping tongkat kayunya. Katanya pula, “Ya. aku percaya kalau Ki Sanak seorang perantau. Apakah yang Ki sanak simpan di dalam bungkusan itu?”

“Oh,” desah Agni, “bukan apa-apa. Hanya sekedar kain usang.”

Laki-laki muda yang gagah itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian dengan sopan pula ia berkata, “Apakah aku boleh melihatnya?”

Mahisa Agni menjadi terkejut dan heran. Anak muda itu mengucapkan kata-katanya dengan sopan, namun apa yang akan dilakukan benar-benar bukan suatu pekerjaan yang sopan. Kini tahulah Mahisa Agni, bahwa anak muda itu melakukan perbuatan-perbuatan yang menakutkan penduduk Kajar dengan tingkah laku yang sopan dibuat-buat. Karena itu Mahisa Agni menjawab, “Tak ada apa-apa di dalamnya, Ki Sanak.”

Waraha tersenyum. Ia tidak berbicara lagi. Beberapa langkah ia berjalan sambil berjongkok, dan dengan sopannya ia berkata kepada laki-laki tua itu, “Maafkan aku Kiai.”

Dan sebelum Mahisa Agni dapat mencegahnya, Waraha telah meraih bungkusannya.

Mahisa Agni hanya dapat menarik nafas. Namun ia harus memperhatikan setiap perbuatan Pasik. Karena itu, Mahisa Agni itu pun kemudian bergeser beberapa cengkang, mendekati Pasik yang asyik membuka bungkusannya itu.

Anak muda itu terkejut ketika di dalam bungkusan itu dilihatnya sebilah keris.

“Ah,” katanya, “keris yang bagus.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Keris itu adalah keris pusaka peninggalan ayahnya dan dibuat oleh pamannya. Meskipun demikian masih dibiarkannya Pasik mengamat-amati keris itu.

Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya Pasik itu bergumam, “Keris yang bagus. Bagus sekali. Dari manakah kau dapat keris ini Ki Sanak?”

Mahisa Agni mengangkat keningnya jawabnya, “Aku menerimanya dari Ayah, Ki Sanak.”

“Apakah kau seorang yang ahli mempergunakan senjata, khususnya keris?”

Mahisa Agni cepat-cepat menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Keris pusaka. Aku bawa ke mana saja aku pergi. Mudah-mudahan keris itu dapat memberi aku keselamatan.”

Waraha itu tiba-tiba tertawa. Katanya, “Ah kau aneh Ki Sanak. Apakah kerismu ini juga dapat memberimu keselamatan? Kau agaknya kurang dapat memahami kata-kata itu. Keris ini akan dapat memberi keselamatan apabila kau mampu mempergunakannya. Apakah kau mampu bertempur dengan keris?”

Mahisa Agni menggeleng pula. Jawabnya, “Mudah-mudahan keris itu bermanfaat bagiku.”

Pasik itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tiba-tiba ia berkata menyentak, “Hai perantau. Apakah kau seorang petualang yang sakti?”

Mahisa Agni terkejut ketika tiba-tiba ia melihat Waraha menarik kerisnya dari wrangkanya. Ujung keris itu tiba-tiba telah terayun ke dadanya.

Mahisa Agni itu pun kemudian bergeser surut. Ia tidak mau membuat perselisihan sejauh mungkin. Karena itu ia menjawab, “Jangan Ki Sanak, jangan.”

Namun Waraha itu pun beringsut maju pula. Kerisnya masih terarah ke dada Mahisa Agni. Sambil membentak sekali lagi ia berkata, “Ayo, lawanlah!”

Mahisa Agni pun bergeser pula mundur. Katanya, “Jangan Ki Sanak. Jangan.”

Tiba-tiba Waraha itu tertawa. Tertawa sepuas-puasnya. Katanya, “Hem. Sebaiknya kau tidak usah membawa senjata. Senjata ini akan berbahaya bagimu sendiri seandainya kau tidak mampu mempergunakannya.”

Mahisa Agni itu pun menjadi heran. Apakah maksud Waraha dengan kata-katanya. Tetapi ia tidak boleh lengah. Ketika ia berpaling ke arah sepasang orang-orang tua itu, maka Mahisa Agni menjadi iba. Keduanya telah menggigil seperti orang kedinginan. Demikian takutnya sehingga perempuan tua itu berpegangan suaminya erat-erat.

Waraha itu pun kemudian menyarungkan keris itu ke dalam wrangkanya. Kemudian dengan rapi keris itu dikembalikan ke dalam bungkusannya pula. Dan kini kembali wajah Pasik itu menjadi jernih. Dengan sopan ia berkata, “Ki Sanak. Ternyata keris itu sedemikian bagusnya. Aku belum pernah melihat keris sebagus itu. Apakah Ki Sanak benar-benar memerlukannya?”

“Tentu, tentu,” sahut Mahisa Agni cepat-cepat, “keris itu adalah pusaka peninggalan ayahku. Dan keris itu akan dapat memberi aku ketenangan.”

Waraha itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian dipandangnya wajah Mahisa Agni yang tunduk. Ketika Waraha itu berpaling ke arah laki-laki tua dan istrinya, ia tertawa. Katanya, “Maafkan aku Kiai dan Nyai. Aku tidak ingin menakut-nakuti kalian. Aku hanya bermain-main saja.” Dan tiba-tiba kepada Mahisa Agni ia berkata, “Ki Sanak. Aku ingin kerismu itu.”

Mahisa Agni sudah menyangka bahwa Pasik itu menginginkan kerisnya. Karena itu ia tidak terkejut. Meskipun demikian ia menjawab, “Jangan Ki Sanak. Keris itu keris pusaka.”

—–
Namun Waraha itu pun beringsut maju pula. Kerisnya masih terarah ke dada Mahisa Agni. Sambil membentak sekali lagi ia berkata, “Ayo, lawanlah!”
Mahisa Agni bergeser pula mundur Katanya, “Jangan Ki Sanak. Jangan.”
—–

Waraha tertawa. Sekali lagi ia memandang ke wajah laki-laki tua dan istrinya. Katanya, “Jangan takut, Kiai. Aku tidak akan berbuat apa-apa. Aku sebenarnya hanya ingin berkunjung saja. Bukankah Kiai dan Nyai telah banyak berbuat kebaikan kepadaku?”

Laki-laki tua itu mengangguk-angguk kosong. Dari mulutnya terloncat kata-kata, satu-satu, “Ya Ngger. Terima kasih, terima kasih.”

“Kenapa terima kasih?” bertanya anak muda itu.

Orang tua itu menjadi bingung, sedemikian bingungnya sehingga ia menjawab, “Terima kasih Ngger, karena Angger tidak akan berbuat apa-apa.”

“He?” jawab Pasik, “Apakah aku selalu mengganggu orang? Sehingga apabila aku tidak berbuat demikian, maka itu dapat dianggap suatu kebaikan?”

Orang tua itu menjadi semakin bingung. Terbata-bata ia menjawab, “Tidak, tidak. Maksudku tidak sedemikian.”

Pasik itu tiba-tiba tertawa terbahak-bahak sehingga tubuhnya berguncang-guncang. Semakin lama semakin tampaklah bahwa kesopanan yang berlebih-lebihan itu adalah dibuat-buatnya saja. Ternyata apa yang dilakukan semakin menjadi kasar dan memuakkan.

Kepada Mahisa Agni kemudian anak muda itu berkata, “Anak muda. Aku ingin kerismu itu. Besok kau harus menyerahkannya kepadaku di rumahku. Ingat besok. Aku tidak akan merampas keris itu di sini supaya aku tidak menakut-nakuti penghuni rumah yang baik ini, meskipun sekarang sudah menganggap aku sebagai anak durhaka, seperti orang seluruh padukuhan ini menganggap aku demikian pula. Tetapi tak apa. Aku dapat hidup tanpa orang-orang di padukuhan ini. Nah, ingat. Besok pagi. Jangan mencoba melarikan diri malam nanti. Sebab nyawamu pasti akan melayang.”

Mahisa Agni itu pun mencoba bertanya, “Kenapa aku mesti menyerahkan keris ini kepada Ki Sanak.”

Pasik mencibirkan bibirnya. “Jangan banyak bertanya,” jawabnya, “Malanglah kau, karena kau telah bertemu dengan aku. Nah kini aku akan pergi.”

Ketika Mahisa Agni akan berkata sesuatu, maka Pasik itu segera membentaknya, “Jangan bertanya dan berkata apapun! Kau hanya dapat melakukan. Datanglah besok ke rumahku. Serahkan keris itu kepadaku. Aku juga sedang menunggu beberapa orang yang akan memberi aku bekal perjalanan dua tiga hari yang akan datang. Mereka adalah sahabatku yang baik, yang dapat mengerti keadaanku.”

Dan Mahisa Agni pun kemudian tidak berkata-kata pula. Dan bahkan timbullah keinginannya untuk melihat rumah Pasik besok dan melihat apa saja yang akan dilakukannya dan siapa sajakah yang besok harus datang pula ke rumahnya.

Pasik itu pun kemudian berdiri. Namun ia tidak segera pergi. Dilepaskannya ikat pinggangnya beserta timang perak murni yang berkilat-kilat kena sinar lampu minyak. Heranlah Mahisa Agni ketika Pasik itu memberikan timang itu kepada orang tua penghuni rumah itu. Katanya, “Ah, Barangkali aku perlu memberikan sesuatu kepada Kiai. Bukan apa-apa, hanya sekedar tanda mata, supaya untuk seterusnya Kiai tidak melupakan aku, anak nakal yang pernah menerima kebaikan hati dari Kiai berdua.”

Orang tua itu pun menjadi tercengang. Karena itu untuk sesaat ia diam memasung. Dipandangnya Pasik dengan mata tak berkedip. Sehingga Pasik itu menyerahkannya sekali lagi, “Inilah Kiai, terimalah tanda mata yang tak berarti.”

Seperti kena pukau, maka orang tua itu pun berdiri. Selangkah maju sambil menerima pemberian yang tak disangka-sangkanya.

“Terima kasih,” katanya lirih, hampir tak terdengar.

“Jangan berterima kasih Kiai,” jawab Pasik, “kenang-kenangan yang tak seberapa nilainya.”

Orang tua itu pun menganggukkan kepalanya. Diamatinya timang perak itu dengan seksama. Baik juga buatannya. Meskipun orang tua itu sebenarnya tak memerlukan timang itu, namun tak habis juga herannya, kenapa pada suatu ketika orang yang bernama Pasik itu sedemikian baik hati kepadanya.

“Sudahlah, Kiai,” Pasik itu minta diri.

“Ya, ya Ngger,” sahut laki-laki tua itu.

“Selamat malam, Nyai,” katanya pula sambil melangkah ke pintu.

“Terima kasih Ngger, terima kasih,” jawab perempuan tua yang kemudian menjadi bertambah berani. Apalagi ketika ia melihat anak yang ditakuti itu justru memberikan timang dan ikat pinggang kepada suaminya. Suatu hal yang tak disangkanya, setelah suaminya tidak habisnya mengumpat dan mengutuk anak itu di hadapan tamu mereka.

Pasik itu pun kemudian membuka pintu, dan satu kakinya melangkahi tlundak. Tetapi tiba-tiba ia berhenti di tengah-tengah pintu. Sambil berpaling ia berkata, “Besok aku harap Kiai datang juga ke rumah mengantarkan anak muda itu. Salam buat gadis kiai. Tolong ajak juga ia serta. Jangan lupa, Kiai. Dan masih ada permintaanku kepada Kiai. Aku juga ingin mendapat tanda mata barang sedikit. Apapun asal dapat memberi aku kesan, bahwa Kiai pernah memberi aku kesenangan di masa kecilku.”

Orang tua itu menjadi berdebar-debar. Besok ia harus datang ke rumah anak itu dengan gadisnya. Ah, bukankah ia sudah bukan gadis lagi? Namun sebelum ia sempat menjelaskan, Pasik itu sudah berkata pula, “Kiai, barangkali Kiai tidak usah berpikir terlalu repot tentang tanda mata itu. Apapun jadilah. Misalnya ikat pinggang Kiai yang terbuat dari kulit kerbau itu bersama timangnya sekali.”

Kini orang tua itu benar-benar merasa seakan-akan disambar petir. Timangnya itu yang dimintanya. Timang emas bersalut permata. Satu-satunya kekayaan yang ada padanya, yang dikumpulkannya sejak mudanya.”

Karena itu, maka kembali tubuh suami istri itu menggigil. Bahkan lebih keras dari semula, sehingga timang perak murni itu terjatuh dari tangannya.

“Oh, oh,” berkata Pasik yang dengan tergopoh-gopoh melangkah mengambil timang itu, “Jangan dibuang Kiai. Simpanlah meskipun tak bernilai. Tetapi ingat, besok aku menunggu Kiai di rumahku. Dan Kiai akan datang membawa tanda mata yang aku minta itu, selain gadis kiai yang cantik dan anak muda tamu kiai itu.”

Pasik tidak menunggu orang tua itu menjawab. Dikalungkannya ikat pinggangnya di leher orang tua itu. Dan dengan langkah yang tegap tenang ia berjalan keluar dari rumah yang pernah menjadi tempatnya bermain pada masa kanak-kanaknya.

Sepeninggal Pasik, sesaat orang tua itu masih berdiri saja seperti patung. Baru kemudian ketika ia menyadari keadaannya, diambilnya ikat pinggang yang tersangkut di lehernya itu. Kemudian dibantingnya ikat pinggang itu sambil mengumpat, “Anak setan! Sampai hati juga ia minta timang itu.”

Istrinya ternyata sudah tidak dapat memberi sambutan apapun atas kejadian itu. Agaknya kepalanya menjadi pening, dan tanpa berkata apapun juga, perempuan itu berjalan bergegas masuk ke dalam biliknya.

Orang tua itu masih saja gelisah. Bahkan kemudian ia berjalan mondar-mandir sambil mengumpat tak habis-habisnya. Namun kata-kata Pasik itu merupakan perintah baginya selama ia masih sayang akan dirinya. Dipertimbangkannya keadaannya sebaik-baiknya. Berulang-ulang. Namun tak dilihatnya jalan apapun selain menyerahkan kekayaannya itu. Tetapi apabila diingatnya, Pasik minta ia datang bersama anaknya yang ternyata bukan gadis lagi, maka otaknya menjadi semakin pening, dan detak jantungnya seakan-akan memecahkan dadanya yang sudah menjadi semakin tipis.

Mahisa Agni menjadi kasihan juga melihat orang tua itu menjadi bingung. Tetapi ia tidak dapat berbuat sesuatu. Meskipun demikian dicobanya juga untuk mengurangi penderitaan perasaan itu. Katanya bertanya, “Kiai, apakah setiap perintah itu harus dipenuhi?”

Orang tua itu mengerutkan keningnya. “Hem,” desahnya, “kalau tidak, maka aku tidak akan menjadi gila seperti ini.”

“Bagaimanakah kalau sekali-kali permintaan itu ditolak?” bertanya Mahisa Agni pula.

“Belum pernah seseorang berbuat demikian sejak Carub terbunuh.”

Dada Mahisa Agni berdesir mendengar jawaban itu. Kalau demikian maka Pasik itu sudah melangkah terlalu jauh sehingga telah jatuh korban karena tangannya.

“Jadi Pasik itu pernah membunuh orang?” bertanya Agni

Orang tua itu mengangguk. Jawabnya, “Tidak sendiri. Bertiga dengan saudara-saudara seperguruannya.”

“Dikerubut?” desak Agni

Orang tua itu menggeleng. Jawabnya, “Salah seorang dari mereka telah cukup untuk membunuh Carub. Namun mereka melakukannya bertiga. Beramai-ramai seperti membunuh tupai. Mula-mula Pasik itu tidak akan melakukannya. Carub adalah kawannya bermain sejak kecil. Ketika orang itu menolak memberikan seluruh simpanannya sepuluh keping emas, maka Carub itu dipukul oleh Pasik. Namun kawan-kawannya tidak puas melihatnya. Karena itu, maka mereka pun ikut serta. Dan tubuh Carub itu kemudian seperti pisang busuk.”

Mahisa Agni mengangkat wajahnya. Sekali ia menarik nafas dalam-dalam. Katanya di dalam hati, “Apakah Pasik itu termasuk salah seorang tokoh sakti. Namun aku belum pernah mendengar namanya. Waraha pun belum pernah didengarnya. Mungkin nama gurunya.”

Karena itu maka Agni pun bertanya, “Siapakah gurunya itu?”

“Tak seorang pun yang mengetahuinya. Ia datang dari jauh. Dan disebutnya namanya seperti nama daerah asalnya. Menurut Pasik nama gurunya itu adalah Bahu Rekso Kali Elo.”

Sekali lagi dada Mahisa Agni berdesir. Nama itu belum pernah didengarnya, tetapi gurunya pernah menyebut-nyebut bahwa di sekitar Tumapel ada seorang guru yang datang dari daerah pusat Pulau Jawa. Namun sayang, tabiatnya kurang menyenangkan, sehingga orang itu tak begitu dikenal, dan bahkan agak terpencil dari pergaulan para sakti. Murid-muridnya tidak hanya dua tiga orang. Hampir semuanya adalah para penjudi dan penjahat. Apakah orang ini yang dimaksudkan, atau orang lain. Apabila benar orang itu, alangkah jauh daerah pengaruhnya, sehingga orang di kaki Gunung Semeru pun berguru pula kepadanya.

Dan ternyata orang itu kini ikut serta dengan muridnya yang bernama Pasik itu berkunjung ke padukuhan kecil ini. Dengan demikian kedatangan orang itu pasti akan mempunyai pengaruh yang sangat jelek terhadap penduduk Kajar.

Namun betapapun juga, Mahisa Agni terpaksa menilai diri dan orang-orang yang belum dikenalnya itu. Apalagi gurunya, sedangkan muridnya pun belum diketahui tingkat ilmunya. Seandainya, ya seandainya, Pasik memaksa untuk memiliki keris peninggalan ayahnya itu, apakah ia harus tetap berdiam diri?

Malam itu, hampir tidak ada di antara mereka bertiga,orang tua itu, istrinya dan Mahisa Agni yang sempat memejamkan matanya. Orang tua suami istri itu selalu diganggu oleh ketakutan dan kebingungan menghadapi permintaan Pasik. Sedang Mahisa Agni tak dapat melepaskan perasaan ibanya kepada orang tua itu. Ingin ia menjanjikan sesuatu kepada mereka namun apakah ia akan dapat memenuhinya, belumlah pasti. Sebab kalau benar, Bahu Reksa Kali Elo itu adalah orang yang dikatakan gurunya, maka ia tidak tahu apakah ia akan dapat meninggalkan padukuhan ini dengan selamat apabila ia ingin mempertahankan kerisnya.

Tetapi malam berjalan terus tanpa menghiraukan kegelisahan, ketakutan, kecemasan yang mencengkam Padukuhan Kajar. Tidak hanya orang tua itu saja yang ternyata tidak dapat tidur semalaman. Namun banyak yang lain. Banyak di antara mereka yang tidak dapat tidur karena harus menyerahkan cincin mereka, kalung mereka atau apa saja yang diinginkan oleh Pasik itu, yang sebagian besar adalah benda-benda berharga. Emas, permata dan sebagainya.

Dan malam itu pun berjalan menurut iramanya sendiri. Sekejap demi sekejap dilampauinya dengan ajeg menuju kepada akhirnya,

Ketika ayam jantan berkokok menjelang fajar, orang tua yang malang itu telah tidak dapat bertahan lagi berbaring di pembaringannya. Perlahan-lahan ia berjalan keluar dan duduk di tlundak pintu. Sedang Mahisa Agni yang tidur di lantai, di atas alas selembar tikar itu pun kemudian bangkit pula. Sekali ia menggeliat, kemudian kedua belah tangannya ia menutupi mulutnya yang sedang menguap.

Orang tua itu berpaling kepada Agni. Perlahan-lahan ia berkata, “Aku sudah hampir menjadi gila. Apakah Ki Sanak tidak sayang kepada keris itu?”

“Tentu, Bapa, tentu,” sahut Mahisa Agni terbata-bata.

“Pagi ini keris itu sudah harus Angger serahkan kepada si Pasik gila itu,” sambung orang tua itu.

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian tiba-tiba ia berkata, “Bagaimanakah kalau aku melarikan diri sekarang, Bapa?”

Orang tua itu mengerutkan keningnya. Jawabnya, “Hampir tak ada gunanya Ngger. Pasik itu pasti segera akan mengejarmu. Ke mana saja kau pergi, maka pasti akan dapat ditemukannya. Kalau Angger lari, itu hanyalah seakan-akan menunda mala petaka untuk sesaat. Namun Pasik pasti akan menebus susah payahnya itu dengan kegembiraan-kegembiraan yang gila. Ia mungkin juga untuk menyiksa seseorang demi kesenangannya, atau karena kejengkelannya.”

“Tetapi aku masih mempunyai cukup waktu sampai ia yakin aku tidak datang ke rumahnya.”

Orang tua itu pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian jawabnya, “Mungkin juga. Angger juga seorang perantau, sehingga Angger dapat berjalan lebih cepat dan mencari jalan-jalan yang sulit.”

Orang itu berhenti sejenak, nampaklah ia berpikir. Sesaat kemudian ia meneruskan, “Mungkin bagi Angger. Tetapi…….” Orang tua itu berhenti.

“Tetapi….?” ulang Mahisa Agni.

Orang tua itu menggeleng, “Tidak apa-apa Ngger. Namun kalau Angger ingin mencoba, cobalah, Biarlah aku tinggal di sini. Aku sudah tua.”

Mahisa Agni menjadi berdebar-debar mendengar kata-kata itu. Tetapi segera ia menangkap maksud kata-kata itu, meskipun orang tua itu berusaha untuk menyimpannya di dalam hati. Orang tua itu ternyata sedang membayangkan, apakah akibat yang akan terjadi, kalau tamunya itu melarikan diri. Maka segala persoalan pasti akan ditimpakan kepadanya. Dan sebenarnyalah Agni tidak ingin melarikan diri. Bahkan ia ingin melihat, apa saja yang akan terjadi di rumah Pasik itu.

Sementara itu pun, langit menjadi semakin lama semakin terang. Warna yang kelam seakan-akan sedikit demi sedikit larut dihanyutkan oleh angin pagi. Bintang-bintang yang masih gemerlapan, semua tenggelam dalam cahaya yang semakin terang. Dan bintang pagi pun kemudian sinarnya menjadi pudar dan lenyap ditelan cerahnya sinar matahari pagi.

Demikian akhirnya malam itu pun lenyaplah. Padukuhan Kajar itu kini kembali ditimpa oleh sinar matahari. Namun padukuhan itu tidak segera terbangun. Seakan-akan seseorang yang sedang sakit parah, yang tetap tinggal di pembaringannya meskipun matahari telah mencapai tinggi sepenggalah.

Tetapi akhirnya, beberapa orang Kajar itu harus ke luar juga dari rumah-rumah mereka. Mereka adalah orang-orang yang telah dikunjungi oleh Pasik serta diminta untuk datang ke rumahnya mengantarkan barang-barang yang dikehendakinya.

 

MAHISA AGNI PUN KEMUDIAN membenahi diri. Mencuci muka di sumur di belakang rumah. Memperbaiki letak pakaiannya dan kemudian bersama-sama dengan orang tua yang ramah itu, duduk di atas tikar anyaman menghadapi air jahe hangat dan sebongkah gula kelapa.

“Minumlah Ngger,” orang tua itu mempersilakan, namun ia sendiri tidak mau minum. Lehernya yang telah berkeriput itu seakan-akan telah tersumbat. Meskipun demikian, Mahisa Agni minum juga beberapa teguk. Alangkah segarnya.

“Sebentar lagi kita harus pergi memenuhi permintaan anak setan itu. Istriku sedang menjemput gadisnya di rumah sebelah. Mudah-mudahan kita dijauhkan dari malapetaka yang lebih besar. Biarlah aku serahkan timang itu, asal anakku itu tidak diganggunya.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Alangkah sedihnya orang tua itu.

Sesaat kemudian istrinya yang telah tua pula itu pun datang bersama anak perempuan beserta suaminya. Sekilas Agni segera dapat melihat air mata yang membasahi mata yang jernih bulat itu. Sedang suaminya, tidak lebih seorang petani biasa. Bertubuh kecil dan berhati kecil. Sehingga dengan gemetar ia bertanya, “Apakah yang akan dilakukan oleh Pasik, Kiai.”

Orang tua itu menggeleng. Jawabnya, “Aku tidak tahu. Mudah-mudahan tak akan dilakukan sesuatu.”

“Aku telah membawa semua perhiasan dan kekayaan yang aku miliki. Mudah-mudahan istriku tidak diganggunya.”

Orang tua itu tidak menyahut. Namun istrinya menangis terisak-isak, sehingga anaknya menangis pula. Katanya, “Biarlah aku tinggal di rumah. “

Ayahnya menarik nafas. Tak sepatah kata pun dapat diucapkan, sehingga anaknya itu berkata pula, “Ayah, aku lebih baik mati daripada disentuhnya.

Ayahnya masih terbungkam. Dan bahkan matanya pun menjadi basah pula.

Mahisa Agni benar-benar tak dapat menahan perasaan harunya. Karena itu tiba-tiba ia berkata, “Biarlah anak bapa tinggal di rumah bersama suaminya.”

Yang mendengar kata-kata Mahisa Agni itu terkejut. Orang tua itu berpaling kepadanya sambil berkata, “Aku tidak dapat membayangkan akibatnya.”

“Mudah-mudahan Pasik melupakannya setelah ia melihat timang bapa dan kerisku ini,” jawab Agni.

Orang tua itu berpikir sejenak. Tetapi kemudian ia menjawab, “Hampir tak ada gunanya, Ngger. Ia tidak dapat melihat keinginannya sepotong-sepotong terpenuhi. Ia ingin semuanya.”

“Tetapi apakah anak bapa itu juga terpaksa dikorbankan seandainya nanti dikehendaki oleh Pasik itu?”

Orang tua itu terdiam. Istrinya pun terdiam. Namun anak perempuannyalah yang menangis. Dan bahkan suaminya pun menangis.

“Jangan menangis,” minta Mahisa Agni kepada laki-laki itu, “seharusnya laki-laki tidak menangis.”

Tetapi laki-laki itu menangis terus. Katanya di sela-sela tangisnya, “Ki Sanak tidak merasakan apa yang aku rasakan. Itulah Ki Sanak dapat berkata demikian.”

Mahisa Agnilah kini yang terdiam. Ia tidak tahu bagaimana mencoba menghibur mereka. Namun ia menjadi semakin kasihan juga melihat keadaan keluarga yang sedang berduka itu.

Tiba-tiba perempuan tua itu berkata, “Kiai biarlah suaminya saja pergi bersama-sama Kiai. Biarlah anak ini tinggal bersama aku di rumah. Bawalah semua kekayaan yang ada sebagai tebusannya.”

Laki tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Akhirnya ia pun berkata, “Biarlah ia tinggal di rumah. Marilah kita pergi apa pun yang terjadi.”

Mahisa Agni menganggukkan kepalanya sambil menjawab, “Marilah. Kita tebus putri bapa itu dengan kekayaan. Mungkin Pasik akan bergembira karenanya.”

Orang tua itu tidak menjawab. Ditatapnya wajah anaknya dan istrinya berganti-ganti. Kemudian kepada menantunya ia berkata, “Marilah supaya Pasik tidak menjadi kesal menunggu kedatangan kita.”

Maka pergilah mereka bertiga ke rumah Pasik. Dengan wajah tunduk menantu orang tua itu berjalan di sampingnya, sedang Mahisa Agni berjalan di belakang mereka.

Sekali orang tua itu berpaling sambil bertanya kepada Mahisa Agni, “Apakah Angger sudah ikhlas akan keris itu?”

Mahisa Agni menarik nafas. Jawabnya, “Keris ini keris peninggalan Bapa.”

“Jadi?”

“Entahlah,” sahut Agni.

Kembali mereka berdiam diri. Mereka berjalan menyusur jalan-jalan padukuhan yang sempit, menuju ke rumah Pasik.

Akhirnya sampai jugalah mereka ke rumah itu. Rumah yang tidak begitu besar, namun berhalaman luas. Di halaman itu Mahisa Agni melibat beberapa orang telah berkumpul dengan berbagai bungkusan di tangan mereka. Namun tampaklah wajah mereka yang suram dan bersedih. Mereka harus menyerahkan beberapa macam benda bagian dari kekayaan mereka.

Ketika orang tua itu sampai di halaman rumah Pasik, maka semua orang yang sudah berada ditempai itu, menjadi heran dan saling berpandangan. Sebagian dari mereka menjadi heran, kenapa orang tua itu pula telah dijadikan korban o’eh Pasik ? Dan sebagian lagi heran melihat kehadiran orang yang belum pernah mereka kenal sebelumnya.

Seseorang yang telah setengah umur segera mendekati orang tua itu sambil berbisik, “Kenapa Kakang datang kemari?”

“Seperti juga kau datang kemari,” jawab orang tua itu.

“Oh, apakah Pasik itu sampai hati juga berbuat demikian kepada Kakang?”

“Ternyata demikianlah.”

Kemudian mereka itu terdiam ketika mereka melihat Pasik keluar dan rumahnya. Dengan wajah yang cerah anak muda itu tersenyum. Kemudian mengangguk kepada semua orang yang telah berada di halaman. Namun seleret ia, memandang ke seberang halamannya. Dan ternyata di kejauhan, beberapa orang dengan diam-diam ingin melihat apa yang terjadi di halaman rumah Pasik itu. Namun Pasik itu masih saja tersenyum. Kemudian dengan ramah ia berkata, “Alangkah senangnya aku, bahwa kalian masih juga suka berkunjung ke rumah ini. Meskipun belum kalian nyatakan, tetapi aku sudah tahu bahwa kalian telah bersusah payah datang untuk memberikan bekal perjalananku lusa. Sebenarnyalah aku memang hendak bepergian. Jauh, ke Tumapel mengikuti guruku yang hari ini datang juga ke padukuhan ini.”

Pasik itu diam sesaat, namun orang yang datang di halamannya mengumpat di dalam hati mereka. Sesaat kemudian Pasik itu berkata, “ Sayang, guruku pagi ini tidak dapat menerima kalian. Mungkin sebentar lagi setelah guru datang dari melihat-lihat daerah terpencil ini.”

Kembali Pasik itu berdiam diri. Ditebarkannya pandangan matanya sekali lagi. Ketika ia melihat Mahisa Agni, maka anak muda itu tersenyum, “Selamat datang Ki Sanak. Ternyata Ki Sanak sudi juga berkunjung ke rumah ini.”

Mahisa Agni pun menganggukkan kepalanya. Jawabnya,

“Tentu. Bukankah Ki Sanak yang minta kepadaku untuk datang pagi ini?”

Pasik mengerutkan keningnya, dan orang-orang yang mendengar jawaban itu pun menjadi terkejut. Alangkah beraninya orang itu menjawab pertanyaan Pasik. Namun kemudian mereka menyadari bahwa orang itu belum mengenal siapakah Pasik itu.

Pasik pun kemudian tersenyum pula, “Memang, aku kemarin telah mempersilakan kau datang. Bukankah lebih baik apabila kita memperbanyak sahabat?”

Mahisa Agni tidak menjawab. Dan dibiarkannya Pasik tersenyum puas. Ia ingin melihat apa saja yang akan terjadi seterusnya di halaman itu. Ternyata Pasik itu pun tidak memperpanjang perkataannya. Dengan singkat kemudian ia berkata, “Nah, aku akan sangat berterima kasih atas pemberian kalian. Karena itu, marilah berikanlah apa yang ingin saudara-saudara berikan itu.”

Suasana kemudian menjadi hening sepi. Tampaklah beberapa orang menjadi ragu-ragu. Sehingga Pasik itu pun berkata, “Marilah. Satu demi satu, supaya aku dapat melihat barang-barang yang kalian berikan itu. Marilah!”

Maka, sesaat kemudian mulailah orang yang pertama berdiri. Melangkah maju dan menyerahkan bungkusannya kepada Pasik. Dengan tersenyum puas, Pasik membuka bungkusan itu. Sepotong cula berukir berbentuk sebuah golek yang sangat manis. Namun wajah Pasik itu tiba-tiba menjadi gelap. Katanya, “Apakah benda ini sama sekali tidak bersalut emas?”

Orang yang membawa cula berukir itu terkejut. Dandengan ketakutan ia menjawab, “Tidak, tidak Pasik.”

“He?” potong Pasik, “Sebutlah namaku!”

“Oh,” orang itu semakin ketakutan, “maksudku Angger Waraha.”

Pasik menarik napas. Tetapi tiba-tiba ia membentak “Bohong! Benda-benda serupa ini biasanya bersalut emas.”

“Tetapi yang ini tidak Ngger,” jawab orang itu, “ini adalah peninggalan Bapakku. Dibuatnya benda ini dengan tangannya sebagai kenang-kenangan pada masa mudanya, ketika Bapak itu berhasil menangkap seekor badak yang jarang terdapat di daerah ini dalam perburuannya. Sehingga sudah tentu kami tidak dapat memberinya emas. Sebab sebenarnya kami tidak pernah melihat, apalagi memiliki emas. Maka …”

“Cukup!” bentak Waraha, orang itu sedemikian terkejutnya sehingga tubuhnya tiba-tiba menjadi gemetar, “Aku tidak perlu sesorah itu.”

Orang itu ternyata masih ingin memberi beberapa penjelasan, namun mulutnya sajalah yang bergeletar, tetapi tak sepatah kata pun yang dapat lolos dari tenggorokannya. Apalagi ketika kemudian ia mendengar Waraha membentaknya sekali lagi, “Pulang! Jangan menghina aku! Ambil yang lain!”

“Itu, itu…,” sahut orang itu terbata-bata, “itu adalah milikku yang paling berharga Ngger.”

“Pulang, dan ambil yang lain! Dengar?”

“Aku, aku sudah tidak punya apa-apa lagi.”

Waraha itu kemudian menjadi marah. Dengan serta-merta golek cula yang amat manis itu dibantingnya pada sebuah batu.

“Pasik!” teriak orang itu. Tetapi ia hanya dapat melihat golek itu pecah berserakan. Bahkan Pasik itu masih bertambah marah lagi, karena orang itu menyebut nama aslinya. Karena itu, dengan kakinya yang kokoh kuat Pasik mendorong orang itu sehingga terpental beberapa langkah dan jatuh berguling di tanah.

Halaman itu menjadi tegang dan sepi. Sesepi perkuburan

Tak seorang pun yang berani memandang wajah Pasik. Namun tiba-tiba mereka yang berada di halaman itu terkejut ketika mereka mendengar Pasik itu tertawa. Kemudian ia berkata lemah, “Ah. Maafkan aku. Aku tidak biasa berlaku kasar. Namun aku sebenarnya tidak mau dihina. Aku tidak mau dihina. Aku tidak akan sakit hati seandainya kalian tidak ingin memberi aku bekal apa pun. Namun aku tidak mau dihina dengan benda-benda serupa itu.”

“Hem,” orang tua di samping Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Tetapi tiba-tiba ia terkejut ketika Pasik itu tiba-tiba memandangnya sambil tersenyum. Kemudian dengan hormatnya ia berkata, “Ah, Kiai. Agaknya Kiai datang juga ke tempat yang kotor ini.”

Orang tua itu menjadi berdebar-debar. Apalagi kemudian Pasik itu berkata, “Sebenarnya aku akan sangat gembira apabila Kiai datang bersama gadis Kiai itu.”

Orang tua itu tidak menjawab. Namun debar di dadanya menjadi semakin cepat. Karena ia tidak menjawab,maka Pasik itu berkata pula, “Kiai, tidakkah Kiai datang dengan gadis Kiai itu?”

Orang tua itu menjadi bertambah gelisah. Keringat dinginnya telah mulai membasahi bajunya. Dengan tergagap ia menjawab, “Tidak Ngger. Aku datang bersama suaminya.”

“Suaminya?” tiba-tiba mata Pasik itu terbelalak. Apakah yang Kiai katakan?”

Orang tua itu telah benar-benar menjadi gemetar. Sehingga kembali mulutnya terbungkam. yang menjawab kemudian adalah Mahisa Agni.

“Ya Ki Sanak. Kiai ini datang bersama menantunya.”

Mata Pasik itu kemudian menjadi merah. Dengan liar ia menatap Mahisa Agni dan laki-laki tua itu berganti-ganti. Kemudian katanya lantang “Kiai, buat apa menantumu itu bagiku?”

Mahisa Agni menjadi ragu-ragu. Karena itu ia pun kemudian berdiam diri. Dibiarkannya Pasik menggeram dan kemudian berkata, “Aku sudah mengatakan, seharusnya Kiai datang dengan anakmu, bukan menantumu. Buat apa aku minta menantumu datang?”

Pasik berhenti sejenak. Kemudian pandangan matanya jatuh kepada menantu orang tua itu. “Ha, kau agaknya menantunya bukan? Jangan ingkar! Gadis itu memang cantik. Bukankah gadis itu kawan kita bermain sejak anak-anak?”

Tiba-tiba Pasik itu tertawa. Suaranya menggelegar memenuhi halaman. Karena itu setiap orang yang mendengar menjadi ngeri karenanya. Kemudian katanya meneruskan, “Aku kenal kau sejak kecil dan kau kenal aku sejak kecil pula. Karena itu, marilah kita berbaik hati sesama kita. Tolonglah aku, panggillah istrimu itu!”

Kata-kata itu benar-benar tak dapat dimengerti oleh Mahisa Agni. Dan ia menjadi semakin tidak mengerti, ketika menantu orang tua itu menangis, “Bagaimana Kiai? Apakah aku harus memanggilnya?”

Orang tua itu pun terdiam. Dan suasana di halaman itu menjadi beku. yang terdengar kemudian adalah suara Pasik tertawa sambil berkata lembut. “Bukankah kita bersahabat?” katanya, “Nah, tolonglah aku.”

Tetapi tiba-tiba Pasik itu terkejut ketika seorang perempuan menggamitnya. Ketika ia menoleh, maka katanya “Oh, Ibu. Apakah ada sesuatu?”

“Pasik,” berkata ibunya.

Namun segera Pasik memutus, “Sebut namaku!”

“Oh,” desah ibunya “Waraha. Apa pun yang akan kaulakukan, namun jangan diganggu tetua padukuhan kami itu.”

Pasik mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia berpaling kepada menantu orang tua yang disebut sebagai tetua padukuhan itu. Katanya “Lekas, tolonglah aku.”

“Waraha,” panggil ibunya.

Namun Pasik itu seakan-akan tidak mendengar, bahkan ia berteriak lebih keras “Cepat! Panggil istrimu itu sekarang!”

“Angger,” berkata orang tua itu dengan gemetar, “aku telah membawa timang yang Angger kehendaki, dan menantuku telah membawa perhiasan yang dimilikinya. Sedang tamuku pun telah merelakan kerisnya untuk Angger. Apakah Angger masih memerlukan anakku itu?”

Pasik sama sekali tidak mau mendengar kata-kata itu. Ia kemudian berteriak tinggi, “Lekas, panggil ia sekarang!”

Menantu tetua Padukuhan Kajar itu masih terpaku di tempatnya dengan tubuh gemetar. Sedang mata Pasik itu telah menjadi semakin merah. Namun ketika ia akan berteriak kembali, sekali lagi ibunya menggamitnya dan berkata, “Jangan Waraha, jangan ganggu anak itu.”

Tetapi Waraha itu masih saja tidak mau mendengar kata-kata ibunya itu, sehingga kemudian ibunya itu menarik tangannya, “Orang tua itu kami hormati seperti orang tua kami sendiri. Dan bukankah orang tua itu terlalu baik kepadamu pada masa kecilmu. Kini seharusnya ….”

“Diam!” tiba-tiba Waraha itu membentak. Ibunya menjadi sangat terkejut dan bahkan semua orang menjadi terkejut pula. Meskipun demikian ibunya itu meneruskan, “Waraha, aku minta sekali lagi, jangan.”

Waraha menarik tangannya, dan bahkan tangan ibunya itu didorongnya. Kini ia menunjuk kepada orang tua beserta menantunya itu, “Cepat! Panggil perempuan itu! Aku menghendaki timang, keris, dan perempuan itu. Jangan dikurangi!”

Kini ibunya tidak lagi hanya menarik tangannya, tetapi anaknya itu dipeluknya sambil meminta, “Ingatlah, Waraha. Orang itu terlalu baik buat kita. Jangan nodai dengan kekasaran dan nafsu.”

Waraha itu kini menjadi benar-benar marah. Tiba-tiba digetarkannya tubuhnya keras-keras, dan perempuan yang memeluknya itu, ibunya, terpelanting beberapa langkah. Kemudian jatuh terbanting di tanah. Terdengar ia memekik kecil. Namun pekiknya sama sekali tidak mempengaruhi kekerasan hati anaknya. Waraha itu hanya berpaling sesaat, kemudian dengan tanpa memandang ibunya yang masih terbaring itu berkata, “Aku tak mau dihalangi oleh siapa pun juga. Semua kehendakku harus terjadi!”

Kini kesan keramahan, kesopanan dan kelembutan benar-benar telah lenyap dari Pasik. Matanya semakin lama bahkan menjadi semakin liar. Sekali lagi ia berpaling ketika seorang laki-laki dengan gemetar menolong perempuan yang terbanting itu. Dengan lantang ia berkata, “Ayah, bawalah perempuan celaka itu pergi. Kalau tidak maka tidak ada keberatan apa pun bagiku untuk memaksa kalian pergi. Jangan campuri urusanku. Uruslah sendiri kepentingan Ayah dan Ibu!”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Alangkah buasnya anak muda itu. Menilik wajahnya, keluarganya dan keadaan di sekitarnya maka mustahillah bahwa lingkungan itu dapat membentuk orang sekasar Waraha itu. Tetapi kemudian Mahisa Agni pun memperhitungkan pula kepergian Waraha itu beserta pamannya, kemudian berguru kepada gurunya itu selama ia di rantau. Dengan demikian, menurut kesimpulan Mahisa Agni, pasti lingkungan perguruannya yang telah merusak hidup anak muda itu.

Kini kembali Pasik itu memandangi orang tua beserta menantunya. Sekali lagi ia berteriak, “Aku ingin memberi kalian kesempatan sekali lagi. Panggil perempuan itu. Aku menghendaki semuanya. Tidak sebagian-sebagian dari permintaanku itu.”

Orang tua itu menjadi semakin gemetar, dan menantunya menangis lebih deras lagi sambil bertanya, “Kiai, bagaimana Kiai?”

“Jangan bertanya lagi! Berdiri dan pergi!” bentak Pasik.

Laki-laki itu menjadi seperti orang kehilangan kesadaran. Dengan demikian ia tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan. Diguncang-guncangnya tangan mertuanya. Namun mertuanya itu pun telah menjadi sangat bingung pula.

Dalam keadaan yang demikian, maka halaman itu benar-benar dicengkam oleh suasana yang mengerikan. Semua dada seakan-akan berdentingan. Mereka yang melihat tetua mereka itu menjadi sangat kasihan. Namun mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Nasib mereka masing-masing pun masih belum mereka ketahui. Dengan diam-diam mereka mencoba menilai apa-apa yang sudah dibawanya. Jangan-jangan benda-benda itu tidak menyenangkan hati Pasik, kecuali mereka yang sudah mendapat pesan untuk membawa benda-benda tertentu. Memang kali ini Pasik berbuat lebih jauh dari masa-masa yang lampau. Kali ini Pasik ingin memperlihatkan kepada gurunya, apa yang dapat dilakukannya di kampung halamannya. Karena itu, maka apa yang dilakukannya kali ini benar-benar mengejutkan dan sangat menakutkan bagi penduduk Kajar.

Pasik itu pernah datang bersama-sama beberapa orang saudara seperguruan. Pernah diambilnya seorang gadis untuk saudara seperguruan itu. Pernah dibunuhnya seorang anak muda kawannya bermain semasa kanak-kanak. Pernah juga dilakukan hal-hal yang mengerikan. Namun belum pernah Pasik mengundang orang sebanyak ini untuk datang di halaman rumahnya. Apabila termasuk tetua padukuhan mereka. Bahkan anak perempuannya pula dikehendakinya. Kali ini Pasik benar-benar ingin memperlihatkan kekuasaannya di antara penduduk tempat ia dilahirkan.

Ketika Pasik itu masih melihat menantu tetua padukuhan itu masih belum beranjak dari tempatnya, maka ia pun menjadi semakin marah. Dengan nada yang tinggi ia berteriak, “He, apakah yang kau tunggu? Apakah kau ingin kepalamu bengkak dahulu?”

Laki-laki itu benar-benar menjadi ketakutan. Karena itu dengan gemetar ia berdiri untuk pergi memanggil istrinya.

Tetapi laki-laki itu terkejut, ketika Mahisa Agni menggamitnya. Dengan isyarat ia mencegah laki-laki itu. Namun laki-laki itu tidak segera dapat menangkap isyaratnya, sehingga perlahan-lahan Mahisa Agni berbisik, “Jangan pergi! Lindungilah istrimu itu.”

Laki-laki itu menjadi bertambah bingung. Ia sependapat dengan Mahisa Agni. Namun ia tidak berani menentang kehendak Waraha.

Ketika Waraha melihat orang itu berhenti, maka sekali lagi ia berteriak, “Apakah kau benar-benar bosan hidup?”

Dengan gemetar orang itu melangkah kembali. Namun sekali lagi Mahisa Agni mencegahnya. Bahkan kali ini ia menahan tangannya.

“Jangan!” katanya.

Kali ini Pasik melihat tangan Mahisa Agni menarik tangan laki-laki itu. Karena itu betapa ia menjadi sangat marah. Dengan serta-merta ia mengumpat sambil berkata, “Setan!Apakah yang kau lakukan itu?”

“Tidak apa-apa,” jawab Mahisa Agni, “aku hanya ingin memperingatkannya, biarlah istrinya berada di rumah.”

Wajah Pasik itu seakan-akan menjadi menyala mendengar jawaban Mahisa Agni, sehingga agaknya ia perlu meyakinkan pendengarannya.

“He, apa katamu?” Ia bertanya.

Sekali lagi Mahisa Agni menjawab, “Aku hanya ingin memperingatkannya, sebaiknya istrinya tetap berada di rumah.”

Tubuh Pasik itu kemudian menjadi gemetar. Kini ia mendengar dengan jelas, apa yang dikatakan oleh orang yang baru saja dikenalnya itu. Katanya, “Ki Sanak, jangan membuat keributan di sini. Apakah kau belum pernah mendengar nama Waraha, setidak-tidaknya dari orang tua tempat kau menginap itu?”

“Sudah,” jawab Mahisa Agni singkat.

“Setan!” Waraha itu mengumpat, “sekarang berikan kerismu itu.”

Mahisa Agni masih tetap berada di tempatnya. Ia sama sekali tidak bergerak, apalagi memberikan kerisnya, sehingga sekali lagi Pasik berteriak, “Berikan kerismu perantau, atau kau akan berkubur di padukuhan yang asing bagimu ini?”

“Kedua-duanya tidak menyenangkan Pasik,” jawab Mahisa Agni.

“He?” teriak Pasik, “Sebut namaku!”

“Ya. Bukankah namamu Pasik?”

“Diam! Sebut namaku sepuluh kali!”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Pasik itu benar-benar telah memuakkan. Karena itu ia justru berdiam diri. Bahkan dengan acuh tak acuh ia menarik tangan menantu tetua Padukuhan Kajar sambil berkata, “Marilah! Duduklah di sini.”

Semua yang melihat, apa yang telah dilakukan Mahisa Agni itu pun menjadi semakin tegang. Kini mereka melihat Waraha menggertakkan giginya. Seseorang yang duduk di samping Mahisa Agni itu menggamitnya sambil berbisik, “Angger. Jangan membuat Angger Waraha itu marah.”

Tetapi sebelum Mahisa Agni sempat menjawab, terdengar kata-kata Pasik, “He, perantau yang malang. Sebentar lagi guruku pasti datang. Karena itu cepat berikan keris itu, lalu kau boleh meninggalkan tempat ini. Tetapi kalau kau mengganggu pertemuan ini, maka terpaksa aku membunuhmu, meskipun Guru ada di sini. Sebenarnya bukanlah suatu suguhan yang baik. Mayat seorang perantau. Tetapi apa boleh buat.”

Mahisa Agni mengambil kerisnya yang terselip diikat pinggangnya. Kemudian dengan tenangnya keris itu diamat-amatinya. Dan dengan tenang pula ia berkata, “Ki Sanak. Kerisku adalah keris peninggalan ayahku. Karena itu, alangkah sayangnya kalau keris ini aku berikan kepada seseorang. Apalagi seseorang yang tak memerlukannya lagi seperti Ki Sanak. Tanpa senjata pun Ki Sanak adalah seorang yang sakti. Tetapi bagiku, keris ini akan sangat berguna. Sebab…”

“Cukup!” bentak Pasik, “Berikan sekarang. Dan biarlah laki-laki cengeng itu menjemput istrinya.”

“Jangan!” sahut Agni, “keris ini tak akan aku berikan kepada siapa pun, dan laki-laki ini tak akan menjemput istrinya.”

“Angger,” desis laki-laki tetua padukuhan itu. Tubuhnya yang kurus itu semakin berkerut, “jangan membuat Angger Waraha menjadi semakin marah. Maka akibatnya, seluruh penduduk Kajar akan mengalami bencana.”

Kini Mahisa Agni sudah tidak melihat kesempatan lain. Ia tidak dapat membiarkan kelaliman itu berjalan terus. Ia sudah cukup melihat kenyataan yang berlaku di hadapan hidungnya. Dan ini harus dihentikan. Apakah ia akan berhasil atau tidak, bukanlah menjadi soal. Tetapi ia mengharap,bahwa usahanya akan berhasil. Karena itu, maka Mahisa Agni itu pun kemudian berdiri. Ditariknya kerisnya dari wrangkanja. Kemudian diangkatnya di atas kepalanya. Katanya “Pasik. Bagi seorang laki-laki, keris atau curiga adalah lambang dari kelaki-lakiannya. Karena itu, betapa aku menilai kerisku ini seperti aku sendiri.”

Semua hati yang tersimpan di dalam dada setiap orang di halaman itu tergetar karenanya. Orang yang masih asing bagi mereka itu, agaknya benar-benar belum mengenal Waraha. Karena itu, mereka pun menjadi berdebar-debar. Apabila ada kesempatan bagi mereka, mereka pasti akan memperingatkannya. Tetapi kini hal itu telah terjadi. Dan wajah Waraha itu telah menjadi semerah darah.

“Hem,” Waraha menggeram. Tetapi tiba-tiba ia tertawa. Di antara suara tertawanya itu ia berkata “He, para tetangga yang baik. Sediakanlah sebuah lubang untuk mengubur orang gila ini. Aku ingin mematahkan tulang belakangnya. Kemudian sebelum ia mati, biarlah ia menikmati sejuknya tanah perkuburan.”

Mahisa Agni mendengar kata-kata itu dengan kerut-kerut di keningnya. Agaknya Pasik itu benar-benar dapat berbuat sebuas itu. Karena itu maka kemudian jawabnya “Jangan marah Pasik.”

Suara Mahisa Agni itu terputus karena Pasik berteriak, “Sebut namaku, orang gila!”

“Ya. Pasik. Pasik. Sebenarnyalah nama itu baik sekali. Tidak sebuas nama Waraha.”

Pasik itu kini benar-benar telah menjadi gemetar menahan kemarahannya. Matanya yang liar menjadi semakin liar. Dan tiba-tiba ia meloncat, melanggar satu dua orang sehingga jatuh berguling-guling, mendekati Mahisa Agni. Dengan gemetar pula ia menggeram, “Setan! Bersiaplah untuk mati!”

Mahisa Agni itu pun kemudian bergeser selangkah surut. Kerisnya itu pun kemudian disarungkannya. Dan dengan tenang ia berkata “Pasik. Aku tidak akan memberikan kerisku ini. Apakah kau akan memaksa?”

Pasik itu menggeram seperti seekor harimau. Orang-orang yang berada di halaman itu pun kemudian berloncatan menepi. Mereka kini melihat Pasik dan Mahisa Agni telah berdiri berhadap-hadapan.

Pasik memandang mata Mahisa Agni dengan buasnya. Kini Pasik itu dapat melihat, bahwa sikap Mahisa Agni bukanlah sikap dari seorang yang ingin membunuh diri. Namun sikap Mahisa Agni adalah sikap seekor banteng yang siap melawan seekor harimau yang betapa pun garangnya dengan tanduk-tanduknya yang runcing tajam.

Kini Pasik tidak mau berbicara lagi. Dengan garangnya ia meloncat maju menerkam wajah Mahisa Agni yang masih saja tetap tenang dan teguh.

Orang tua, tetua Padukuhan Kajar, ketika ia melihat Pasik meloncat menyerang Mahisa Agni, terdengar mengeluh pendek, sedang menantunya benar-benar telah menjadi seakan-akan membeku. Bukan saja mereka berdua, tetapi seluruh penduduk Kajar yang menyaksikan peristiwa itu menahan nafasnya.

Tetapi Mahisa Agni tidak membiarkan wajahnya disobek oleh Pasik. Selangkah ia mundur sambil berkata, “Pasik. Apakah kau benar-benar ingin memaksa aku untuk berkelahi?”

Gerak Pasik itu terhenti juga oleh kata-kata Mahisa Agni. Sekali lagi ia memandang wajah Mahisa Agni yang masih tetap tenang. Sehingga karena itu maka Pasik mulai menyadari, dengan siapa ia berhadapan. Maka katanya kemudian,”Sejak semula aku sudah menyangka, bahwa kau bukan sekedar seorang perantau dungu. Kerismu telah mengatakan kepadaku, bahwa kau sebenarnya seorang yang menyimpan ilmu di dalam dirimu. Tetapi meskipun demikian, kau sekarang berhadapan dengan Waraha, andel-andel Padukuhan Kajar. Karena itu jangan menyangka bahwa kau akan dapat meninggalkan padukuhan ini dengan selamat.”

Mahisa Agni seakan-akan tidak mendengar kata-kata Pasik itu. Bahkan ia berkata, “Pasik. Apakah kau tidak menyadari,bahwa perbuatanmu itu telah menimbulkan bencana, justru di tanah kelahiranmu sendiri?”

Pasik mengerutkan keningnya. Jawabnya, “Apa pedulimu?”

“Kalau kau seorang yang sakti, Pasik, maka sudah wajar bahwa kau akan menjadi andel-andel padukuhan tempat kelahiranmu. Tetapi apakah benar kau andel-andel Padukuhan Kajar?”

Tampak Pasik itu mengerutkan keningnya. Dan pertanyaan Agni itu sekali lagi terngiang di telinganya, “Apakah benar kau andel-andel Padukuhan Kajar?”

Pertanyaan itu benar-benar mengetuk hati Pasik. Namun tiba-tiba kembali nafsunya melonjak sampai ke ubun-ubunnya. Karena itu ia berteriak, “Tutup mulutmu perantau yang malang. Ternyata umurmu akan segera berakhir di padukuhan ini.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Desisnya, “Pasik, aku bukan seorang yang biasa mencari pertentangan. Tetapi kalau kau hendak memaksakan kehendakmu, maka aku terpaksa akan menghadapimu dengan berperisai dada.”

“Tataplah langit dan ciumlah bumi untuk kesempatan yang terakhir sebelum kau kehilangan setiap kesempatan untuk melakukannya.”

Mahisa Agni tidak mendapat kesempatan untuk menjawabnya. Sekali lagi Pasik meloncat dan menyerang segarang harimau lapar. Namun sekali lagi Mahisa Agni mundur selangkah untuk menghindarinya. Tetapi Pasik itu kini tidak membiarkan lawannya mempunyai kesempatan lebih banyak lagi. Dengan cepatnya ia meloncat maju untuk dengan berturut-turut melontarkan serangan berganda dengan kedua kakinya berganti-ganti. Tetapi Mahisa Agni pun telah bersiap sepenuhnya. Karena itu, serangan yang datang bertubi-tubi itu sama sekali tidak mengejutkan Mahisa Agni. Dengan tangkasnya pula ia menghindari setiap bahaya yang akan menyentuhnya.

Untuk beberapa saat sengaja Mahisa Agni tidak segera membalas setiap serangan dengan setangan. Ia ingin meyakinkan dirinya dalam penilaiannya terhadap lawannya itu.

Orang-orang Kajar menyaksikan perkelahian itu dengan tubuh gemetar. Mereka belum pernah melihat seseorang berani melawan kehendak Pasik, sejak Caruk terbunuh. Kini datang orang yang belum mereka kenal dan melakukan perlawanan terhadap Pasik. Dahulu Pasik berhasil dengan sekali pukul melumpuhkan anak muda yang bernama Caruk, yang mencoba melawan kehendaknya. Apalagi pada waktu itu dua saudara seperguruan Pasik ikut campur, sehingga Caruk itu terbunuh. Kini Pasik itu tidak datang bersama saudara-saudara seperguruannya. Tetapi ia dalang tersama gurunya. Karena itu, maka setiap dada orang-orang Kajar itu diliputi oleh kecemasan dan ketegangan. Mereka cemas akan nasib orang yang belum mereka kenal itu, dan mereka cemas juga akan nasib mereka sendiri. Kemarahan Pasik pasti akan menimpa mereka pula. Apalagi kemarahan gurunya.

Tetapi mereka tidak dapat terbuat apa pun juga. Perkelahian itu telah berlangsung. Kini mereka melihat Mahisa Agni itu beberapa kali melangkah mundur. Meskipun demikian, di sudut hati mereka sebenarnya tersiratlah keinginan mereka, bahwa sekali-sekali biarlah Pasik itu mendapat pelajaran tentang cara-cara yang baik bagi hidup berkeluarga dalam lingkungan yang kecil itu. Karena itu sebenarnya mereka pun berdoa, semoga orang yang belum mereka kenal itu dapat menolong mereka, membebaskan dari ketamakan Pasik. Tetapi yang mereka lihat sekarang, orang itu selalu terdesak surut.

Dalam pada itu, Mahisa Agni semakin lama semakin melihat nilai dari lawannya. Sebenarnya Pasik bukanlah seorang sakti yang perlu dicemaskan. Mahisa Agni meyakini dirinya, bahwa ia akan dapat melakukan pekerjaannya dengan baik. Namun, kalau Pasik telah mampu berbuat demikian,maka gurunyalah yang perlu mendapat perhatiannya. Tetapi sampai saat itu, ia belum melihat kehadiran guru Pasik. Karena itu, ia harus berhati-hati. Setiap tindakan perlu diperhatikannya dengan seksama.

Pasik itu masih menyerang terus-menerus dengan buasnya. Tangannya, kakinya dan bahkan seluruh tubuhnya bergerak-gerak dengan kasarnya, sehingga tampaklah betapa garangnya. Namun gerakan-gerakan itu adalah gerakan-gerakan yang masih mentah. gerakan-gerakan yang sebenarnya sangat sederhana.

Meskipun demikian, Mahisa Agni melihat, bahwa nilai-nilai dari inti gerak itu adalah sangat berbahaya. Apabila guru Pasik yang melakukannya dengan unsur-unsur yang sama, maka akibatnya pasti akan sangat berlainan. Dan sebenarnyalah dalam penilaian Mahisa Agni, bukanlah Pasik itu yang perlu diperhitungkan, tetapi gurunya.

Karena itu, setelah Mahisa Agni menemukan nilai-nilai yang diperlukan, serta kemungkinan-kemungkinan yang akan dihadapi atas guru Pasik itu, maka sampailah ia pada kesimpulan, bahwa ia harus menyelesaikan perkelahian yang pertama ini secepat-cepatnya. Apabila guru Pasik benar-benar belum ada di sekitar tempat itu, maka ia akan mempunyai waktu untuk mempersiapkan dirinya lebih dahulu.

Demikianlah maka Mahisa Agni kemudian tidak membiarkan Pasik itu menyerangnya terus menerus. Kini Mahisa Agni telah siap untuk segera menyelesaikan permainan Pasik yang kasar itu.

Namun Pasik yang kurang menyadari keadaan lawannya itu, menyerangnya dengan garangnya. Bertubi,” tubi, karena ia pun segera ingin menyelesaikan perkelahian itu secepatnya. Ia ingin segera mengambil barang-barang berharga dari orang-orang yang sudah berkumpul di halaman itu. Perlawanan seorang tolol ini akan dijadikannya contoh, bahwa tak seorang pun boleh melawan kehendaknya.

Tetapi Pasik itu menjadi semakin marah, ketika serangan-serangannya seolah-olah tak pernah menyentuh sasarannya. Meskipun lawannya itu selalu terdesak surut.

Namun tiba-tiba pertempuran itu pun segera berubah. Mahisa Agni tiba-tiba tidak menghindari lagi serangan Pasik. Dengan hati-hati Mahisa Agni mencoba untuk menangkis serangan lawannya, sehingga terjadilah suatu benturan di antara mereka. Namun, alangkah terkejutnya Pasik itu. Serangannya kali ini serasa menghantam batu karang. Dan bahkan batu karang itu telah mendorongnya dengan satu kekuatan raksasa .Pasik yang kurang dapat menilai diri dan lawannya itu terlempar beberapa langkah surut, kemudian jatuh terbanting di tanah.

Bukan saja Pasik, tetapi semua yang melihat peristiwa itu terkejut bukan buatan. Dan bahkan bukan saja mereka, tetapi Mahisa Agni itu pun terkejut sekali melihat akibat dari dorongan tenaganya. Sejak ia menekuni ilmunya di kaki Gunung Semeru, agaknya ia telah terlepas dari setiap kemungkinan yang tersimpan di dalam dirinya sendiri, sehingga karena itu,Mahisa Agni belum dapat mengukur kekuatan-kekuatan yang dilontarkannya dengan baik. Kali ini Mahisa Agni hanya ingin sekedar memunahkan serangan Pasik yang melanda dirinya, namun akibatnya betapa dahsyatnya. Pasik itu terlempar surut dan terguling di tanah. Apalagi ketika Mahisa Agni itu melihat akibatnya kemudian. Dengan tertatih-tatih Pasik itu mencoba berdiri, namun sekali lagi ia terjerembab jatuh dan sesaat kemudian ia tidak sadarkan dirinya.

Halaman rumah Pasik itu kemudian seakan-akan diterkam oleh kesenyapan yang tegang. Mahisa Agni masih berdiri tegak di tempatnya. Sedang orang-orang Kajar melihat peristiwa itu seperti melihat kisaran kejadian di dalam mimpi. Mereka tidak akan menyangka bahwa Waraha yang ganas itu dapat dengan mudahnya dilumpuhkan oleh seorang yang sama sekali belum mereka kenal.

Tetapi sesaat kemudian kesepian itu dipecahkan oleh jerit seorang perempuan. Dengan berlari-lari ia melintasi halaman untuk kemudian menjatuhkan dirinya memeluk tubuh Pasik yang masih terbaring diam di halaman itu.

“Pasik. Pasik,” panggil perempuan itu.

Sekali lagi semua orang di halaman itu terkejut. Juga Mahisa Agni terkejut. Perempuan itu adalah ibu Pasik. Seorang ibu yang menangis karena melihat anaknya cedera.

“Pasik. Pasik,” perempuan ini masih memanggil-manggil. Diguncang guncangnya tubuh anaknya yang masih pingsan itu dan disiram wajahnya dengan air mata. Namun Pasik itu masih berdiam diri. Seorang laki-laki, ayah Pasik itu pun kemudian berjalan mendekati istrinya dan berjongkok di sampingnya. Dengan wajah sedih ia memandangi wajah anaknya. Kemudian diangkatnya kepala anaknya itu sambil bergumam, “Pasik. Sadarlah Anakku.”

Orang-orang yang berada di halaman itu masih tetap tak beranjak dari tempat mereka. Hanya Mahisa Agnilah kemudian yang melangkah setapak maju. Betapa pun juga, ia terharu melihat seorang ibu yang sedang menangisi anaknya. Satu-satunya anaknya.

Sesaat kemudian, Pasik itu pun membuka matanya. Perlahan-lahan ia mulai bergerak-gerak dan mencoba menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia membuka matanya, yang pertama-tama dilihatnya adalah wajah ayah dan ibunya.

Pasik itu mengerutkan keningnya. Ia ingin melepaskan diri dari tangan ayahnya. Namun ketika ia mencoba bergerak,terdengar ia mengaduh perlahan.

“Jangan bergerak anakku,” desis ibunya.

Pasik mencoba mengangguk. Punggungnya, tangannya dan hampir segenap sendi-sendi tulangnya terasa sakit bukan buatan. Sehingga nafas Pasik itu pun menjadi terengah-engah.

“Sakit,” desisnya.

“Jangan bergerak dahulu Pasik,” gumam ayahnya.

Terdengar Pasik itu mengerang. Dan kemudian dengan susah payah Pasik itu berkata, “Air, Air, aku haus sekali.”

“Air,” ayahnya mengulangi sambil memandang ke sekeliling, seakan-akan ia minta kepada seseorang untuk mengambil air. Tetapi orang-orang yang sedang terpukau oleh peristiwa yang tak mereka duga-duga sebelumnya itu sama sekali tak ada yang beranjak dari tempatnya, sehingga ayah Patik itu terpaksa mengulangi, “Air.”

—–
Pasik yang kurang dapat menilai diri dan lawannya, Mahisa Agni. itu, terlempar beberapa langkah surut, kemudian jatuh terbanting di tanah.
—–

Sementara belum seorang pun yang menyadari keadaannya, maka yang mula-mula bergerak adalah Mahisa Agni. Dengan tergesa-gesa ia pergi ke belakang rumah Pasik, dan setelah ia berputar-putar beberapa saat, ditemukannya sebuah kendi di atas grobogan. Ketika ia menyerahkan kendi itu kepada ibu Pasik,dilihatnya setetes darah mengalir dari mulut Pasik.

Sekali lagi ibu Pasik itu menjerit. “Darah!” katanya.

Tetapi ayah Pasik ternyata lebih tenang dari istrinya. Diilingnya air dari dalam kendi itu setetes demi setetes. Dan karena itulah maka nampaknya nafas Pasik menjadi lebih teratur.

“Sakit,” terdengar sekali lagi Pasik itu mengeluh.

“Jangan bergerak-gerak dahulu, Pasik,” minta ayahnya.

Perlahan-lahan Pasik mengangguk. Namun darah dari mulutnya masih mengalir terus. Betapa ibunya menjadi bertambah cemas melibat keadaan anaknya. Dan bahkan kemudian dengan nanar ditatapnya wajah Mahisa Agni. tiba-tiba dengan serta-merta, tanpa diduga-duga ibu Pasik itu berdiri sambil menunjuk wajah Mahisa Agni dengan jarinya. Katanya dengan suara gemetar, “Kau, Kau yang telah membunuh Anakku. Lihat, betapa aku melahirkan dan memeliharanya sejak kecil. Melahirkan dengan menahan sakit dan menantang maut. Membesarkannya. Kini kau datang membunuhnya.”

Mahisa Agni berdiri tegak seperti patung. Ditatapnya wajah perempuan itu dan wajah Pasik berganti-ganti. Dalam pada itu tampaklah Pasik bergerak-gerak. Tetapi ia masih sedemikian lemahnya.

“Kalau kau mau membunuh,” berkata ibu Pasik itu, “bunuhlah aku!”

“Aku sama sekali tidak ingin membunuhnya, Bibi,” jawab Mahisa Agni.

“Bohong!” teriak perempuan itu, “Kau lihat, akibat dari kejahatanmu itu?”

“Aku tidak sengaja,” sahut Agni, “bukankah Bibi melihat apa yang telah terjadi?”

“Ya. Aku lihat. Kau mencoba menghinanya. Dan karena itu aku pun merasa terhina pula.”

Mahisa Agni kini tidak menjawab lagi. Seharusnya ia berdiam diri menghadapi perempuan yang sedang marah. Dalam keadaan demikian maka perempuan itu tidak akan dapat mempergunakan pikirannya, namun perasaannya sajalah yang berbicara.

Tetapi perempuan itu berhenti berbicara ketika ia mendengar Pasik bergumam. cepat-cepat ia berjongkok dan bertanya “Apa Pasik? Apakah yang kau minta?”

Pasik itu memandang wajah ayah dan ibunya dengan pandangan mata yang aneh. Tiba-tiba ia berdesah “Bukankah ayah akan menyembelih tiga ekor kambing kalau aku mati?”

“Tidak. Tidak Pasik,” sahut ayahnya cepat-cepat, “aku akan menyembelih tiga ekor kambing kalau kau sembuh.”

Pasik itu menarik nafas. Baru saja ia mendorong ibunya sampai terbanting di tanah. Beberapa saat yang lampau ayahnya itu hampir dibunuhnya dan ibunya itu telah dicekiknya pula. Tetapi kini, ketika seseorang melukainya, maka ia mendengar ibunya itu berkata, Betapa aku melahirkan dan memeliharanya sejak kecil. Melahirkan dengan menahan sakit menentang maut. Memeliharanya dan membesarkannya. Kini kau datang membunuhnya. Kemudian ibunya itu berkata pula, ‘Kalau kau mau membunuh, bunuhlah aku’.

Dalam penderitaan karena luka-luka di dalam dadanya, karena pantulan tenaganya sendiri serta dorongan tenaga Agni itu, Pasik sempat memperbandingkan kasih ibu serta ayahnya kepadanya dengan apa yang pernah dilakukannya. Alangkah jauh perbedaannya. Seandainya, ya seandainya ayah atau ibunya yang mengalami bencana itu, maka Pasik itu tak akan bersedih. Tetapi kini ayah serta ibunya itu meratap untuknya.

Tiba-tiba terasa sesuatu bergetar di dalam dadanya. Sesuatu yang tumbuh karena keadaan yang sedang dialaminya. Dan tiba-tiba terasa bahwa kasih sayang ibu serta ayahnya telah memberinya ketenteraman. Ketika Pasik itu menggeser kepalanya, dilihatnya Mahisa Agni tegak seperti batu karang. Tetapi orang itu tidak menyerangnya terus, dan benar-benar tidak berusaha membunuhnya. Dengan demikian, maka berbagai perasaan bergolak di dalam dadanya. Beberapa keanehan kini sedang bergolak di dalam dirinya. Ibunya, ayahnya yang telah pernah hampir dibunuhnya dan orang yang belum dikenalnya itu.

Beberapa orang yang menyaksikan peristiwa itu pun menjadi berdiam diri seperti patung. Mereka kini melihat orang yang mereka takuti terbaring dalam pelukan ayahnya. Betapa pun mereka membenci Pasik, namun Pasik adalah anak yang dilahirkan di padukuhan mereka, yang sejak kecilnya mereka lihat bermain-main di sepanjang jalan padukuhan, di sawah bersama anak-anak mereka.

“Mudah-mudahan anak itu menyadari keadaannya,” gumam tetua Padukuhan Kajar.

Namun tiba-tiba halaman itu dikejutkan oleh kehadiran seorang yang bertubuh pendek kekar dan hampir di seluruh kulit wajahnya dijalari oleh otot-ototnya yang kukuh kuat.

Orang itu terkejut ketika ia melihat Pasik terbaring diam di tangan ayahnya. Cepat-cepat ia meloncat seperti seekor kijang, dan dengan tangkasnya ia segera berjongkok di samping Pasik.

“Apa yang terjadi Waraha?” suaranya kecil melengking-lengking.

Halaman itu menjadi tegang. Tiba-tiba pula seluruhnya yang berada di halaman itu menjadi cemas. Orang ini adalah guru Pasik. Apakah ia akan berdiam diri melihat muridnya terlukai?

Mahisa Agni pun melihat orang itu pula. Segera ia mengetahuinya bahwa pasti orang ini guru Pasik. Namun ia pun menjadi heran, guru Pasik itu masih sangat muda. Kalau demikian, pasti orang ini bukan yang dikatakan oleh gurunya. Menurut gurunya orang itu sudah agak lanjut umurnya,meskipun lebih tua dari Agni, namun tidak terpaut banyak.

Ketika Pasik melihat gurunya datang, sesaat wajahnya menjadi cerah, namun sesaat kemudian wajah itu menjadi suram kembali. Yang terdengar kemudian adalah suara guru Pasik, “Waraha, apakah yang terjadi atas dirimu?”

Kembali halaman itu menjadi sunyi. Orang-orang yang ada di halaman itu seakan-akan tinggal menunggu nasib mereka. Kalau Pasik itu mengatakan sebab-sebabnya, maka gurunya itu pasti akan marah. Dan kemarahannya pasti akan menimpa mereka.

Pasik menarik nafas dalam-dalam. Dan tiba-tiba terdengarlah jawabnya yang sama sekali tak disangka-sangka, “Aku tidak apa-apa, Guru.”

Guru Pasik itu menjadi heran. Wajahnya yang keras itu terangkat. Kemudian diedarkannya pandangan matanya berkeliling. Ketika ia memandang Mahisa Agni yang masih berdiri tegak, maka tampaklah keningnya berkerut.

“Waraha,” katanya kemudian “katakan apa sebabnya kau terluka?”

Sekali lagi Waraha menggeleng. Kemudian katanya “Seseorang menyerangku guru. Tetapi itu bukan salahnya.”

“He?” guru Pasik itu terkejut, “kenapa bukan salahnya?”

“Aku menyerangnya lebih dahulu,” jawab Pasik.

Sekali lagi guru Pasik itu mengerutkan keningnya. Betapa anehnya kelakuan muridnya ini. Selama ini belum pernah terjadi, salah seorang muridnya merasa bersalah dalam suatu perkelahian. Di samping itu, timbul juga herannya, bahwa di padukuhan kecil itu ada juga orang yang dapat mengalahkan muridnya. Karena itu tiba-tiba sekali lagi ia memandang Mahisa Agni. Dan dengan serta-merta ia berkata, “Kau, kaukah itu?”

Mahisa Agni tidak menjawab pertanyaan Bahu Reksa Kali Elo itu. Ia sudah bersedia untuk menerima tuduhan itu. Sebab di antara sekian banyak orang-orang yang berada di halaman itu, maka sikap Mahisa Agni tampaknya agak berbeda dengan orang-orang yang lain.

Guru Pasik itu pun kemudian berdiri. Dengan wajah yang merah membara ia bertanya pula, “ He, anak muda. Apakah kau yang telah berani melukai muridku?”

Mahisa Agni masih belum menjawab. Namun terdengar Pasik itu berkata perlahan-lahan, “Biarkan anak itu, Guru.”

Tetapi guru Pasik itu sudah tidak mau mendengar kata-kata muridnya. Karena itu, tiba-tiba ia menyambar lengan salah seorang yang berjongkok paling dekat. Dengan satu tangannya orang itu ditariknya, sehingga kedua kakinya terangkat.

“Ampun,” teriak orang itu.

Guru Pasik itu memandangnya dengan bengis. Namun kemudian ia tertawa terbahak-bahak. Katanya, “Jangan takut tikus kecil. Aku hanya ingin bertanya kepadamu. Siapakah yang telah melukai Waraha?”

Orang itu menjadi ragu-ragu, sesaat ia memandang wajah Mahisa Agni, dan sesaat pula ia memandang wajah guru Pasik.

Tiba-tiba orang itu terkejut ketika guru Pasik itu membentak,” jawab!”

“Bukan aku. Bukan aku,” jawabnya tergagap,

Mata guru Pasik itu menjadi semakin menyala. Bentaknya, “Aku sudah tahu, pasti bukan kau tikus yang malang. Tetapi siapa? Kalau kau yang melakukan itu, maka aku akan menyembahmu sepuluh kali.”

Kembali orang itu terdiam. Tetapi kembali guru Pasik itu membentak-bentaknya. Bahkan kemudian dipegangnya leher orang itu sambil menggeram, “Katakan! Siapa yang melukai Waraha?”

Mahisa Agni akhirnya tidak sampai hati melihat orang itu hampir mati ketakutan. Karena itu, maka segera ia melangkah maju sambil berkata, “Lepaskan orang itu. Ia sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan luka Pasik.”

“Apa?” teriak guru Pasik, “Kau memerintah aku? Dan coba sekali lagi, sebutlah nama muridku itu!”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Agaknya ia benar-benar berhadapan dengan seorang yang keras kepala. Meskipun demikian Mahisa Agni menjawab, “Aku sama sekali tidak ingin memerintah seseorang. Tetapi aku ingin kau berlaku bijaksana. Orang itu sama sekali tidak tahu menahu tentang luka muridmu yang bernama Pasik itu.”

“Diam!” bentak Bahu Reksa Kali Elo.

“Kau bertanya, dan aku menjawab,” sahut Mahisa Agni.

Guru Pasik itu pun kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya. Terdengar ia tertawa parau. Katanya, “Hem, ternyata kau benar-benar menyadari apa yang kau lakukan. Agaknya kau menepuk dada setelah kau berhasil melukai muridku. Lihat, aku adalah gurunya. Aku tidak akan dapat membiarkan kau melukai muridku.”

Sebelum Mahisa Agni menjawab, terdengarlah lamat-lamat suara Pasik, “Guru, biarkan anak itu.”

“Hem,” guru Pasik itu menarik nafas, tetapi seakan-akan kata-kata itu tak didengarnya. Bahkan kini ia melangkah mendekati Mahisa Agni sambil menarik orang yang masih digenggam lengannya itu. Katanya, “He, anak muda. Siapa namamu?”

“Mahisa Agni,” jawab Mahisa Agni pendek.

Guru Pasik itu mengerutkan keningnya. Gumamnya, “Nama yang bagus. Tetapi kenapa kau berlaku kasar?”

“Bertanyalah kepada muridmu,” sahut Mahisa Agni.

Guru Pasik itu menggeram. Ditariknya orang yang masih dipegangnya itu dekat-dekat ke dadanya, “Ayo bilang. Siapa yang bersalah di antara mereka?”

Orang itu menjadi gemetar. Dengan tergagap ia menjawab, “Pasik. Pasik yang bersalah.”

“Apa? Apa?” guru Pasik itu membentak-bentak sambil mengguncang-guncang tubuh orang yang sama sekali tidak berdaya itu. Bahkan demikian takutnya, sehingga semua tulang-tulangnya seakan-akan telah terlepas dari segenap persendiannya. Apalagi ketika ia mendengar guru Pasik membentaknya kembali, “Ayo jawab, siapakah yang bersalah di antara mereka?”

Kembali orang itu tergagap. Dan seperti orang kehilangan akal ia menjawab, “Oh, anak itu. Anak itulah yang bersalah. Mahisa Agni.”

“Ha,” guru Pasik itu tiba-tiba tertawa. “Dengar,” katanya, “dengar. Kau dengar kesaksian orang ini. Orang-orang Kajar adalah orang yang jujur. Mereka tak pernah berbohong seperti kau. Bukankah kau bukan orang Kajar? Nah, apa katamu sekarang?”

Mahisa Agni menggeretakkan giginya. Ia melihat suatu permainan yang benar-benar memuakkan. Apalagi ketika guru Pasik itu berkata, “He, Mahisa Agni, Apakah kau perlu saksi yang lain?”

“Tidak!” jawab Mahisa Agni, “Apapun yang dikatakan tentang diriku, aku tidak peduli. Tetapi apakah maksudmu sebenarnya?”

Mata guru Pasik itu pun menjadi redup. Katanya, “Aku tidak biasa menghukum orang yang tak bersalah. Kini bukti-bukti akan mengatakan bahwa kau bersalah. Karena itu jangan menyangkal dan jangan mencoba membela diri. Setiap kesalahan harus mendapat hukuman tanpa kecuali. Meskipun kau tamu di padukuhan ini, namun kau telah melakukan kesalahan.”

“Cukup!” potong Mahisa Agni. Ia telah benar-benar menjadi muak mendengar kata orang yang menamakan dirinya Bahu Reksa Kali Elo itu.

Guru Pasik itu terkejut sehingga dengan demikian kata-katanya pun terhenti. Ditatapnya wajah Mahisa Agni dengan tajamnya, kemudian katanya, “Kau berani membentak aku, he?”

Mahisa Agni tidak menjawab pertanyaan itu, tetapi ia berkata, “He, Ki Sanak. Jangan berbuat aneh-aneh di padukuhan ini .Pergilah dan biarlah Pasik menerima ketenteraman hidup di antara keluarga dan sanak kadangnya. Jangan meracuni hidupnya dengan perbuatan-perbuatan aneh seperti perbuatan-perbuatan orang-orang yang kehilangan akal budi.”

Guru Pasik itu terkejut mendengar kata-kata Mahisa Agni sehingga matanya terbelalak karenanya. Kemudian dengan geramnya ia berkata, “Sekarang aku yakin bahwa ternyata kau benar-benar anak yang sombong anak yang tak tahu diri. Maka bagiku tak ada pilihan lain daripada mengajarimu sedikit sopan santun supaya kau dapat sedikit menghargai orang lain.”

“Aku pun sedang berpikir demikian juga atasmu,” sahut Mahisa Agni.

Guru Pasik itu menjadi semakin marah. Ia terasa terhina karenanya. Karena itu beberapa langkah ia maju. Diamatinya seluruh tubuh Mahisa Agni. Kemudian katanya

“Hem, muridku telah berkata kepadaku semalam, bahwa seorang perantau telah membawa sebilah keris yang sangat bagus.”

Mahisa Agni tidak menjawab. Ia melihat guru Pasik itu berkisar pada jari-jari kakinya. Karena itu cepat Mahisa Agni bersiaga.

“He, Agni,” berkata orang itu pula, “Kini kakinya yang sebelah telah beringsut ke belakang, manakah kerismu itu?”

Mahisa Agni masih tetap berdiam diri, tetapi ia melihat kaki itu bergerak Dan apa yang disangkanya benar-benar terjadi. Guru Pasik itu tiba-tiba saja meloncat dengan garangnya menyerang Mahisa Agni. Tetapi Mahisa Agni telah bersiaga sepenuhnya, sehingga dengan tangkasnya ia meloncat menghindari.

“Setan!” guru Pasik itu mengumpat ketika ia melihat bahwa korbannya berhasil menghindar diri. Dan wajahnya pun menjadi seakan-akan menyala ketika Mahisa Agni berkata, “Apakah kau ingin aku menjawab pertanyaanmu yang kauajukan tetap pada saat kau bersiap untuk menyerang.”

Orang yang menamakan diri Bahu Reksa Kali Elo itu menggeram. Cepat ia memutar tubuhnya. Ia ingin menebus kegagalannya. Karena itu sekali lagi ia menyerangnya dengan kecepatan yang luar biasa.

Orang-orang yang berada di halaman itu pun menjadi cemas hati. Mereka menyadari bahwa perkelahian itu tak akan dapat dihindarkan. Namun, apakah yang dapat dilakukan oleh perantau itu melawan guru Waraha? Mungkin ia masih dapat mengalahkan Pasik. Tetapi melawan gurunya?”

Dan ternyata serangan guru Pasik itu pun datang seperti badai. Dengan penuh kemarahan yang meluap-luap ia ingin segera membinasakan perantau yang bodoh dan sombong itu. Ia ingin menebus kekalahan muridnya dengan satu pertunjukkan yang pasti akan menyenangkan dirinya. Ia ingin berkata kepada muridnya, bahwa ia harus tetap di tempatnya, dalam barisan yang berderap di jalan-jalan yang telah dipilihnya selama ini. Kalau tiba-tiba muridnya bersikap aneh, itu karena kekecewaan yang dialaminya. Kekalahan yang tak disangka-sangka itu pasti telah melemahkan keteguhan hatinya. Dan kini kekalahan itu harus ditebusnya. Hati muridnya itu harus dibesarkannya dengan melumpuhkan Mahisa Agni secepat-cepatnya, mematahkan tangannya dan membiarkan Pasik untuk menyelesaikannya. Dengan demikian, maka keteguhan hatinya akan dapat dipulihkan kembali.

Tetapi guru Pasik itu benar-benar menjadi seolah-olah menyala karena panas hatinya. Serangannya yang kemudian itu pun ternyata tak dapat menyentuh lawannya.

Tetapi meskipun demikian, serangannya itu benar-benar telah mengejutkan Mahisa Agni. Serangan guru Pasik itu datang seperti tatit. Untunglah bahwa ia masih mempunyai kesempatan untuk menghindar. Kalau tidak, maka dadanya pasti sudah akan pecah.

Dengan demikian, maka dugaannya atas guru Pasik itu ternyata benar. Dengan unsur-unsur gerak yang sama, guru Pasik itu melibat Mahisa Agni dalam perkelahian yang ribut. Namun unsur-unsur gerak itu kini dilepaskan oleh guru Pasik, bukan oleh Pasik yang mentah itu. Karena itu, terasa oleh Mahisa Agni, betapa berbahayanya.

Dan karena itu pula, Mahisa Agni segera memusatkan,segenap perhatiannya pada perkelahian itu. Dicobanya untuk melihat setiap gerak lawannya. setiap kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi dengan gerak-gerak itu.

Namun guru Pasik itu pun segera menyadarinya pula, dengan siapa ia berhadapan.

“Pantaslah Waraha dijatuhnya dengan mudah,” katanya di dalam hati. Dan sejalan dengan itu,maka serangan-serangannya pun semakin membadai. Geraknya semakin lama menjadi semakin cepat dan keras. Tubuhnya yang kokoh kuat itu melontar-lontar dengan kecepatan yang mengagumkan, dan bahkan kadang-kadang orang itu berhasil membingungkan Mahisa Agni.

Tetapi Mahisa Agni yang baru saja menekuni inti dari ilmunya itu, segera dapat menyesuaikan diri. Bahkan kadang-kadang ia pun menjadi heran sendiri. Tidak saja kekuatannya yang bertambah, namun kecepatannya bergerak pun terasa men-jadi bertambah pula. Bahkan kadang-kadang geraknya melampaui kecepatan perasaannya dalam suatu tujuan tertentu.

“Ah,” katanya di dalam hati, “kalau aku tidak segera menguasai diri,maka akan berbahaya bagiku sendiri.”

Dengan demikian maka Mahisa Agni itu pun kemudian mencoba melakukan pengamatan atas dirinya lebih saksama. Perkelahiannya kali ini adalah penggunaan yang pertama segala macam kekuatan dan ilmu yang tersimpan di dalam dirinya setelah ia menempa diri.Karena itu, maka sekaligus Mahisa Agni dapat menilai apa pun yang pernah dicapainya selama ini.

Dengan demikian, maka pertempuran itu semakin lama menjadi semakin seru. Serang menyerang dan desak mendesak. Keduanya memiliki bekal yang cukup, serta keduanya berusaha untuk segera mengalahkan lawannya.

Orang-orang yang menyaksikan perkelahian itu, kemudian berlari berpencaran. Mahisa Agni dan guru Pasik itu kadang-kadang melontar jauh ke samping, kemudian melontar kembali dalam serangan-serangan yang berbahaya. Karena itu, maka mereka yang menyaksikannya menjadi gemetar dan ketakutan

Waraha yang masih dalam kesakitan itu, menyaksikan perkelahian antara gurunya dan perantau yang bernama Mahisa Agni itu dengan seksama. Ia mencoba menilai apa saja yang sudah terjadi. Namun kemudian kembali ia merasakan sesuatu yang aneh di dalam dirinya. Seakan-akan terasa sesuatu yang selama ini tak pernah dirasakannya. Namun tiba-tiba dikenangnya, bapak ibunya yang mengasihinya, kampung halaman yang memberinya kenangan yang menyenangkan.

Mata Pasik itu melihat perkelahian yang terjadi antara gurunya dan Mahisa Agni, namun hatinya tiba-tiba saja terbang ke masa-masa lampaunya. Seakan-akan ia menatap wajah gurunya yang kasar bengis, dan kemudian ditatapnya wajah ibunya yang lembut, dan wajah bapanya yang sedang berduka.

Sehingga tiba-tiba pula melontarlah suatu pertanyaan di dalam hatinya, “Apakah yang telah terjadi dengan dirinya selama ini?” Kata-kata Mahisa Agni berkali-kali berputar di dalam dadanya. Kata-kata yang selalu terngiang di telinganya, Pergilah, dan biarlah Pasik menikmati ketenteraman hidup di antara keluarganya dan sanak kadangnya. Jangan ganggu dia lagi, dan jangan meracuni hidupnya dengan perbuatan-perbuatan aneh seperti perbuatan-perbuatan orang yang kehilangan akal budi.

Pasik itu kemudian memejamkan matanya. Seolah-olah telah ditemukannya apa yang hilang selama ini. Ketenteraman hidup di antara keluarga dan anak kadang.

Ketika sekali lagi ia membuka matanya, dan ditatapnya wajah ibunya yang lembut, hatinya menjadi meronta-ronta. Disadarinya kini apa yang telah dilakukannya selama ini. Bahkan hampir saja ia membunuh ayah dan ibunya, namun ayah dan ibunya itu sama sekali tak mendendamnya. Cinta kasihnya tak runtuh seujung rambut pun.

Dalam pada itu, di halaman rumah Pasik itu masih berlangsung pertempuran yang semakin lama semakin dahsyat. Mereka masing-masing benar-benar telah berjuang mati-matian. Guru Pasik sekali-kali terdengar berteriak mengerikan sejalan dengan serangan-serangannya yang keras dan cepat. Seperti seekor serigala kelaparan, orang yang bertubuh kokoh kuat itu melonjak-lonjak menyergap dari segenap arah. Namun Mahisa Agni benar-benar dapat menguasai dirinya dengan sebaik-baiknya. Betapa pun lawannya menjadi bertambah ganas, tetapi Mahisa Agni itu pun menjadi bertambah mapan juga. Setelah dikenalnya dengan baik setiap unsur gerak lawannya, serta setelah dikenalnya pula dengan baik segenap kemampuan yang dapat dipergunakannya yang tersimpan di dalam tubuhnya, maka perlawanannya pun menjadi semakin kuat dan tangguh.

Karena itu maka guru Pasik itu pun menjadi semakin heran. Ternyata ia berhadapan dengan seorang anak muda yang luar biasa. Bahkan kemudian ternyata bahwa Mahisa Agni itu akan benar-benar dapat menguasai keadaan.

Orang yang menamakan Bahu Reksa Kali Elo itu pun kemudian menyadari sepenuhnya, siapakah yang sedang dihadapinya kini. Karena itu, maka sampailah ia kemudian pada tetapan hatinya, untuk membinasakan Mahisa Agni dalam puncak ilmunya.

Demikianlah maka guru Pasik itu pun kemudian meloncat beberapa langkah surut menjauhi Mahisa Agni. Dengan berteriak nyaring ia merentangkan kedua tangannya, kemudian dengan ganasnya sekali ia meloncat ke udara, dan dengan kedua kakinya yang kokoh itu ia tegak kembali di atas tanah dalam kesiagaan penuh untuk melontarkan ilmu tertinggi yang dimilikinya.

Pasik yang melihat perkelahian itu tiba-tiba saja menjadi sangat terkejut. Ia melihat betapa gurunya merentangkan tangannya, kemudian seperti seekor singgat melenting ke udara untuk kemudian bersiap dalam sikap yang teguh kuat seperti gunung yang siap untuk meledak.

Dan tiba-tiba pula, tanpa sesadarnya Pasik itu merasa, bahwa Mahisa Agni berada dalam bahaya. Ia tidak tahu, kenapa ia merasa wajib untuk menyelamatkannya. Karena itu tiba-tiba ia berteriak “Guru, jangan dengan ilmu itu!”

Tetapi gurunya sama sekali tidak mendengar. Bahkan terdengar ia tertawa nyaring. Kini ia sama sekali tidak bergerak, seolah-olah ia menunggu Mahisa Agni menyerangnya, untuk kemudian dengan satu pukulan, anak itu akan dibinasakannya.

Mahisa Agni melihat sikap itu. Ia melihat tubuh orang yang menamakan diri Bahu Reksa Kali Elo itu bergetar. Sebagai seorang yang telah menekuni olah kanuragan, maka segera Mahisa Agni pun mengetahuinya, bahwa lawannya sedang mengerahkan setiap kekuatan lahir dan batinnya dalam puncak ilmu yang dimilikinya.

Karena itu, maka Mahisa Agni pun tidak mau dirinya dibinasakan oleh Orang yang bengis itu. Ia menjadi heran ketika lamat-lamat ia mendengar Pasik itu mencoba mencegah gurunya dan bahkan kemudian Pasik itu berkata, “Mahisa Agni, jangan mendekat!”

Terasa sesuatu berdesir di dalam dada Mahisa Agni. Dalam kesibukannya menghadapi lawannya, maka perasaannya dapat menangkap suatu ungkapan yang jujur yang dilontarkan oleh Pasik yang sedang terluka itu, tetapi ia tidak mempunyai waktu terlalu lama memperhatikan anak muda yang agaknya dalam perkembangan keadaan yang dialaminya di dalam jiwanya. Yang segera harus dilakukan adalah menyelamatkan diri dari kemungkinan yang sangat mengerikan. Karena itu, maka dengan rasa syukur yang sedalam-dalamnya, maka Mahisa Agni kini sama sekali tidak menyerang lawannya. Bahwa ia pun meloncat atau langkah surat. Disilangkannya kedua tangannya di dadanya, dan dipanjatkannya hasrat di dalam hatinya, pemusatan kekuatan lahir dan batin.

Ketika Mahisa Agni melihat kaki lawannya bergeser, maka segera Mahisa Agni pun menarik kakinya kanannya setengah langkah ke belakang, sedang pada kedua lututnya kemudian Mahisa Agni merendahkan dirinya, siap dalam kekuatan aji yang baru saja ditekuninya, Gundala Sasra.

Dalam waktu sekejap, Mahisa Agni sudah merasakan,seolah-olah ada getaran-getaran yang mengalir di dalam dirinya. Getaran-getaran kekuatan yang tersimpan di dalam tubuhnya. Yang karena ketekunannya, maka ia telah berhasil mengungkap segenap kekuatan-kekuatan yang tersimpan itu. Meskipun ilmu yang dimilikinya itu belum sempurna benar, namun aji Gundala Sasra adalah aji yang nggerisi.

Kini Mahisa Agni masih berdiri pada sikapnya. Meskipun sikap itu bukanlah sikap yang mutlak harus dilakukan, sebagaimana gurunya berkata, bahwa sikap itu adalah suatu cara untuk mengungkapkan ilmu itu, tetapi pengungkapan itu dapat dilakukannya dalam sikap yang paling tepat pada saat-saat tertentu dalam unsur-unsur gerak pokok yang tak dapat disingkirkan.

Orang yang menamakan diri Bahu Reksa Kali Elo itu pun ternyata seorang yang telah banyak berpengalaman. Itulah sebabnya, ketika ia melihat Mahisa Agni tidak menyerangnya, justru meloncat mundur sambil menyilangkan tangannya, serta ketegangan di wajah anak muda itu, maka guru Pasik itu pun segera menyadari, bahwa lawannya telah pula bersiap dalam puncak ilmunya.

Karena itu, maka terdengar orang itu menggeram, “Apa yang sedang kau lakukan itu?”

Mahisa Agni masih belum bergerak dari tempatnya. Ia pun menunggu sampai lawannya datang menyerangnya. Maka jawabnya, “Aku sedang berpikir, apakah kau sedang mengungkapkan kesaktianmu yang tertinggi?”

Guru Pasik itu mengerutkan keningnya. Ternyata Mahisa Agni menyadari keadaannya. Katanya, “Kita telah sampai pada saat penentuan. Aku masih ingin mencoba memperingatkan kau sekali lagi anak yang malang. Berikan kerismu dan jangan melawan. Mungkin aku akan membunuhmu dengan keris itu, tidak dengan cara-cara yang lain yang akan dapat menyiksamu pada saat-saat terakhir.”

“Ki Sanak,” jawab Mahisa Agni, “kau masih saja hidup di dunia yang gelap ini. Sebaiknya kau bangun dan sadari keadaanmu kini. Kau berada di antara manusia dan hidup bersama-sama dengan mereka. Kenapa berlaku demikian? Seolah-olah kau hidup di tengah-tengah rimba dan memaksakan segala kehendakmu kepada pihak-pihak yang kau anggap lebih lemah.”

“Tutup mulutmu!” bentak Guru Pasik itu. Matanya yang merah menjadi semakin merah, “Jangan ribut. Berikan keris itu, dan tundukkan kepalamu. Aku ingin melibat darah memancar dari lehermu.”

“Ki Sanak ,” jawab Mahisa Agni, “kalau aku harus mati, maka akan mati dengan wajah menengadah.”

Guru Pasik itu menggeram. Terdengar giginya gemeretak,dan tiba-tiba ia berteriak nyaring. Dengan dahsyatnya ia menerkam Mahisa Agni tepat seperti serigala yang buas menerkam mangsanya. Tetapi Mahisa Agni telah sampai di puncak ilmunya. Karena itu betapa cepatnya ia menghindarkan diri dari terkaman itu, sehingga orang yang menamakan dirinya Bahu Reksa Kali Elo itu terdorong oleh kekuatannya sendiri meluncur beberapa langkah. Namun orang itu agaknya telah benar-benar menguasai segenap gerak dan tubuhnya. Demikian ia menginjak tanah, demikian ia melenting dan memutar tubuhnya siap untuk melontarkan serangan kembali. Mahisa Agni pun segera mempersiapkan dirinya pula kembali, dan bahkan kini ia tidak ingin perkelahian itu berlangsung berlarut-larut. Demikian ia melihat guru Pasik itu menyerangnya kembali dengan dahsyatnya, maka segera ia bergeser ke samping dan merendahkan dirinya. Kali ini Mahisa Agni tidak melepaskan kesempatan itu, dengan cepatnya ia meloncat menyerang lambung lawannya. Namun lawannya itu pun dengan sigapnya memperbaiki keadaannya, sehingga tepat pada saat serangan Mahisa Agni datang, Guru Pasik itu pun telah siap pula melawannya dengan garangnya.

Demikianlah maka terjadilah benturan yang dahsyat dari dua macam ilmu yang berlawanan. Benturan itu seakan-akan meledaknya petir yang sedang bersabung.

Pasik yang melihat benturan itu, tiba-tiba memejamkan matanya. Terdengar ia berdesah. Ia tidak mau melihat peristiwa yang mengerikan itu berulang. Beberapa, saat yang lampau, ia pernah melihat gurunya mempergunakan ilmu itu pula, ketika mereka gagal memaksa seseorang untuk menyerahkan barang-barangnya di perjalanan. Ternyata orang itu pun mampu melawan gurunya dalam pertarungan jasmaniah. Namun kemudian gurunya itu mempergunakan ilmunya yang dahsyat itu.

—–
Benturan antara Bahu Reksa Kali Elo dengan Mahisa Agni itu seakan-akan meledaknya petir yang sedang bersabung.
—–
Ilmu yang dinamai Kala Bama. Akibatnya sangat mengerikan. Dada itu pecah berserakan. Tulang-tulangnya patah dan isi adanya pecah berhamburan bercampur warna darah. Pada saat itu ia gembira menyaksikan pembunuhan yang dahsyat. Tetapi kini tiba-tiba ia merasa muak. Bukan seharusnya Mahisa Agni mendapat perlakuan yang demikian.

Tetapi sesaat kemudian Pasik itu menjadi heran. Ia mendengar tubuh-tubuh yang berjatuhan, namun ia tidak mendengar gurunya itu tertawa nyaring seperti pada saat ia membunuh orang di jalan itu. Tiba-tiba timbullah keinginannya untuk melihat apa yang terjadi. Perlahan-lahan ia membuka matanya. Dan pertama-tama dilihatnya adalah Mahisa Agni yang sedang berusaha untuk berdiri di halaman itu. Namun tampak betapa ia menjadi sangat letih. Sekali-sekali ia masih terhuyung-huyung hampir jatuh. Namun kemudian ia menemukan keseimbangannya kembali.

Sebenarnyalah pada saat benturan itu terjadi, Mahisa Agni terdorong beberapa langkah surut, kemudian betapa dahsyatnya tenaga lawannya sehingga ia terguling beberapa kali. Baru kemudian dengan susah payah, ia berusaha berdiri.

Tetapi lawannya pun tidak kurang pula parahnya. Seperti seonggok kayu ia terlempar, kemudian terbanting di tanah. Sesaat orang yang menamakan diri Bahu Reksa Kali Elo itu seakan-akan tak dapat lagi bernafas. Dadanya serasa pecah dan matanya berkunang-kunang. Karena itu maka segera dipusatkannya segenap kekuatan lahir dan batinnya untuk segera menemukan kesadarannya kembali. Dan akhirnya guru Pasik itu pun mampu pula mengangkat kepalanya. Perlahan-lahan ia bangkit betapapunggungnya terasa sakit. Ketika ia telah berhasil duduk dan bertelekan di atas kedua tangannya, dilihatnya Mahisa Agni telah berdiri di hadapannya.

“Setan!” desisnya, “hantu mana yang telah menyelamatkanmu dari aji Kala Bama?”

Mahisa Agni menarik nafas. Kala Bama. Aji itu pun betapa dahsyatnya sehingga hampir saja dadanya dipecahkannya. Namun Mahisa Agni tidak menjawab pertanyaan itu.

Ditatapnya wajah orang itu dengan tajamnya. Dan dibiarkannya ia berusaha untuk berdiri pula.

Dengan tertatih-tatih akhirnya orang itu pun tegak pula. Namun sesaat kemudian ia berdiam diri seperti sedang merenung. Dan tiba-tiba pula tanpa disangka-sangka orang itu memutar tubuhnya dan terhuyung-huyung meloncat berlari meninggalkan halaman yang celaka itu.

Sesaat Mahisa Agni terpaku di tempatnya, namun kemudian disadarinya bahwa orang itu akan tetap berbahaya baginya. Karena itu maka segera ia pun berusaha untuk mengejarnya. Tetapi keadaan tubuhnya sendiri betapa letihnya, sehingga tenaganya pun telah menjadi sangat jauh berkurang. Meskipun demikian, orang yang dikejarnya itu pun tidak dapat berlari terlalu cepat.

Mahisa Agni dan guru Pasik itu pun kemudian dengan terhuyung-huyung berlari berkejaran. Tetapi tiba-tiba ketika Mahisa Agni hampir meloncati dinding halaman yang rendah, guru Pasik itu pun berhenti. Secepat kilat ia memutar tubuhnya dengan sisa-sisa ketangkasannya yang terakhir, kemudian dengan tiba-tiba pula, Mahisa Agni melihat sebilah pisau yang meluncur terbang ke arahnya.

Mahisa Agni terkejut melihat pisau itu. Cepat ia mengendapkan diri dan pisau itu terbang beberapa jengkal di atasnya. Namun karena ia tergesa-gesa dan kekuatannya pun telah hampir habis, maka dengan tak disangka-sangka Mahisa Agni itu pun tergelincir jatuh di tanah.

Mahisa Agni mengumpat di dalam hatinya. Pada saat ia bangun ia mendengar orang itu tertawa tinggi sambil berkata hampir berteriak, “Mahisa Agni. Kau menang kali ini. Tunggulah beberapa lama, apabila guruku telah selesai dengan pekerjaannya menempa Kuda Sempana, maka akan datang giliranmu untuk aku penggal lehermu.

Mahisa Agni itu pun berusaha bangun secepat-cepatnya. Namun karena tenaganya yang lemah itu, maka ketika ia berhasil berdiri masih di dalam pagar, maka guru Pasik itu telah tidak dilihatnya lagi.

“Alangkah liat kulitnya,” gumam Mahisa Agni. Bagaimanapun juga ia terpaksa mengagumi orang yang menamakan diri Bahu Reksa Kali Elo itu, sebagaimana orang itu mengaguminya. Mereka masing-masing telah mempergunakan ilmu tertinggi yang mereka miliki. Namun mereka mampu untuk bertahan, meskipun dada mereka seakan-akan menjadi rontok karenanya.

Tetapi yang mengejutkan Mahisa Agni, orang itu telah menyebut nama Kuda Sempana. Karena itu maka ia menjadi gelisah. Apakah hubungannya dengan Kuda Sempana

Tiba-tiba Mahisa Agni itu ingat kepada Pasik. Anak itu masih berbaring di tangan ayahnya. Mungkin ia bisa bertanya kepadanya apakah hubungan antara orang ini dan Kuda Sempana.

Karena itu, maka kemudian dilepaskannya maksudnya untuk mencari guru Pasik itu sebelum keadaan tubuhnya memungkinkan. Bahkan segera ia berjalan kembali ke halaman untuk menemui Pasik yang masih dengan lemahnya berbaring. Tetapi ketika ia melihat Mahisa Agni datang kepadanya tiba-tiba ia tersenyum. Kemudian dengan lemahnya ia berusaha untuk duduk.

“Tuan ternyata luar biasa,” desisnya.

Mahisa Agni tidak menjawab. Ditatapnya wajah ibu Pasik yang agaknya masih marah kepadanya. Tetapi ketika perempuan itu mendengar kata-kata Pasik itu, dan dilihatnya anaknya tersenyum, ia menjadi heran.

Dan tiba-tiba perempuan itu bertanya kepada anaknya, “Apakah kau sudah berangsur baik?”

Pasik berpaling. Dipandangnya wajah ibunya yang penuh kecemasan. Kemudian ditatapnya pula wajah ayahnya yang sayu. Tiba-tiba terasa sesuatu berdesir di dadanya. Dan tanpa sesadarnya ia berkata, “Maafkan aku Ibu, maafkan aku Ayah.”

Ibunya terkejut ketika dengan tiba-tiba ia mendengar kata-kata anaknya itu. Beberapa saat ia terdiam seperti patung. Namun tiba-tiba pula diraihnya kepala anaknya, dan dipeluknya anaknya itu seperti ketika masih kanak-kanak. Ibu Pasik itu pun menangis sejadi-jadinya.

Beberapa orang masih tampak di halaman itu. Selangkah demi selangkah mendekat. Mereka merasakan sesuatu yang berbeda dengan saat-saat sebelumnya. Dan mereka melibat Mahisa Agni masih di halaman itu. Dengan demikian maka mereka menjadi tenang.

Ayah Pasik itu pun menggosok-gosok matanya yang menjadi nyeri. Satu-satunya anaknya kini telah kembali kepadanya, kepada ayah dan ibunya. seakan-akan anak yang telah hilang itu datang kembali pulang.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Betapa ia ikut serta mengalami keharuan melihat peristiwa itu. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia mengucap syukur di dalam hatinya. Mudah-mudahan untuk seterusnya Pasik menyadari keadaannya. Ia adalah anak Kajar, dilahirkan di Kajar dan dibesarkan di Kajar pula.

Baru sesaat kemudian, kepala Pasik itu pun dilepaskan. Namun air mata masih saja mengalir meleleh di pipi perempuan yang telah dipenuhi oleh garis-garis umur dan duka.

Patik itu kemudian menatap Mahisa Agni dengan mata yang buram. Katanya, “Tuan telah membuka hatiku. Dan tuan telah mengampuni aku. Sebab kalau tuan mau membunuh aku, maka aku pun pasti sudah mati. Ternyata tuan benar-benar menyelamatkan diri dari aji Kala Bama, dan bahkan tuan berhasil mengusir Bahu Reksa Kali Elo dari halaman ini.”

Mahisa Agni menganggukkan kepalanya. Katanya, “Jangan pikirkan itu. Sekarang sembuhkan luka-lukamu. Luka badan dan luka jiwamu. Mudah-mudahan kedua-duanya akan lekas menjadi sembuh.”

Pasik menganggukkan kepalanya. Katanya lirih kepada ayahnya, “Ayah. Mintakan aku maaf kepada penduduk Kajar. Kepada tetua padukuhan ini, dan kepada siapa saja.”

“Mereka akan memaafkan kau, Pasik,” terdengar suara di belakang mereka. Suara tetua padukuhan itu.

“Terima kasih Kiai,” sahut Pasik.

Halaman itu kemudian hening untuk sesaat. Masing-masing sedang tenggelam dalam angan-angannya. Mereka sedang menilai peristiwa yang haru saja mereka saksikan. Peristiwa yang telah menolong seorang anak padukuhan mereka yang selama ini tenggelam dalam arus yang hitam.

Tetapi kegelisahan di dada Mahisa Agni masih saja mengguncangnya. Ia ingin segera tahu hubungan guru Pasik itu dengan Kuda Sempana. Dalam tangkapannya, maka Kuda Sempana yang digarap pula oleh guru Pasik itu, adalah saudara seperguruan dengan orang yang menamakan diri Bahu Reksa Kali Elo.

Karena itu, ketika halaman itu telah menjadi tenang, maka Mahisa Agni itu pun segera melangkah mendekati Pasik yang sudah dapat duduk bersandar kedua tangannya.

Dengan ragu-ragu Mahisa Agni itu pun berkata kepada ayah Pasik. Katanya, “Paman, apakah tidak sebaiknya Pasik dibawa masuk untuk mendapatkan perawatan yang baik?”

“Ya, ya,” jawab ayah Pasik itu tergagap. Dan kemudian dibantu oleh Mahisa Agni, maka Pasik itu pun dipapah masuk ke rumahnya. Dengan perlahan-lahan anak muda itu dibaringkannya di atas pembaringan.

“Terima kasih,” desis Pasik, “aku sudah mendingan.”

“Jangan banyak bergerak, Pasik,” Mahisa Agni berpesan. Dan Pasik itu pun mengangguk.

Setelah Pasik itu minum kembali beberapa teguk, maka keadaannya menjadi semakin baik. Dan kata-katanya yang ke luar dari mulutnya pun menjadi semakin lancar.

Beberapa orang yang berdiri di halaman satu-satu menengok juga dari lubang ke dalam rumah, namun mereka tidak berkehendak masuk. Bahkan kemudian satu-satu mereka meninggalkan halaman itu pulang ke rumah masing-masing. Namun di dalam dada mereka tersimpan suatu perasaan yang lain daripada saat mereka datang dengan tergesa-gesa ke halaman itu.

Rumah Pasik itu pun kemudian menjadi sepi yang berdiri di pintu adalah tertua padukuhan Kajar, dan menantunya berdiri di belakangnya. Walaupun ia melihat bahwa Pasik itu terluka, namun ketakutannya masih juga belum mereda.

“Angger Mahisa Agni,” berkata orang tua itu, “aku akan pulang dahulu. Apakah Angger pergi bersama-sama aku ke rumahku?”

Mahisa Agni menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Aku akan menyusul, Bapa.”

Orang itu pun kemudian minta diri pulang bersama menantunya yang masih berdebar-debar

Ketika halaman itu telah benar-benar sepi, maka barulah Mahisa Agni bertanya kepada Pasik. Katanya, “Pasik, apakah kau pernah mendengar nama Kuda Sempana?”

Pasik itu mengerutkan keningnya. Sesaat ia ragu-ragu, namun kemudian jawabnya, “Ya, Tuan. Aku pernah mendengar.”

“Panggillah aku dengan namaku,” sahut Mahisa Agni.

“Ya, ya Mahisa Agni,” berkata Pasik dengan kaku.

“Nah. Demikianlah,” sambut Mahisa Agni, kemudian katanya melanjutkan pertanyaannya, “siapakah Kuda Sempana itu?”

“Dari mana tuan, eh, kau tahu nama itu?´ bertanya Pasik.

“Aku mendengar dari gurumu. Ia akan datang mencari aku setelah gurunya selesai dengan pekerjaannya, menempa orang yang bernama Kuda Sempana.”

Pasik menganggukkan kepalanya. Kembali ia beragu. Tetapi ketika ditatapnya wajah Mahisa Agni yang bening ia berkata, “Kuda Sempana adalah adik seperguruan guruku.”

“Hem,” Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Siapakah dia?”

“Kuda Sempana adalah seorang prajurit pelayan dalam Akuwu Tunggul Ametung di Tumapel.”

“Hem,” kembali Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Jadi Kuda Sempana itu benar-benar Kuda Sempana yang pernah dikenalnya. Bukan orang lain yang hanya kebetulan bernama sama.

“Siapakah guru dari gurumu itu?” bertanya Mahisa Agni.

Pasik menggeleng. “Aku tak tahu. Guruku mempunyai saudara seperguruan yang cukup banyak. Ada di antaranya prajurit, ada pula pejabat, namun ada pula penjudi dan penjahat. Mereka akan diterima menjadi murid asal mereka dapat menyerahkan berbagai macam imbalan. Namun jumlah murid itu tidak lebih dari sepuluh orang. Di antaranya adalah guruku. Karena itulah maka guruku harus memeras orang-orang di sekitarnya untuk dapat memberikan imbalan kepada gurunya.”

“Dan agaknya gurumu berbuat serupa.”

“Ya. Ia pun menerima beberapa orang murid dengan cara yang sama untuk menutup kebutuhannya.”

“Hem,” kembali Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Guru orang yang menamakan diri Bahu Reksa Kali Elo itu pasti seorang yang sakti pula. Ternyata bahwa muridnya memiliki kesaktian yang mengagumkan. Namun agaknya orang itu telah memilih jalan yang sesat, yang menjual kesaktiannya untuk kepentingan-kepentingan lahirlah. Itulah sebabnya maka muridnya tersebar dari segala penjuru. Ternyata siapa pun yang mampu memberinya imbalan sesuai dengan permintaannya, maka mereka akan dapat menghisap ilmu daripadanya tanpa dihiraukannya akibat. Dan akibatnya, itu pada umumnya adalah sangat tidak baik.

Tetapi dalam pada itu, Mahisa Agni pun segera menghubungkan penempaan diri Kuda Sempana dengan kekalahan yang pernah dialaminya di padukuhannya. Karena itu, maka ia bertanya pula, “Apakah kau kenal dengan Kuda Sempana secara pribadi, Pasik?”

Pasik menggeleng. “Tidak,” jawabnya, “namun aku pernah melihat orangnya Aku pernah mendengar ia bercakap-cakap dengan guruku.”

“Kenapa Kuda Sempana itu berguru pula pada guru Bahu Reksa Kali Elo itu?”

“Aku tidak tahu,” kembali Pasik menggeleng.

“Apakah kau tahu, apa yang mendorongnya sehingga ia dengan tergesa-gesa menempa diri? Apakah memang sudah saatnya ia menerima ilmu itu, ataukah hanya karena Kuda Sempana sudah mempunyai cukup uang untuk berbuat demikian?”

“Mungkin,” sahut Pasik, “namun Kuda Sempana itu juga menyimpan dendam di dalam hatinya.:

Terasa sesuatu berdesir di dada Mahisa Agni. Dan ia pun kemudian mendengar Pasik itu meneruskan, “Kuda Sempana telah mengalami kekecewaan terhadap seorang gadis. Karena itu, ia telah bersiap untuk menebus kekecewaannya.”

“He,” Mahisa Agni terkejut, “dari mana kau tahu?”

Pasik menjadi heran atas tanggapan Mahisa Agni itu. Kemudian katanya, “Apakah tuan, eh, kau kenal Kuda Sempana.”

Mahisa Agni tidak menjawab pertanyaan Pasik, tetapi ia berkata, “Dari mana kau tahu?”

“Aku pernah melihat Kuda Sempana mengatakan itu kepada saudara-saudara seperguruannya, termasuk guruku. Meskipun aku tidak sengaja mendengarkannya.”

Denyut jantung Mahisa Agni pun terasa menjadi semakin cepat mengalir. Nafasnya pun kemudian seakan-akan menjadi semakin cepat mengalir berebut dahulu lewat lubang hidungnya. Dengan terbata-bata ia bertanya, “Apa katanya?”

Pasik menjadi semakin heran. Karena itu ia bertanya, “Kenapa tuan menaruh perhatian yang sangsi besar atas orang itu?”

Sekali lagi Mahisa Agni tidak mendengarkan pertanyaan Pasik. Bahkan ia mendesaknya, “Apa yang dikatakan Kuda Sempana itu?”

Pasik tidak segera menjawab. Namun Mahisa Agni itu pun mendesaknya sekali lagi, “ Apa?”

Pasik tidak dapat berbuat lain daripada menjawab pertanyaan itu, katanya, “Kuda Sempana perah dikecewakan oleh seorang gadis. Katanya, ‘Apabila aku tak dapat memetik bunga itu, maka lebih baik akan aku gugurkan saja daun-daun mahkotanya’.

Darah di dalam tubuh Mahisa Agni serasa mengalir lebih cepat. Kata-kata semacam itu pun pernah didengarnya dahulu dari mulut Kuda Sempana sendiri, meskipun tidak sejelas itu. Tetapi apa yang dikatakan itu adalah benar-benar mencemaskan hatinya.

Pasik yang melihat perubahan wajah Mahisa Agni menjadi semakin heran. Sekali lagi ia mencoba bertanya, “Mahisa Agni, apakah kau mengenal Kuda Sempana?”

“Aku pernah mendengar namanya,” jawab Mahisa Agni.

“Tetapi kau terpengaruh oleh berita yang kau dengar.”

“Setiap orang akan terpengaruh mendengar cerita itu. Bukankah itu akan merupakan pelanggaran atar sendi-sendi pergaulan. Ia akan memaksakan kehendaknya atas seorang gadis, sedang gadis itu tidak menerimanya. Apakah haknya untuk memaksa gadis itu? Apalagi orang tua gadis itu pun sama sekali tak menyetujuinya. Bahkan gadis itu dengan resmi telah dipertunangkan. Bukankah itu suatu perkosaan atas nilai-nilai kemanusiaan?”

Pasik mengerutkan keningnya. Dan tiba-tiba ia berkata, “Mahisa Agni kau pasti mempunyai hubungan dengan Kuda Sempana. Dari mana kau tahu bahwa gadis itu tak menerimanya?”

—–
Pasik tidak dapat berbuat lain daripada menjawab pertanyaan itu, katanya, “Kuda Sempana pernah dikecewakan oleh seorang gadis. Katanya, ‘Apabila aku tak dapat memetik bunga ini maka akan kugugurkan daun-daun mahkotanya’.
—–

“Dari mana kau tahu bahwa ayah gadis itu tak menyetujuinya? Dan dari mana kau tahu bahwa gadis itu telah dipertunangkannya?”

“Oh,” Mahisa Agni terkejut mendengar pertanyaan-pertanyaan itu. Tetapi ia sudah terlanjur mengatakannya. Karena itu maka ia harus menjawabnya. Namun sesaat ia menjadi ragu-ragu. Pasik adalah orang yang jauh dari lingkungan pergaulan mereka, sehingga tak ada perlunya untuk memberitahukannya. Namun mulutnya sudah terlanjur mengucapkannya.

“Mahisa Agni,” bertanya Pasik Tiba-tiba, “apakah kau anak muda yang dipertunangkan dengan gadis itu?”

“Tidak, tidak,” cepat Mahisa Agni menjawab hampir berteriak sehingga Pasik itu pun terkejut. Ibunya yang sedang berada di dapur pun berdiri sesaat menengok ke ruang depan. Tetapi ketika dilihatnya Pasik masih berbaring, dan di sampingnya duduk Mahisa Agni dan ayahnya, maka perempuan itu pun kembali merebus air. Sedang ayahnya yang duduk di samping Pasik itu sama sekali tidak tabu, apakah yang sebenarnya mereka percakapkan.

Bahkan Mahisa Agni sendiri pun terkejut mendengar suaranya sendiri. Namun yang lebih berpengaruh di hatinya adalah pertanyaan Pasik itu. Bukankah ia sendiri bukan laki-laki yang dipertunangkan dengan gadis itu. Bukankah gadis itu telah mempunyai seorang calon suami yang akan dapat melindunginya?

“Persetan dengan gadis itu!” katanya di dalam hati, “Bukankah Ken Dedes menjadi kewajiban Wiraprana.”

Tetapi getar di dalam dada Mahisa Agni pun menjadi semakin cepat. Betapa ia berusaha menekan perasaannya, namun kegelisahannya bahkan menjadi semakin mengganggunya. Meskipun Ken Dedes, gadis yang dikatakan oleh Kuda Sempana itu merupakan duri di dalam hatinya, namun duri itu merupakan sebagian dari seluruh keindahan dari Bunga kaki Gunung Kawi itu. Karena itu, maka jantungnya semakin lama menjadi semakin keras berdentang. Meskipun betapa pedihnya luka-luka yang tergores di hatinya karena tajamnya duri itu, namun ia tidak rela melihat seluruh keindahan Bunga kaki Gunung Kawi itu akan digugurkan.

“Pasik,” tiba-tiba Mahisa Agni itu berkata, “aku akan mohon diri.”

Pasik terkejut. Terkejut sekali sehingga tiba-tiba ia bangkit. Namun kembali terasa dadanya akan pecah, dan dengan lemahnya ia terkulai kembali.

“Jangan bergerak dahulu,” minta Mahisa Agni ketika ia melihat mulut Pasik menyeringai.

“Kenapa kau menjadi sedemikian tergesa-gesa. Apakah kau akan pergi ke tempat Kuda Sempana karena kau mendengar ceritaku?”

Mahisa Agni menggeleng. “Tidak,” jawabnya, “aku akan pergi ke rumah tetua Padukuhan Kajar.

“Oh,” Pasik menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia pun bergumam, “Aku menjadi sangat terkejut. Aku sangka kau akan pergi ke rumah Kuda Sempana. Bukankah dengan demikian kau akan membunuh diri?”

Sekali lagi Mahisa Agni menggeleng. Namun terdengar ia bertanya, “Kenapa membunuh diri? Bukankah Kuda Sempana itu adik seperguruan gurumu?”

“Ya,” jawab Pasik, “tetapi penempaan yang dilakukan oleh gurunya ini merupakan penempaan yang tertinggi. Apakah dengan demikian Kuda Sempana itu tidak akan menjadi lebih dahsyat dari guruku?”

Mahisa Agni itu pun merenung. Namun akhirnya ia mengambil kesimpulan, bahwa guru Kuda Sempana itu pasti tak akan ikut terjun dalam setiap bahaya yang mengancam dirinya. Ia hanya memberikan ilmu untuk sekedar mendapat upah. Kalau upah itu telah diterimanya serta ilmu yang dibeli itu telah diberikannya, maka apapun yang akan dialami oleh muridnya adalah tanggung jawab murid-murid itu sendiri. Guru yang demikian, pasti tidak mau ikut seria melibatkan diri apabila persoalannya akan dapat membahayakan dirinya pula. Karena itu, maka ilmu diberikannya pasti ilmu yang hanya terbatas dalam tataran yang tertentu.

Karena itu, maka menurut perhitungan Mahisa Agni, murid-murid guru Bahu Reksa Kali Elo itu pasti hanya akan mendapat bagian yang sama dari ilmu gurunya itu. Kalau ada perbedaan sedikit-sedikit, maka itu pasti hanya karena kemampuan murid-murid itu sendiri.

Dengan demikian, maka Mahisa Agni itu pun dapat memperhitungkan kemungkinan yang dimiliki oleh Kuda Sempana. Meskipun demikian, Mahisa Agni tidak boleh merendahkan siapa pun. Satu-satunya jalan yang terbaik, ialah mematangkan ilmunya sendiri.

Tetapi Mahisa Agni tidak boleh menunda-nunda waktu lagi. Kuda Sempana setiap saat dapat datang ke Panawijen. Adalah berbahaya sekali apabila gurunya, Empu Purwa masih juga belum pulang, sehingga dengan demikian Kuda Sempana akan dapat berbuat sesuatu yang sama sekali tak disangka-sangkanya. Meskipun demikian, betapapun saktinya Kuda Sempana, namun apakah Kuda Sempana mampu melawan kekuatan seluruh penduduk Panawijen. Sebab apabila terjadi sesuatu dengan Ken Dedes, maka seluruh penduduk Panawijen pasti akan membelanya. Tetapi kalau Kuda Sempana datang berdua atau bertiga saja, apalagi lebih, maka keadaannya pasti akan menyulitkan, sekali.

Maka yang segera harus dilakukan adalah pulang kembali ke Panawijen.

Mahisa Agni itu pun kemudian sekali lagi minta diri ke pada Pasik. Betapa Pasik mencoba mencegahnya, juga ayah ibunya, namun Mahisa Agni yang mencemaskan nasib padukuhannya, ternyata sudah tidak dapat menunda rencananya. Meskipun yang dikatakannya kepada Pasik, Mahisa Agni hanya akan kembali ke rumah tetua padukuhan Kajar, karena ia sudah berjanji untuk segera menyusulnya.

“Ah,” berkata Pasik, “nanti malam pun tak, mengapa. Bukankah kau tidak takut kepada apapun?”

“Terima kasih Pasik. Tetapi orang tua itu nanti terlalu lama menunggu,” sahut Mahisa Agni, “nanti, besok, atau kapan lagi aku akan dapat menengokmu kembali.”

Dan keluarga Pasik itu benar-benar sudah tidak dapat mencegahnya. Dengan ucapan terima kasih yang tak berhingga, maka Mahisa Agni itu pun kemudian dilepas pergi.

Mahisa Agni itu pun kemudian benar-benar singgah di rumah tetua padukuhan Kajar, tetapi hanya untuk minta diri. Kegelisahan yang menghentak-hentak dadanya tak dapat ditunda-tundanya lagi. Seolah-olah selalu didengarnya, kampung halaman di mana ia mendapatkan pendidikan dan keteguhan tabir batin, memanggilnya untuk segera pulang kembali. Orang tua, tetua padukuhan Kajar itu pun mencoba mencegahnya. Mereka mempersilakan Mahisa Agni untuk berada di lingkungan keluarga mereka sehari atau dua liari. Apalagi anak serta menantunya, merasa bahwa Mahisa Ainlah yang telah mengurungkan bencana yang akan menimpa mereka. Bencana yang akan memisahkan mereka suami istri. Namun Mahisa Agni dengan menyesal sekali menolak permintaan itu. Meskipun demikian, supaya orang tua itu tidak terlalu kecewa, maka Mahisa Agni pun menunggu sesaat, sampai nasi jagung yang mereka masak menjadi masak.

“Bawalah Ngger,” berkata orang tua itu, “Angger memerlukan bekal di perjalanan Angger yang tak tentu kapan akan berakhir.”

“Terima kasih Bapa,” jawab Mahisa Agni, “demikianlah pekerjaan seorang perantau. Dan aku senang akan pekerjaan itu.”

Mahisa Agni pun kemudian menerima bekal itu dengan senang hati. Dimasukkannya bekal itu ke dalam bungkusannya yang ditinggalkannya di rumah tetua padukuhan Kajar itu. Kemudian disangkutkannya bungkusan itu di ujung tongkat kayunya.

Kembali kini Mahisa Agni berjalan dengan memanggul bungkusan kecilnya sebagai seorang perantau. Selangkah demi selangkah ia meninggalkan halaman rumah orang tua. Suami istri beserta anak menantunya mengantarkan Mahisa Agni sampai ke regol halaman rumah mereka. Dan kemudian mereka mengawasi langkah perantau yang baik hati itu sampai hilang di tikungan jalan.

Ketika Mahisa Agni sampai di mulut lorong padukuhan Kajar, sekali lagi ia berpaling. Tetapi ia tidak melihat seseorang di belakangnya. jalan itu sepi. Di sebelah tikungan di belakangnya didapatinya rumah tetua padukuhan Kajar. Dan di ujung yang lain didapatinya rumah Pasik. Dua buah rumah yang meninggalkan kenangan di hati Mahisa Agni.

Demikianlah Mahisa Agni menempuh jalan kembali ke Panawijen. jalan yang pernah dilaluinya beberapa waktu yang lampau. Namun kini perjalanan Mahisa Agni seolah-olah jauh lebih cepat daripada saat ia berangkat, ia tidak perlu mencari-cari kemungkinan untuk tidak tersesat. Dengan bekal ingatan serta pengenalannya yang baik, ia segera dapat menemukan kembali jalan yang dahulu dilewatinya. Sehingga perjalanannya kali ini hanya memerlukan waktu separuh dari waktu yang diperlukannya pada saat ia berangkat.

Hutan dan ngarai yang panjang, serta padang rumput yang luas dilewatinya dengan tergesa-gesa. Tenaga Mahisa Agni seakan-akan menjadi jauh lebih besar dari tenaganya semula. Ketangkasannya bergerak serta pernafasannya yang semakin teratur, telah menambah kecepatan perjalanannya. Meskipun demikian, apabila ia bangun di pagi-pagi hari setelah ia bermalam di cabang-cabang pepohonan, sekali-sekali diperlukannya juga memperlancar getaran-getarannya bergerak-gerak di dalam tubuhnya dalam ilmunya Gundala Sasra. Semakin sering ia menerapkan ilmunya, maka getaran-getaran itu semakin cepat mencapai tempat-tempat yang dikehendakinya. Bahkan kemudian seakan-akan Mahisa Agni sudah tidak memerlukan lagi waktu, sejak saat ia menerapkan ilmunya itu, sampai pada penggunaannya. Apabila ia telah menyilangkan tangannya di muka dadanya, sambil memusatkan pikiran serta segenap kekuatan lahir dan batinnya, maka sesaat itu pula, ilmunya telah mapan untuk dilontarkannya lewat, bidang-bidang permukaan tubuhnya yang dikehendakinya. Berkali-kali ia telah mencoba di sepanjang perjalanan itu. Batu-batu padas, batu-batu hitam dan bahkan pepohonan dan binatang-binatang buas yang menyerangnya.

Sesuai tuntunan-tuntunan yang diberikan oleh gurunya, Mahisa Agni selalu dengan tekun mencoba meningkatkan setiap kemampuan dari ilmu Gundala Sasra itu. Di sepanjang jalan dan di setiap kesempatan.

Akhirnya, pada suatu pagi yang cerah, Mahisa Agni telah meninggalkan daerah-daerah hutan yang lebat, dan di mukanya membentang daerah yang subur dan ramai. Mahisa Agni telah menginjak batas jantung pemerintahan Tumapel.

Tiba-tiba saja Mahisa Agni ingin berjalan melewati kota. Sudah beberapa lama ia berada di tengah-tengah hutan yang sepi. Karena itu ia kini ingin melihat tempat-tempat yang agak ramai, meskipun tanpa sesuatu maksud tertentu.

Maka Mahisa Agni itu pun segera membersihkan dirinya di sebuah kali. Ia tidak ingin masuk kota sebagai seorang yang tampaknya terlalu kotor. Dipakainya pakaiannya yang masih terlipat di dalam bungkusannya. Sehingga karena itu, maka Mahisa Agni menjadi agak bersih karenanya, setelah ia tinggal di antara rimbunnya dedaunan di hutan yang lebat, serta bekas-bekas param yang diberikan oleh gurunya untuk mencegah keracunan karena gigitan binatang-binatang serangga beracun. Ketika matahari kemudian menjadi semakin tinggi, setinggi ujung rumah-rumah joglo, maka Mahisa Agni telah masuk ke keramaian kota Tumapel.

Tetapi Tiba-tiba Mahisa Agni terkejut. Dari kejauhan ia melihat seorang anak muda yang gagah dia tas punggung kuda. Semakin lama semakin dekat. Dan hati Mahisa Agni itu pun menjadi ber-debar-debar. Anak muda itu adalah Kuda Sempana.

Ketika kuda itu lewat di sampingnya, Mahisa Agni mencoba melambaikan tangannya sambil tertawa. “Kuda Sempana,” sapanya.

Kuda Sempana menarik kekang kudanya. Dipandangnya wajah Mahisa Agni dengan tajamnya. Tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Namun dari matanya itu memancar sinar dendam yang menyala-nyala meskipun demikian, Mahisa Agni masih mencoba untuk tersenyum. Bahkan kemudian sekali lagi ia menyapa, “Kuda Sempana, akan ke manakah kau sepagi ini?”

“Hem,” Kuda Sempana menggeram. Tetapi ia tidak menjawab. Bahkan tiba-tiba Kuda Sempana itu menggerakkan kendali kudanya, dan sesaat kemudian kuda itu telah berlari kembali di jalan-jalan kota.

Beberapa orang mengawasi Mahisa Agni. Mereka menjadi heran, apakah anak yang berkuda itu bendaranya yang sedang marah kepada budaknya. Sekali-sekali Mahisa Agni berpaling juga, dan dilibatnya wajah-wajah yang memandangnya dengan aneh. Bahkan ada di antaranya yang tersenyum-senyum dan ada pula yang menjadi iba.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Kembali dikenangnya pergaulan di padukuhannya. Pergaulan yang rapat dan jujur di antara sesama. Ia menjadi sangat kecewa terhadap Kuda Sempana. Namun Mahisa Agni ini kemudian menyadarinya, bahwa Kuda Sempana masih sangat marah kepadanya, Ia tidak ingin berprasangka terhadap anak-anak muda dari kota.

Tetapi ketika Mahisa Agni melangkahkan kakinya, untuk meninggalkan tempat itu, Tiba-tiba ia mendengar suara tertawa berderai tidak jauh di belakangnya, kemudian terdengar suara, “Anak yang malang. Agaknya ia bersahabat karib dengan Kuda Sempana, pelayan dalam Akuwu Tumapel itu.”

Mula-mula Mahisa Agni tidak menghiraukan ejekan itu. Sebagai orang yang asing di kota itu, maka Mahisa Agni tak ingin mengalami perselisihan. Karena itu, kembali ia melangkahkan kakinya untuk meninggalkan tempat yang tak menyenangkannya itu.

Tetapi ketika ia baru satu langkah maju, kembali suara tertawa itu terdengar. Bahkan kemudian disusul oleh suara yang lain.

“Kenapa Kuda Sempana itu tak menjawab,” sapanya.

Berkata yang lain, “Bukankah Kuda Sempana juga anak Panawijen seperti anak itu.”

Keduanya tertawa-tawa. Dan terdengar salah seorang berkata pula.

“Kuda Sempana takut kepada anak Buyut padukuhannya yang garang itu. Takut kalau anak muda yang gagah itu minta uang kepadanya.”

Mahisa Agni terkejut mendengar kata-kata mereka. Cepat ia dapat menebak siapakah yang telah sengaja membangkitkan kemarahannya itu. Yang menyangka bahwa dirinya adalah anak Buyut Panawijen yang bernama Wiraprana adalah Mahendra.

Dan sebenarnyalah. Ketika ia berpaling, dilihatnya Mahendra berdiri di tepi jalan di samping saudara seperguruannya. Kebo Ijo.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Kedua anak itu masih tertawa berkepanjangan. Bahkan kemudian Mahendra itu melangkah maju sambil berkata, “Selamat pagi Wiraprana yang perkasa.”

Mahisa Agni menggigit bibirnya. Namun ia mengangguk pula sambil menjawab, “Selamat pagi Mahendra.”

“Apa kerjamu sepagi ini di sini, Wiraprana?” bertanya Mahendra.

“Aku baru datang dari suatu perjalanan Mahendra,” jawab Mahisa Agni, “aku hanya singgah sebentar.”

Mahendra tertawa. Kemudian sambil menunjuk arah Kuda Sempana pergi, anak muda itu berkata, “Kau kenalan anak muda berkuda itu?”

Mahisa Agni mengangguk. “Ya,” jawabnya.

Mahendra masih tertawa, “Tetapi ia tidak kenal kepada mu. Sayang kalau ia segera pergi, aku ingin memperkenalkannya kepada anak Buyut Panawijen. Aku kenal baik kepadanya.”

“Terima kasih,” sahut Agni pendek.

“Barangkali kau memerlukan pekerjaan daripadanya di istana?” ejek Mahendra.

Sekali lagi Mahisa Agni menggigit bibirnya ia menyadari bahwa Mahendra sedang mencoba membangkitkan kemarahannya. Anak itu sedang mencari sebab yang memungkinkan timbulnya pertengkaran. Seperti Kuda Sempana, maka Mahendra pun agaknya mendendamnya.

“Hem,” Mahisa Agni menarik nafas. Tidak disangkanya, bahwa ia akan mempunyai banyak lawan yang tak diharapkannya. Alangkah senangnya apabila hidupnya dipenuhi oleh rasa persahabatan dengan siapa pun juga. Namun ia dihadapkan pada suatu keadaan yang tak dapat disingkirkannya. Baik Kuda Sempana, maupun Mahendra seolah-olah memang dilahirkannya sebagai lawan-lawannya. Meskipun demikian, Mahisa Agni benar-benar tidak ingin berselisih di tengah-tengah kota yang ramai dan asing baginya. Maka katanya, “Sudahlah Mahendra, aku akan meneruskan perjalananku.”

“Ke mana?” bertanya Mahendra dengan nada tinggi.

“Pulang ke Panawijen.”

“Apakah kau sudah mendapat pekerjaan di kota? Menjadi juru pekatik atau apapun? Kalau belum kau dapat ikut aku. Kudaku memerlukan seorang perawat yang baik.”

Terasa dada Mahisa Agni terguncang mendengar ejekan itu. Apalagi kemudian terdengar Kebo Ijo tertawa berkepanjangan. Bahkan tidak saja Kebo Ijo, tetapi juga beberapa pemuda yang lain. Agaknya Mahendra dan Kebo Ijo berada di tempat itu bersama-sama dengan beberapa orang kawan-kawannya.

Sekali lagi Mahisa Agni menarik nafas untuk meredakan gelora di dadanya. Ia mencoba untuk tidak menampakkan perubahan di wajahnya. Bahkan kemudian ia berkata, “Mahendra, sebaiknya kita tidak usah bertemu di tempat ini.”

Mahendra tertawa, katanya, “Kita tidak ketemu di sini Ki Sanak. Aku tadi melihatmu di seberang jembatan. Aku sengaja mengikutimu. Ternyata kau berjumpa dengan Kuda Sempana. Aku kira kau akan minta pekerjaan kepadanya.”

“Tidak Mahendra,” jawab Mahisa Agni, “aku tidak memerlukan pekerjaan.”

Mahendra tertawa semakin keras. Kebo Ijo dan kawan-kawannya pun tertawa pula. Salah seorang dari mereka bertanya, “Siapakah anak itu sebenarnya?”

“Putra Buyut Panawijen. Wiraprana,” jawab Mahendra dengan menekankan setiap suku kata.

Kini Mahisa Agni tidak berkata-kata lagi. Dengan sudut matanya ia melihat beberapa orang muda yang berdiri di belakang Kebo Ijo. “Tujuh orang,” desisnya di dalam hati, “sembilan dengan Mahendra dan Kebo Ijo.”

Dan anak-anak muda itu tertawa berkepanjangan. “Kasihan,” berkata salah seorang daripadanya.

Mahendra yang berdiri paling dekat dengan Mahisa Agni berkata, “Wiraprana, apakah tawaranku kau terima?”

Mahisa Agni menggeram. Jawabnya, “Mahendra, apakah maksudmu sebenarnya? Kau sebenarnya tahu benar, bahwa aku sama sekali tidak sedang mencari Kuda Sempana. Kau tahu betul bahwa sikapmu itu tidak pada tempatnya. Mahendra, apakah kau sengaja memancing persoalan supaya kau mendapat alasan untuk berkelahi?”

Mahendra terdiam. Tampaklah kerut-kerut di wajahnya. Ia tidak menyangka bahwa Mahisa Agni akan berkata langsung menebak maksudnya. Tetapi sesaat kemudian Mahendra itu sudah tertawa lagi. Memang sudah disengaja olehnya, Mahisa Agni yang disangkanya Wiraprana itu, akan dibuatnya marah. Ia ingin sekali lagi mengadu tenaga. Sekarang kawan-kawannya akan menjadi saksi. Setelah beberapa bulan ia mencoba mengembangkan ilmunya, maka apabila ada kesempatan bertemu dengan Mahisa Agni, ia akan menebui kekalahannya.

Karena itu Mahendra menjawab, “Apakah kau marah Wiraprana? Jangan lekas marah. Di Tumapel, jangan kau samakan dengan padukuhan yang sepi Panawijen, meskipun kau di Panawijen menjadi putra tetua padukuhanmu, tetapi kau tidak dapat mengangkat wajahmu di Tumapel. Seorang Buyut pun apabila masuk ke kota ini harus menundukkan wajahnya. Apalagi kau, hanya anak seorang buyut. Kau tidak dapat memperlakukan anak-anak muda di sini seperti anak-anak muda di desamu. Kau, bagi kami di sini sama sekali tidak berarti.”

Mahisa Agni kini sudah pasti, bahwa sebenarnyalah Mahendra sedang memancingnya ke dalam suatu bentrokan. Karena itu, maka untuk yang terakhir kalinya ia mencoba menghindari bentrokan itu apabila mungkin. Jawabnya, “Baik Mahendra. Baik. Aku adalah anak Panawijen. Anak dari pedesaan. Dan aku memang tidak ingin berbuat apapun di sini. Aku hanya akan lewat, seperti anak-anak desa yang lain yang tak pernah mendapat gangguan dari siapa pun apabila ia lewat di jalan kota. Sekarang biarlah aku berlalu.”

Mahendra terkejut mendengar jawaban itu. Sama sekali tak disangkanya bahwa Mahisa Agni itu tidak segera marah mendengar ejekan-ejekan yang telah dilontarkannya. Karena itu sesaat ia menjadi bingung untuk membangkitkan kemarahan anak muda itu.

Ketika Mahendra melihat Mahisa Agni itu memutar tubuhnya dan melangkah pergi, maka dengan tergesa-gesa ia memanggilnya, “Wiraprana. Jangan pergi!”

Wiraprana terhenti. Ketika ia berpaling, dilihatnya Mahendra melangkah maju mendekatinya.

“Jangan pergi!” bentak Mahendra.

“Apakah hakmu melarang aku pergi,” sahut Agni.

Mahendra menjadi bingung. Ketika ia terpaling ke arah kawan-kawannya melihat Kebo Ijo menjadi tegang. beberapa orang kawan-kawannya itu pun sudah tidak tertawa lagi. Bahkan kemudian Kebo Ijo itu berkata, “Jangan biarkan anak itu pergi. Ia telah menghina kita.”

Mahisa Agni terkejut mendengar kata-kata Kebo Ijo. Tetapi sekali lagi ia merasa, bahwa apapun yang dikatakan oleh anak-anak muda itu adalah suatu kesengajaan untuk memancing persoalan. Karena itu Mahisa Agni kemudian tidak melihat lagi kemungkinan untuk meninggalkan daerah itu tanpa timbulnya suatu perselisihan. Maka kini Mahisa Agni sama sekali tidak berusaha untuk menghindar. Ia berdiri saja menunggu apapun yang akan terjadi.

Mahendra yang melihat sikap Mahisa Agni itu pun menjadi marah. Karena itu, maka ia pun tidak ingin melingkar-lingkar lagi. Ternyata Mahisa Agni tidak dapat dipancingnya untuk marah dan mendahuluinya menyerang. Dengan demikian, maka Mahendra tidak dapat menghindari tuduhan, ialah yang mulai apabila timbul perkelahian. Tetapi kini mau tidak mau ia harus mendahuluinya, sebab Mahisa Agni benar-benar dapat menguasai dirinya.

Ketika Mahendra ini sekali lagi berpaling, maka dilihatnya beberapa orang yang lewat, tertarik juga melihat ketegangan yang terjadi. Apabila semula mereka hanya melihat anak-anak muda itu tertawa-tawa, kini mereka melihat sikap-sikap yang keras dan tegang. Karena itu beberapa orang yang melihat mereka itu pun berhenti. Beberapa di antaranya saling mendekat dan berdiri di sekitar anak-anak muda itu. Beberapa orang saling berpandangan dan bertanya sesamanya, “Apakah yang terjadi?”

Mahendra kini melangkah beberapa langkah maju. Dengan wajah yang menyala ia berdiri tegak seperti tonggak di hadapan Mahisa Agni.

Seorang yang telah menjelang setengah abad, menggeleng-gelengkan kepala sambil bergumam, “Anak-anak muda. Kerjanya tak ada lain membuat ribut saja.”

Seorang kawan Kebo Ijo yang mendengar gumam orang tua itu memandang dengan tajamnya. Dan orang tua itu menjadi ketakutan. Sambil merunduk-runduk ia berjalan pergi menjauhi pertengkaran itu.

Anak-anak muda kawan Mahendra itu pun kemudian berdesakan maju di antara beberapa orang yang lain. Seorang yang berkumis tebal mencoba melerai mereka. Katanya, “Apakah yang kalian perselisihkan?”

Kebo Ijo sama sekali tidak senang melihat kehadiran orang itu. Meskipun ia berkumis tebal dan bertubuh tegap, namun dengan sekali dorong orang itu terpental beberapa langkah. Dan seterusnya ia tidak berani mendekat lagi. Hanya perlahan-lahan ia berkata, “Anak-anak muda tak ubahnya seperti kuda-kuda liar yang lepas kendali.”

Mahisa Agni- mendengar beberapa orang yang menyesal atas peristiwa itu. Dan ia pun sebenarnya lebih menyesal dari mereka itu. Tetapi ia dihadapkan pada dua pilihan. Dihinakan atau mempertahankan harga diri.

Dan Mahisa Agni pun ternyata bukan anak dewa-dewa yang lepas dari segala macam kesalahan, kekhilafan dan kebanggaan lahiriah. Sehingga dengan demikian, betapapun yang terjadi, Mahisa Agni tidak mau menjadi permainan anak-anak muda dari kota yang kehilangan pengekangan diri.

Mahendra kini benar-benar sudah sampai ke puncak rencananya. Sekali lagi bertempur dengan anak Panawijen itu. Meskipun ia sudah tidak akan dapat mengharapkan Ken Dedes lagi, namun setidak-tidaknya ia dapat melepaskan sakit hatinya dengan melumpuhkan Mahisa Agni Bahkan menjadikan anak itu cacat atau apapun yang akan membuat anak Panawijen itu menyesal sepanjang hidupnya atas keberaniannya mendesak Mahendra dari arena sayembara pilih.

Dengan senyum yang menyakitkan hati Mahendra itu maju setapak sambil berkata, “Nah, Wiraprana. Apakah kata mu sekarang? Apakah kau masih akan menengadahkan wajahmu? Aku sama sekali sudah melupakan gadis kaki Gunung Kawi itu. Namun aku sama sekali tak dapat melupakan kekalahan yang pernah aku alami. Kekalahan yang tidak adil, hanya karena kakak seperguruanku menganggap aku kalah. Kini kita dihadapkan kepada saksi yang lebih banyak lagi. Apakah kau masih berkata bahwa Mahendra dapat dikalahkan oleh anak pedesaan?”

“Aku sama sekali tidak pernah mempersoalkan tentang kalah dan menang,” jawab Mahisa Agni yang telah mulai kehilangan kesabarannya, “Katakan saja, apakah maksudmu sebenarnya? Menantang aku berkelahi atau apa?”

Dada Mahendra berdesir mendengar ketegasan sikap Mahisa Agni. Namun ia pun harus bersikap setegas itu pula. Maka jawabnya, “Ya. Marilah kini buktikan kebenaran dari keseimbangan di antara kita. Kita akan yakin, sebab kita dihadapkan kepada saksi-saksi.”

Mahisa Agni tidak menjawab. Tetapi ia meletakkan bungkusannya serta tongkat kayunya. Kemudian ia bersiap untuk menghadapi setiap kemungkinan.

Sekali lagi dada Mahendra berdesir. Sikap Mahisa Agni benar-benar meyakinkan, seolah-olah tak ada suatu apapun yang ditakutinya. Sehingga meskipun ia dihadapkan pada suatu keadaan yang pasti tidak disangka-sangkanya, namun ia tidak kehilangan ketenangannya.

Tetapi tiba-tiba terdengar suara Kebo Ijo, “He, Wiraprana. Apakah yang ada di dalam bungkusan mu itu? Ular atau jampi-jampi?”

Kata-kata ini disusul oleh derai suara tertawa dari beberapa orang kawannya.

Alangkah sakit hati Mahisa Agni. Ketika ia melihat Mahendra tertawa pula, maka berkatalah Agni dengan lantangnya, “Ayo Mahendra, apakah yang sebenarnya kau kehendaki?”

Mahendra berhenti tertawa. Dengan tajam ia memandang wajah Mahisa Agni yang telah mulai menjadi kemerah-merahan. Bahkan Mahisa Agni itu kemudian berkata, “Mumpung hari masih pagi. Aku akan segera meneruskan per jalanan.”

“Jangan mengigau!” bentak Mahendra, “Kau sangka kau berhadapan dengan seekor tikus?”

“Aku berhadapan dengan seorang manusia. Karena itu, maka ia pun akan berlaku sopan dan menghargai orang lain.”

Bukan main marahnya Mahendra mendengar sindiran itu. Kini ia sudah siap dengan setiap kemungkinan. Ketika Mahendra itu bergeser setapak ke samping, maka kaki Mahisa Agni pun segera merenggang.

“Hem,” geram Mahendra, “kau yakin akan dirimu Wiraprana. Tetapi sebentar lagi kau akan menyesal.”

“Aku menyesal sejak semula ketika aku sadari, bahwa pertemuan ini tidak bermanfaat sama sekali,” sahut Agni.

“Diam!” bentak Mahendra. Kemudian katanya, “mulutmu setajam bisa ular. Ayo, minta maaf kepadaku.”

Mahisa Agni pun anak muda semuda Mahendra. Karena itu darahnya pun masih hangat-hangat panas. Ketika ia sudah tidak berhasil menahan diri lagi, maka ia pun menjawab, “Aku sudah bersiap untuk mempertahankan harga diriku, bukan untuk menyembahmu.”

Jawaban itu seakan-akan membakar telinga Mahendra. Karena itu tiba-tiba ia berteriak nyaring. Dengan satu loncatan, maka Mahendra menyerang Mahisa Agni dengan dahsyatnya. Tangannya terjulur lurus mengarah dada lawannya. Kecepatan gerak Mahendra benar-benar mengagumkan. Namun Mahisa Agni benar-benar telah bersiap. Karena itu dengan kecepatan yang sama, ia segera mencondongkan tubuhnya sehingga seakan-akan tangan Mahendra yang terjulur itu terhenti beberapa cengkang saja di muka dadanya.

Tetapi Mahendra tidak membiarkan kegagalan itu. cepat ia meloncat sekali lagi. Kali ini kakinya berputar setengah lingkaran pada tumitnya, dan kakinya yang lain menyambar lambung Mahisa Agni. Namun sekali lagi Mahisa Agni dengan lincahnya, meloncat ke samping menghindari kaki lawannya. Bahkan dengan cepat, Mahisa Agni berhasil menyentuh kaki itu dengan telapak tangannya, sehingga Mahendra terdorong selangkah ke samping.

Mahendra terkejut mengalami kegagalan yang berulang itu. Ia merasa seakan-akan ilmunya sudah jauh meningkat sejak beberapa bulan yang lampau. Tetapi ia masih gagal dalam serangannya berganda atas lawannya. Karena itu, maka kemarahannya menjadi semakin menyala. Apalagi kini beberapa orang kawannya menyaksikan perkelahian itu. Sehingga setiap kegagalan yang dialaminya, pasti akan menyebabkan kawan-kawannya itu menjadi kecewa. Mereka menganggap bahwa di antara mereka Mahendra adalah seorang anak muda yang pilih ta ding. Sehingga tidak ada di antara mereka yang berani melawannya.

Mahendra kali ini ingin memamerkan kepada kawan-kawannya. bahwa sebenarnya ia memiliki ilmu yang tak dapat diabaikan. Karena itu, maka sengaja dipancingnya persoalan atas Mahisa Agni itu.

Dengan demikian, maka Mahendra itu pun kemudian menyerang lawannya kembali. Bertubi-tubi seperti angin ribut melanda ujung-ujung pepohonan. Tetapi ternyata lawannya kali ini sangat mengejutkannya. Mahisa Agni mampu bertahan sekokoh batu karang. Betapa angin melandanya, namun ia tetap tegak di tempatnya tanpa tergeser seujung rambut pun.

Namun Mahendra pun kemudian mengerahkan segenap kemampuannya. Tangannya bergerak-gerak dengan tangkasnya, menyambar-nyambar seperti ujung cambuk yang mematuk-matuk. Sepasang tangan itu seakan-akan berubah menjadi sepuluh, bahkan ratusan pasang tangan yang menyambar dari segala arah. Namun Mahisa Agni dapat pula bergerak selincah burung sikatan. Tubuhnya melontar seperti bayangan melingkar, kemudian menyambar seperti burung rajawali. Namun kemudian menyerbu dengan dahsyat, sedahsyat banteng jantan.

Maka perkelahian itu pun semakin lama semakin menjadi sengit. Dan orang-orang pun semakin lama semakin banyak berkerumun di sekitar perkelahian itu. Beberapa orang perempuan berteriak-teriak, dan beberapa orang laki-laki mencoba bertanya-tanya, apakah sebab dari perkelahian itu. Tetapi tak seorang pun yang mendapat jawabnya.

Kawan-kawan Mahendra melihat pertempuran itu dengan tegangnya. Kebo Ijo bahkan ikut meloncat ke sana kemari, seakan-akan ikut terputar bersama gerakan-gerakan mereka yang berkelahi itu.

Di panas yang semakin lama semakin terik, di tepi jalan kota jantung pemerintahan Tumapel itu, terjadi pergulatan yang semakin lama menjadi semakin seru. Beberapa orang yang menyaksikan perkelahian itu mengenal, bahwa salah seorang dari mereka adalah Mahendra, tetapi siapa yang seorang.

Seorang anak muda yang bertubuh tinggi kekar mendesak maju mendekati Kebo Ijo. Digamitnya Kebo Ijo sambil bertanya, “Dengan siapakah Mahendra itu berkelahi?”

Kebo Ijo berpaling. Ketika dilihatnya orang bertubuh tinggi itu, ia terkejut. Tetapi kemudian ia menjawab, “Dengan anak Panawijen. Wiraprana.”

“Apakah sebabnya?”

“Anak itu menghina kami. Anak-anak muda Tumapel.”

“He?” bertanya orang bertubuh kekar itu, “ia menghina kita?”

“Ya.”

“Apa katanya?”

Kebo Ijo tidak segera dapat menjawab pertanyaan itu. Karena ia katanya, “Aku tidak jelas. Mahendra yang mendengarnya, dan karena itu ia marah kepada anak Panawijen itu.”

“Hem,” geram orang yang bertubuh kekar itu, “kenapa lehernya tidak dipatahkannya saja.”

Kebo Ijo sekali lagi berpaling. Ia tersenyum di dalam hati. Orang yang tinggi besar itu adalah seorang prajurit pengawal Akuwu Tumapel. Maka katanya untuk membakar hati prajurit itu, “Kaulah yang berhak memutar lehernya.”

Tetapi prajurit itu mengerutkan keningnya. Kemudian sekali lagi ia menggeram, “Aku tidak bersangkut paut dengannya.”

“Kenapa? Apakah kau tidak terhina pula?”

“Anak itu anak Panawijen seperti Kuda Sempana, pelayan dalam Akuwu. Aku tidak mau berselisih dengan anak muda itu.”

Kebo Ijo tertawa pendek. Katanya, “Kuda Sempana tidak mengenalnya.”

Prajurit pengawal Akuwu Tumapel itu mengerutkan keningnya..”Aneh,” pikirnya. Tetapi ia tidak bertanya. Kini ia memperhatikan perkelahian itu. Mahendra agaknya telah mengerahkan segenap tenaganya, namun ia nama sekali tidak dapat menguasai keadaan. Bahkan kemudian tampaklah kelebihan-kelebihan yang mengagumkan dari lawannya itu. Kelincahan dan ketangguhannya. Bahkan kekuatannya pun melampaui kekuatan Mahendra.

Dan sebenarnyalah Mahisa Agni telah meloncat lebih jauh dari lawannya itu. Meskipun selama ini Mahendra telah berhasil meningkatkan ilmunya, namun kecepatan Mahisa Agni dalam olah kanuragan jauh lebih pesat daripadanya. Sehingga dengan demikian jarak dari keduanya menjadi semakin jauh.

Orang yang tinggi besar itu menjadi heran. Mahendra adalah anak muda yang pilih tanding. Tetapi kini, berhadapan dengan anak yang datang dari pedesaan, agaknya ia mengalami kesulitan-kesulitan.

Prajurit itu menarik nafas. Seorang-seorang ia tidak lebih dan Mahendra. Tetapi bukankah ia prajurit pengawal Akuwu yang mempunyai lingkungan yang cukup banyak. Bahkan di antara mereka, pemimpinnya adalah seorang yang pasti melampaui keunggulan Mahendra, yaitu kakak seperguruannya. Witantra. Maka prajurit itu pun menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia melihat bahwa Mahendra tidak segera dapat mengatasi keadaan, bahkan semakin lama tampaknya semakin terdesak, maka prajurit itu pun segera melangkah pergi, menerobos di antara para penonton yang semakin lama semakin berjejal-jejal.

“Anak itu harus mendapat sedikit pelajaran,” gumamnya sepanjang jalan.

Dengan tergesa-gesa ia pergi ke rumah Witantra. Ia ingin mendapatkan pujian darinya. Namun dengan menyesal ia tidak menemuinya di rumah. Maka, karena itu segera ia pergi ke barak penjagaan prajurit pengawal Akuwu Tumapel. Namun di sana Witantra itu pun tak ditemuinya. Ia takut terlambat karenanya. Sehingga akhirnya ia ingin bertindak sendiri. Dengan beberapa orang kawannya, prajurit yang bertubuh tinggi tegap itu pergi ke tempat Mahendra berkelahi melawan Mahisa Agni.

Sementara itu, pertempuran antara Mahendra dan Mahisa Agni masih berlangsung terus. Mahendra benar-benar telah kehilangan pengamatan diri. Kalau mula-mula ia hanya ingin menunjukkan kemampuannya yang telah bertambah-tambah, serta membuat Mahisa Agni menyesali diri atas keberaniannya bersaing dengan Mahendra, maka kemudian Mahendra telah melupakan segala-galanya. Ia telah sampai pada puncak kemarahannya. Bertempur antara hidup dan mati.

Sedang Mahisa Agni justru bersikap lain. Ketika ia telah dapat menjajaki kekuatan lawannya, maka ia menjadi bertambah tenang. Ternyata ilmunya telah meloncat sedemikian jauhnya, sehingga Mahendra sebenarnya bukanlah lawan yang dapat memancarkan keringat. Kalau kemudian ia bertempur, maka sebenarnya ia tidak lebih daripada melayani lawannya. Hanya sekali-sekali ia memberi tekanan-tekanan yang berat, supaya Mahendra cepat menjadi lelah dan berhenti dengan sendirinya. Tetapi ternyata Mahendra pun mempunyai tenaga yang kuat. Betapa ia terdesak, namun ia masih juga berjuang sekuat tenaganya. Bahkan geraknya masih nampak garang, dan serangan-serangannya tetap berbahaya.

Namun demikian, betapa kecemasan merayapi dadanya. Anak muda itu benar-benar menjadi heran. Apakah Mahisa Agni itu anak gendruwo.? Mahendra yang merasa bahwa ilmunya telah meningkat, namun Mahisa Agni itu masih belum dapat dikalahkan. Bahkan semakin lama tandangnya menjadi semakin mantap dan serangan-serangannya menjadi semakin dahsyat.

Tetapi Mahendra tidak mau menunjukkan kekurangannya di hadapan kawan-kawannya. Ia harus dapat mengalahkan lawannya supaya namanya tetap dikagumi oleh kawan-kawannya itu. Karena itu maka diperasnya tenaganya habis-habisan. Geraknya menjadi semakin cepat, secepat burung seriti menari-nari di udara, selincah anak kijang berkejar-kejaran di padang rumput. Tubuhnya melontar-lontar dengan cepatnya, berputar dan melibat lawannya seperti angin pusaran.

Namun Mahisa Agni sama sekali tidak menjadi bingung karenanya. Dengan tenangnya ia melawan serangan angin pusaran yang melibat dirinya dari segala arah itu. Seperti gunung anakan, ia tegak menghadapi badai yang betapapun kencangnya.

Mahendra semakin lama menjadi semakin cemas. Mahisa Agni benar-benar sekukuh batu karang. Sekali-kali terasa bahwa tenaganya menjadi semakin susut, sedang lawannya masih belum juga mampu dikuasainya. Malahan Mahisa Agni itu sekali-sekali menekannya dan memaksanya untuk meloncat mundur dan mundur.

Kebo Ijo yang mengikuti perkelahian itu dengan seksama menjadi heran. Kakak seperguruannya ternyata telah benar-benar mengerahkan ilmunya. Namun agaknya lawannya itu benar-benar seperti asap yang tak dapat disentuh tangan. Dari perkelahian itu Kebo Ijo pun dapat menilai, bahwa sebenarnya ilmu Mahisa Agni yang disangkanya Wiraprana itu benar-benar melampaui ilmu kakaknya. Karena itu, maka. Kebo Ijo pun menjadi bingung. Ia tidak mau melihat seandainya kakak seperguruannya itu dikalahkan. Tetapi ia tidak dapat terjun membantunya. Apabila demikian, dan kakak seperguruan mereka yang lebih tua, Witantra, mendengarnya, maka akibatnya akan tidak menyenangkan sekali. Namun demikian ia mempunyai satu harapan lagi. Kawannya, prajurit yang bertubuh tinggi kekar, datang kembali bersama kakak seperguruannya itu. Mahendra, dirinya dan beberapa kawannya akan dapat dijadikan saksi, bahwa Mahisa Agni telah menghina mereka. Mudah-mudahan kakaknya mempercayainya dan merasa terhina pula.

Demikianlah perkelahian itu semakin lama semakin nampak, bahwa kekuatan Mahendra menjadi semakin berkurang. Sehingga akhirnya Mahendra menjadi hampir berputus asa, dan bertempur tanpa kendali. Ia menyerang dengan garangnya dan dengan penuh kegelisahan Namun serangan-serangan itu seperti angin yang lewat di antara batu-batu karang yang kokoh kuat. Lewat, tanpa kesan dan tanpa meninggalkan bekas.

Tiba-tiba, beberapa orang yang menonton perkelahian itu terkejut ketika mereka mendengar beberapa bunyi cambuk berledakan di belakang mereka. Ketika mereka berpaling, mereka melihat beberapa orang prajurit pengawal Akuwu berada di sekitar mereka. Karena itu dengan gugupnya mereka berpencaran dan berlarian menjauh.

Seorang yang berperawakan tinggi tegap berdada bidang setegap kawan Kebo Ijo, namun tidak berkumis, segera tampil ke depan. Dengan cambuk di tangan ia berteriak lantang, “Berhenti!”

Mahendra segera meloncat mundur. Dan Mahisa Agni pun tidak mengejarnya, sehingga perkelahian itu pun berhenti.

“Kenapa kalian berkelahi?” bertanya orang yang tinggi besar itu.

Mahisa Agni menjadi berdebar-debar. Persoalan ini akan menjadi semakin berlarut-larut. Ia tergesa-gesa pulang ke Panawijen karena kegelisahannya atas nasib padukuhannya dan nasib Ken Dedes, tetapi tiba-tiba ia akan terpaksa berhenti beberapa lama di Tumapel.

Yang mula-mula menjawab adalah Mahendra. “Bertanyalah kepada mereka yang melihat persoalan ini dari permulaan,” katanya sambil menunjuk Kebo Ijo dan beberapa anak muda yang lain.

Kebo Ijo kemudian melangkah selangkah maju. Meski pun ia belum begitu mengenal prajurit itu, namun ia pernah melihatnya sekali dua kali. Kemudian katanya, “Anak itu menghina kami, Kakang.”

Orang itu mengerutkan alisnya. Kemudian ia bertanya pula, “Apakah yang sudah dilakukan?”

Kebo Ijo berpaling kepada Mahendra. Ia tidak tahu bagaimana menjawab pertanyaan itu. Mahendra pun kemudian mengerutkan keningnya. Setelah berpikir sejenak ia berkata, “Anak Panawijen ini menganggap kami, anak-anak muda Tumapel sebagai anak-anak liar. Apakah demikian keadaan kami?”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa Mahendra akan sampai hati berkata demikian atas dirinya. Ia tidak menyangka bahwa Mahendra dapat melakukan fitnah. Alangkah mengherankan. Dan bahkan hampir tak masuk di akalnya.

Sebenarnya Mahendra sendiri terkejut mendengar kata-katanya itu. Namun ia tidak dapat berbuat lain. Semula sesekali memang tidak terkandung maksud untuk melakukan perbuatan itu, tetapi ia dihadapkan pada peristiwa yang sama sekali tak diperhitungkannya.

Maksudnya mula-mula hanyalah untuk menghinakan Mahisa Agni. Menebus sakit hatinya atas kekalahan yang pernah dialaminya. Namun tanpa diduganya, ternyata ia sama sekali tidak mampu untuk melakukan pembalasan dendam itu. Bahkan sekali lagi ia dikalahkan. Karena itu, ketika ia dihadapkan pada pertanyaan yang tiba-tiba itu, maka dijawabnya tanpa mempertimbangkan baik dan buruknya.

Prajurit itu, yang bertubuh tinggi tegap dan berdada bidang, dengan cemeti di tangannya, mengerutkan keningnya. Dipandangnya Mahisa Agni dari ujung rambut sampai ke ujung hatinya. Kemudian dipandanginya Mahendra dengan tajamnya. Kepada Mahendra prajurit itu pernah melihatnya sekali dua kali. Dan pernah dikenalnya pula namanya.

Suasana di sekitar tempat itu menjadi sepi tegang. Semua mata tertancap kepada prajurit yang memegang cambuk itu. Ketika kakinya bergeser setapak, tiba-tiba saja Mahisa Agni pun menggeser kakinya.

Namun Prajurit itu tidak berbuat apa-apa. Ia menjadi bimbang. Pernah didengarnya nama Mahendra sebagai seorang arak muda yang perkasa. Dikenalnya nama itu sebagai adik seperguruan pemimpinnya.

Tiba-tiba terdengarlah suara prajurit itu parau,” He, anak muda, siapakah namamu?”

Mahisa Agni menjadi ragu-ragu sejenak. Mahendra, Kebo Ijo mengenalnya sebagai Wiraprana, putra Buyut Panawijen.

Karena Mahisa Agni masih belum menjawab, maka prajurit itu membentaknya, “He siapakah namamu?”

“Wiraprana,” jawab Agni gemetar.

Prajurit itu mengerutkan keningnya. Sekali lagi ia berpaling kepada Mahendra, dan sekali lagi ia bertanya, “Apa yang dikatakan tentang kalian?”

Kini Mahendra menjadi ragu-ragu. Ia malu untuk mengurungkan tuduhannya. Namun yang menyahut Kebo Ijo, “Ia menganggap kami, anak-anak muda Tumapel sebagai anak yang liar. Bukankah itu suatu penghinaan?”

Prajurit itu mengangkat alisnya. Dalam waktu y mg singkat ia mampu membuat perhitungan. Mahendra adalah anak yang memiliki ilmu tata bela diri tinggi. Namun sudah lama anak muda dari Panawijen itu tak dapat dikalahkan. Dengan demikian, maka anak mula itu setidak-tidaknya memiliki ilmu setingkat dengan Mahendra.

Jawaban prajurit itu kemudian benar-benar mengejutkan Kebo Ijo dan kawan-kawannya, katanya, “Hem. Aku sangka kata-kata anak muda itu tidak terlalu salah.”

“Apa?” teriak Kebo Ijo, “Kau berkata sebenarnya?”

Prajurit itu mengangguk. Sahutnya, “Aku menganggap bahwa kata-katanya tidak terlalu salah. Anak ini datang dari pedesaan. Apakah kau sangka bahwa ia berani berbuat sesuatu kalau kalian tidak memulainya?”

Wajah Kebo Ijo, Mahendra dan anak-anak muda yang lain menjadi merah padam Sehingga Kebo Ijo kemudian berteriak lantang, “Jadi kau membenarkan binaan itu?”

Prajurit itu menggeleng, katanya, “Aku tidak membenarkan suatu penghinaan dari siapa pun untuk siapa pun. Namun aku ragu-ragu akan kebenaran kata-katamu.”

“Kami menjadi saksi,” sahut salah seorang anak muda kawan Kebo Ijo, “dan kalian dapat bertindak atasnya.”

“Anak ini anak Panawijen,” berkata Prajurit itu, “aku tidak mau berselisih dengan anak-anak Panawijen yang tinggal juga di dalam istana.”

“Kuda Sempana?” sahut Mahendra.

Prajurit itu mengangguk.

“Kuda Sempana tak mengenal anak ini. Baru saja Kuda Sempana lewat berkuda di jalan ini, dan ia memandang anak ini seperti memandang hantu.”

Prajurit itu kini benar-benar mengerutkan dahinya. Sejenak ia berpikir. Dan sekali lagi kata-katanya mengejutkan, “Aku sangka anak-anak pedesaan lebih bersikap jujuur dari kalian. Biarlah aku bertanya kepadanya.”

“Bohong!” sahut Kebo Ijo sambil melangkah maju. Wajahnya yang merah menyala menunjukkan kemarahannya. Sebenarnya Kebo Ijo adalah anak yang berani. Seandainya Mahendra tidak menggamitnya maka prajurit itu pasti sudah ditantangnya berkelahi. Namun meskipun demikian ia masih berkata, “Anak-anak pedesaan adalah anak-anak muda yang licik.”

Tetapi jawab prajurit itu tegas, “Aku adalah anak pedesaan.”

Wajah Kebo Ijo menjadi semakin merah karenanya. Dan karena itu maka justru ia terdiam. Namun terdengar giginya gemeretak menahan kemarahannya yang telah memuncak. Sedang Mahendra pun menjadi marah pula. Diamat-amatinya prajurit itu dengan seksama. Katanya di dalam hati, “Suatu ketika kita akan membuat perhitungan.”

Tetapi Prajurit itu bukan seorang penakut. Karena itu dengan lantang ia bertanya kepada Mahisa Agni, “Wiraprana, apakah kata-kata mereka itu benar?”

Mahisa Agni menggeleng. “Tidak!” sahutnya.

Prajurit itu menarik nafas. Kemudian kepada Mahendra ia berkata, “Kau dengar?”

Dari mata Mahendra telah menyala kemarahan yang tiada taranya. Namun sebelum ia menjawab, maka prajurit kawan Kebo Ijo maju selangkah. Tubuhnya tidak kalah garangnya dengan prajurit yang bercemeti itu. Dengan wajah yang tegang ia berkata lantang, “Aku anak muda Tumapel. Anak-anak muda Tumapel bukan anak-anak muda yang liar.

Prajurit yang bercemeti itu terkejut. Tak disangkanya sama sekali kalau seorang kawannya tiba-tiba telah berbuat demikian. Karena itu ia mencoba membetulkan kata-katanya, “Tidak semua anak-anak muda dari kota Tumapel berbuat demikian. Tetapi apakah kau tidak kenal sebagian dari anak-anak muda ini?”

Prajurit kawan Kebo Ijo itu menjawab, “Aku kenal mereka. Mereka adalah kawan-kawan ku.”

“Nah,” sahut prajurit itu, “kalau demikian kau pasti sudah tahu, apa saja yang sudah mereka lakukan.”

“Mungkin mereka sering melakukan kenakalan-kenakalan anak-anak. Tetapi kami, anak-anak muda dan Tumapel tidak mau dihinakan.”

Prajurit bercemeti itu menggigit bibirnya. Namun kemudian katanya, “Marilah kita lihat, siapakah yang sebenarnya bersalah. Jangan bertanya kepada mereka, dan jangan bertanya kepada anak Panawijen itu.”

“Hanya akan membuang-buang waktu,” sahut prajurit kawan Kebo Ijo, “anak itu harus ditangkap. Biarlah ia tahu, bahwa seseorang tidak boleh melakukan penghinaan.”

Prajurit bercemeti itu menjadi bingung. Ditatapnya beberapa wajah yang ada di sekitarnya. Kemudian katanya berbisik, “Terserahlah kepadamu. Semuanya ini bukan tanggung jawabku. Aku tidak mau ikut serta. Sebab kau sudah berpihak. Kalau aku kemudian berpihak pula, maka kita tidak akan dapat menegakkan peraturan-peraturan yang berlaku. Kita akan ditelan oleh perasaan kita sendiri-sendiri. Dan kita akan melihat kebenaran dari pihak kita masing-masing. Karena itu, aku lebih baik tidak berbuat sesuatu. Supaya kita tidak saling bertengkar sesama kita di hadapan orang banyak.”

Kawannya itu tidak menjawab. Tetapi ia merasa bahwa kawannya yang bercemeti itu segan kepadanya. Karena itu, maka ia pun melangkah maju sambil berkata lantang, “Wiraprana, kau aku tangkap!”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Dilihatnya beberapa orang prajurit yang lain maju pula. Mereka adalah kawan-kawan prajurit yang akan menangkap Agni itu. Sedang prajurit yang bercemeti itu masih berdiri di tempatnya. Tetapi ia kini berdam diri. Dengan penuh kesadaran ia lebih baik tidak ikut campur dalam persoalan ini supaya tidak menimbulkan kesan yang jelek bagi orang-orang yang melihat, bahwa di antara para prajurit itu timbul pendapat yang berbeda-beda tentang masalah yang sama.

Sedang kawan Kebo Ijo itu melihat kemungkinan-kemungkinan yang akan dapat menyenangkannya. Orang itu akan diserahkannya kepada Witantra, kakak seperguruan Mahendra. Pasti orang itu akan memujinya dan seterusnya biarlah Mahendra yang mengatakan, apa yang sudah dilakukan oleh anak Panawijen itu.

Tetapi Mahisa Agni sudah mendapat ketetapan hati. Ketika ia melihat bahwa tidak semua prajurit dengan membabi buta menelan saja pengaduan yang sama sekali tidak benar itu, ia menjadi tenang. Karena itu, maka ia bertekad untuk menurut saja, apa yang akan dilakukan oleh prajurit-prajurit itu. Ketika sekali lagi ia mendengar prajurit itu berkata kepadanya, maka jawab Mahisa Agni, “Baiklah. Aku tidak akan melawan kalian, sebab kalian adalah prajurit-prajurit Tumapel.”

“Jangan banyak mulut,” bentak prajurit kawan Kebo Ijo itu sambil menarik lengan Mahisa Agni. Tetapi prajurit itu terkejut Mahisa Agni itu sama sekali tak dapat digesernya walaupun setapak.

Karena itu maka wajahnya tiba-tiba menjadi merah. “Jangan melawan!” bentaknya.

“Tidak,” sahut Mahisa Agni, “aku tidak akan melawan. Tetapi aku sudah dapat berjalan sendiri.”

“Setan!” desis prajurit itu.

Mahisa Agni itu pun kemudian sama sekali tidak melawan ketika ia dibawa oleh para prajurit itu ke barak mereka

Mahendra, Kebo Ijo dan beberapa orang yang lain ikut pula beramai-ramai di belakang para prajurit itu. Sekali-kali terdengar mereka berteriak-teriak. Kebo Ijo benar-benar tak dapat menguasai luapan perasaannya sehingga kata-katanya semakin lama menjadi semakin kotor. Tetapi sekali-kali Mahendra membentaknya pula, “Kebo Ijo, jangan berteriak-teriak!”

“Biarlah ia jera. Untuk lain kali ia tidak berani menghina kita lagi, Kakang.”

Mahendra mengerutkan keningnya. Namun terasa sesuatu berdesir di dadanya. Dengan tanpa disengaja Kebo Ijo telah memperingatkan akan kesalahannya, sehingga perlahan-lahan ia berdesis, “Apakah benar Wiraprana menghina kita Kebo Ijo?”

Kebo Ijo itu terdiam. Tetapi kebenciannya kepada Mahisa Agni yang disangkanya Wiraprana itu melampaui Mahendra. Sedang Mahendra sendiri tiba-tiba menjadi malu atas perbuatannya. Namun semuanya telah terlanjur. Dan ia kini tinggal mempertahankan ketelanjurannya itu. Sekali ia berdusta, maka ia akan berbuat serupa terus menerus untuk mempertahankan kedustaannya itu.

Iring-iringan itu berjalan semakin lama semakin panjang. Beberapa orang yang melihat mereka bertanya di antara sesama. Anak-anak muda yang lain pun ikut serta di antara kawan-kawannya, sedang mereka yang sebenarnya anak-anak nakal, seakan-akan mendapat suatu permainan. Tetapi sekali-kali prajurit yang bercemeti, yang berjalan di paling belakang, membentak mereka, dan mengusir mereka itu pergi.

Mahendra yang berjalan di belakang prajurit bercemeti itu menundukkan wajahnya. Ia menyesal akan sikapnya. Lebih baik ia menerima kekalahan yang dialaminya daripada menjerumuskan dirinya dalam suatu sikap yang memalukan itu.

“Hem,” Mahendra menarik nafas dalam-dalam. “Sudah terlanjur,” gumamnya berkali-kali.

Tetapi berbeda sekali dengan sikap Kebo Ijo. Bahkan anak itu meloncat ke sana kemari, membisiki kawan-kawannya yang baru saja mereka temui di perjalanan itu. Mereka yang mendengar ceritanya dengan serta-merta tertawa tergelak-gelak. Ada juga di antara mereka yang dengan sengaja bertanya dengan suara keras-keras, supaya Mahisa Agni mendengarnya. Namun mereka itu terdiam apabila mereka mendengar meledaknya cambuk dari prajurit yang bertubuh kekar itu. Bahkan sekali-sekali didorongnya beberapa anak muda sampai jatuh berguling. Namun setiap kali ia hanya dapat menarik nafas dalam-dalam.

Tiba-tiba iring-iringan itu terkejut, ketika mendengar derap kuda berlari. Kemudian muncullah dari tikungan jalan di depan mereka, dua orang berkuda kencang-kencang ke arah iring-iringan itu.

Ketika prajurit kawan Kebo Ijo melihat orang berkuda itu, maka ia pun tersenyum. Kepada Mahisa Agni ia berkata, “Itulah pemimpin kami. Kau akan dihadapkan kepadanya.”

Mahisa Agni pun terkejut melihat orang itu. Ia pernah melihatnya. Meskipun pada waktu itu di dalam gelapnya malam, namun ia masih cukup dapat mengenalnya. Orang itu adalah kakak seperguruan Mahendra.

Demikian kuda itu sampai di hadapan mereka, maka Witantra, penunggang kuda itu, segera menarik kekang kudanya sambil berkata lantang, “Aku dengar, kau bertengkar Mahendra?”

Mahendra mengangguk. Tetapi sebelum ia menyahut, terdengar Kebo Ijo berkata, “Itulah Kakang. Anak Panawijen yang barangkali telah Kakang kenal. Ternyata ia masih merindukan kemenangan yang pernah dilakukan. Ketika ia bertemu dengan Kakang Mahendra, maka dengan serta-merta ia menghinanya. Tetapi ternyata bahwa Kakang Mahendra bukanlah Kakang Mahendra beberapa bulan yang lalu. Untunglah bahwa beberapa orang prajurit sempat melerainya, dan membawa anak itu kepada Kakang. Kalau tidak entahlah, apa yang akan dilakukan oleh Kakang Mahendra atasnya.”

Sekali lagi Mahisa Agni heran mendengar pengaduan itu. Apakah sebabnya maka Kebo Ijo itu sedemikian mendendamnya?

Witantra pun ternyata terkejut sekali melihat Mahisa Agni, sehingga tanpa sesadarnya ia berkata, “Apakah kau Wiraprana?”

Mahisa Agni mengangguk. “Ya,” jawabnya.

Witantra memandangnya dengan kecewa. Sama sekali tak disangkanya bahwa anak Panawijen itu dapat berlaku sombong. Karena itu ia bertanya kepada Mahendra, “Apakah kata-kata adikmu Kebo Ijo itu benar?”

Mahendra ragu-ragu sejenak. Tetapi ia harus menjawab. Karena itu ia tidak dapat berbuat lain, selain menganggukkan kepalanya.

Witantra itu menarik nafas panjang. Mula-mula ia mengagumi Mahisa Agni itu, ketika mereka bertemu untuk pertama kalinya. Namun kini ia menjadi kecewa, kenapa anak itu dapat menyombongkan dirinya. Bahkan kemudian didengarnya seorang anak muda berkata, “Ia tidak saja menghina Kakang Mahendra, tetapi ia menghina kami. Disebutnya anak-anak muda Tumapel sebagai anak-anak yang liar. Karena itu kami marah pula karenanya.”

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Tiba-tiba ia pun berkata lantang, “Bawa ia ke rumahku.”

Mahisa Agni masih mencoba untuk menjelaskan persoalannya. Namun ia tidak mendapat kesempatan lagi. Witantra segera menarik kekang kudanya dan berlari meninggalkan mereka bersama seorang kawannya.

 

Bersambung ke Pelangi 03